Special Wife Sang CEO

Special Wife Sang CEO
Bab 11# Gosip Panas


__ADS_3

Paginya, tubuh Aleta terasa enakan. Mungkin karena selimut hangat yang membalut tubuhnya. Nyaman sekali rasanya. Aleta sangat enggan untuk membuka matanya. Tapi separuh kesadarannya mengingatkan, 'Ada kuliah pagi.'


Terpaksa, mata yang masih mengantuk tersebut, dibuka malas. Belum sadar seratus persen kalau ia berada di dalam pelukan Kelvin.


Satu sampai tiga kedip, mata Aleta berujung membelalak sembari menahan nafas. Wajahnya dan 'Elvan' tinggal beberapa senti lagi maka pasti akan bersentuhan.


"Oh, astaga..." rutuk Aleta dalam hati pada dirinya sendiri saat menyadari ialah yang memeluk Kelvin.


Pelan pelan, Aleta menjauh. Berharap 'Elvan' tidak menciduknya. Bahaya! Bisa bisa, ia akan dituduh mencari kesempatan dalam kesempitan menggoda adik ipar nya sendiri.


Dulu, ketika ikut serta dalam acara camping, teman satu tendanya mengomelinya karena tidurnya seperti kinciran katanya. Ia memprediksi, kalau kali ini pasti dirinyalah yang menempel ke Elvan.


Buru buru, Aleta membersihkan dirinya. Pergi meninggalkan rumah kecil itu tanpa niat membangunkan Elvan.


"Hais, kenapa aku melupakan sarapannya. Kasihan juga kalau dia minum obat tapi belum makan terlebih dahulu." Aleta menepuk jidatnya. Karena tidak ada kesempatan untuk menyiapkan sarapan sendiri, ia hanya membeli di kedai kaki lima yang ada di depan gang.


"Bungkus satu saja." Sebenarnya, ia pun lapar. Tapi uangnya itu menipis. Dirinya memang terbiasa menggabungkan waktu sarapan dan makan siang, biar irit.


Sampai rumah sewa itu lagi, 'Elvan' belum ada tanda-tanda akan terbangun. Aleta yang curiga keadaan pria yang terbaring ini kenapa kenapa, memutuskan untuk mengecek suhu tubuhnya dengan cara menempelkan punggung tangannya ke dahi Kelvin.


"Normal kok."


"Nafasnya juga masih ada."


"Dia pasti hanya kecapean."


Aleta terus bergumam sembari menulis sebuah catatan, 'Sarapan dan jangan lupa minum obat.'


Setelahnya, ia benar-benar pergi dengan hati masih penasaran, kenapa 'Elvan' mendapat luka tembak? Pasti habis melakukan hal hal berbahaya atau serupanya.


Pusing sendiri Aleta memikirkan adik iparnya yang merepotkan.


***


Sampai kampus, para mahasiswa yang ia lewati seakan akan menatapnya dengan cara berbeda sebelumnya. Aleta merasa heran sembari menelisik penampilannya. Ia pikir, baju nya terbalik atau celananya ketempelan sebuah noda. Namun, tidak ada yang aneh kecuali penampilan culunnya yang sudah nyaman melekat padanya.


Ada apa sebenarnya? Kenapa semua orang menatapnya dengan tatapan jijik dan dingin?


"Tidak tahu diri sekali."


"Iya, ya. Padahal, tampang jelek begitu."


"Kasihan Olivia, jadi korban Aleta."


Samar samar, Aleta mendengar percakapan tiga perempuan yang baru ia lewati.


Mendengar nama Olivia, pasti adiknya itu membuat ulah. Masalah apa lagi yang diciptakan Olivia?


Penasaran, Aleta bergegas menghampiri kelas Olivia. Sampai di ambang pintu yang terbuka lebar, ia melihat Olivia dikelilingi beberapa temannya sembari mendengarkan cerita manipulatif adiknya itu.

__ADS_1


"Ya ampun, ada ya anak pembantu seperti Aleta. Kejam sekali, demi menjadi orang kaya dadakan, rela merebut calon suami mu yang merupakan keluarga Jansen yang terkenal kaya tujuh turunan."


