
Sampai rumah, Aleta terpaksa mencari Kelvin dengan tujuan tertentu. Kebetulan, ada Deli yang baru tiba bersama Elvan alih alih menyupir untuk Tuan aslinya yaitu Kelvin. Timbul kecurigaan Aleta seketika, dengan membatin, "Di mana mana, asisten seharusnya bersama terus dengan majikannya bukan? Tapi, kenapa terus bersama Elvan?"
"Nyonya!" sapa takzim Deli yang sudah berada di depannya. Ada 'Elvan' pun di sisi Deli. Aleta yang berharap melihat Kelvin keluar dari dalam mobil, tidak mempedulikan dua pria di depannya. Pandangannya tidak mau putus ke arah mobil di belakang 'Elvan' dan Deli.
Kelvin menoleh sejenak ke belakang, tepat arah mata Aleta