Mulut Aleta setengah terbuka, shock. Olivia memang patut dijuluki ratu drama. Jelas jelas, ia ditipu mentah-mentah dan berujung dipaksa menikah dengan Kelvin Jansen atas permintaan Esme - ibunya.


" Lihat wajah ku. Wajah ku bengkak karena disiksa oleh Aleta. Dia mengancam akan membuat kecantikan ku cacat, kalau aku tidak mundur dari pernikahan itu. Dan foto pernikahan ini bukti nyata, Aleta juga menipu Kelvin Jansen dengan cara memakai baju pengantin tertutup bagian wajahnya. Supaya apa? Supaya Tuan muda Jansen tertipu, telah menikahi orang yang salah."


Aleta mengepalkan kedua tangannya, marah. Olivia sudah sangat keterlaluan memfitnahnya begitu keji. Dan pantas saja, ia menjadi tranding topik di kampus, itu karena Olivia direkam live oleh salah satu orang di depan sana. Kekuatan radius online sudah tidak diragukan lagi, sekali posting hal apapun, maka fakta maupun gosip bisa saja mendunia.


Baiklah, Olivia ingin bermain kan? Tunggu saja permainan yang sesungguhnya darinya itu. Cepat atau lambat, Olivia yang punya sikap buruk itu, akan mendapat batunya.


Percuma melabrak Olivia sekarang yang pasti ujung ujungnya semua orang akan menatap nya sebagai orang yang paling salah, karena pandangan semua orang padanya sudah keliru termakan gosip panas palsu yang disebarkan Olivia.


Aleta lebih memutuskan untuk pergi ke kelasnya.


Sekarang, ia tidak mempedulikan tatapan jijik orang orang yang ia lewati. Aleta menebalkan wajah nya seperti tembok.


Sikap cueknya itu semakin membuat orang orang menganggapnya tidak tahu malu. Ada pula teman sekelasnya menjudge dirinya terang terangan sebagai penjilat ulung. Biarkan, ia hanya perlu waktu mengungkapkan fakta sesungguhnya.


Aleta bisa bernafas lega, saat kelas telah usai. Ia tidak ada niat berlama lama di area kampus.


Saat perjalanan menuju toko roti- tempat kerjanya, nada dering ponsel jadulnya membuyarkan lamunannya. Karena belum telat masuk kerja dan juga kebetulan toko rotinya ada di seberang jalan dekat kampusnya, Aleta pun menerima panggilan dari Jinan Zi- sahabatnya yang lagi berjuang menjadi artis besar.


"Aletaaaa...! Kamu benar-benar keterlaluan!"


Aleta meraba raba telinganya yang sakit ulah suara pekik Jinan.


"Kenapa, kamu tanya? Astaga ... kamu tidak berniat membuang sahabat mu kan?"


Aleta berdesis. Ia yakin, kalau Jinan ada di depannya, pasti kepalanya sudah dijitak oleh Jinan.


"Coba jelaskan, gosip atau fakta yang sedang diviralkan oleh Olivia dan teamnya sekarang? Benarkah, kamu sudah menjadi nyonya muda Jansen?" Jinan mencecar nya tak sabaran.


"Antara gosip dan fakta. Aku memang sudah menjadi istri Kelvin Jansen, tapi tidak merebut dia dari Olivia."


"Lusa kerjaanku di luar kota usai. Aku akan pulang menagih penjelasan detailnya. Sebenarnya, aku sekarang deadline mempromosikan film, jadi tahan dulu ya..."


"Iya."


"Eh, tunggu! Masalah gosip itu, apakah butuh bantuan ku?"


Jinan memang selalu baik padanya, tidak pernah memandang bulu. Sudah menjadi artis, tapi sahabatnya itu selalu peduli padanya.


"Tidak, Jinan. Aku akan mengurusnya sendiri."


"Aku percaya padamu. See you."


Panggilan buru buru dimatikan Jinan karena memang sedang sibuk.


Aleta memandang hapenya sejenak. Tiba-tiba, ada pesan yang masuk dari kontak 'Adik Ipar Tersayang.'

__ADS_1


Cih, sejak kapan ia mempunyai kontak Elvan dengan nama terkesan spesial? Pria itu pasti sudah mencuri kesempatan mengotak atik hapenya. Lancang sekali.


Aleta mengedit nama kontak Elvan setelah selesai membaca chat, berisi pesanan makanan Elvan yang menunya mahal mahal bagi dompetnya yang tidak berisi uang banyak.


Bugh...


"Handphone ku!" Aleta terpekik kaget. Dari belakang, punggungnya sengaja ditubruk membuat hape yang akan ia taruh ke kantong celana, jatuh dan injak oleh sepatu mahal yang familiar.


"Ups, sengaja!" Olivia San mencari gara gara lagi. Ia ingin balas dendam terhadap mukanya yang masih bengkak separuh oleh gamparan permainan Elvan. Mau balas dendam ke Elvan? Itu tidak mungkin bagi Olivia, jadi sasarannya adalah Aleta.


"Kamu keterlaluan, Olivia." Aleta sengaja menindih kaki Olivia menggunakan sepatunya, yang masih berada di atas layar hape nya. Melihat kondisi layarnya sudah rusak parah ulah Olivia, Aleta tanpa segan memutar kakinya dengan keras. Hancur sekalian, namun ia sedikit puas karena perlawanan pertama nya sudah membuat Olivia tercengang.


"Sakit! Kamu berani__"


Aleta tidak niat mendengar bacot Olivia. Ia menunduk mengambil hapenya yang sudah rusak, lalu pergi karena takut telat bekerja dan berujung dipecat.


"Menyebalkan...!" Olivia menghentak kakinya karena kesal diabaikan Aleta yang main hengkang begitu saja. "Aww... Injakannya lumayan sakit." Ia meringis karena hentakan kian membuat nya ngilu.


"Loh, kok saya dipecat, Nyonya? Salah saya apa?" Aleta tidak menduga, kedatangannya ke toko, hanya mendapat pemecatan dari bos di depannya sekarang.


"Maaf, Aleta. Sesuai perjanjian awal, aku tidak akan mempekerjakan orang yang mempunyai kasus. Seperti dirimu yang sudah viral buruk sekarang."


Gara gara gosip yang disebarkan Olivia lagi.


"Itu hanya salah paham, Nyonya." Aleta berusaha memohon. Namun sang majikan berkata, 'maaf' pertanda tidak bisa diganggu gugat lagi keputusannya.


Dengan apa boleh buat, Aleta pun pergi dengan wajah yang bersedih. Tempat pundi pundi receh nya sudah membuang nya juga. Ia hanya bisa tersenyum kecut mengejek penderitaannya.


***


"Tuan, Nyonya serta nama Anda sekarang menjadi trending topik di internet." Deli yang sudah pulang dari luar kota, segera melapor tentang apa yang terjadi sekarang ke Kelvin melalui telepon. Asisten itu pun sudah mengetahui penembakan Kelvin, tapi sang bos kekeuh ingin tinggal di kontrakan Aleta untuk sesaat.


"Apakah saya harus bertindak sekarang?" Deli kembali bersuara manakala Kelvin masih diam di balik telepon.


"Biarkan, aku ingin Aleta sendiri yang meminta tolong pada ku." Selesai kalimatnya, Kelvin segera mematikan telepon manakala mendengar derap kaki diluar pintu.


Aleta masuk dengan tangan membawa kantong putih berisi sayur mayur.


"Aku memesan menu lain, kenapa sayuran mentah?" Kelvin langsung protes.


Aleta mendesa* kasar, menahan gejolak kemarahan yang ditahannya di dada sejak tadi. Dengan datar berkata, "Tamu memang raja, namun seharusnya menghargai apa yang Tuan rumah suguhkan. Kalau masih mau protes, sana ke tembok yang tidak punya muka."


"Oh..."


Aaarggh, Aleta ingin sekali mengetuk jidat 'Elvan' yang sekadar meresponnya singkat dan menyebalkan.


"Harus nya, kamu pun menjudgetku atau meninggalkan ku seperti orang-orang diluar sana?" Tidak kuat menahan, Aleta mengeluarkan uneg unegnya. Duduk asal asalan di lantai, hadapan Kelvin berbaring.


"Kakak ipar, apa kamu butuh bantuan ku tentang gosip panas yang lagi viral itu?" Kelvin to the poin. Ia dapat melihat pancaran putus asa Aleta.

__ADS_1


__ADS_2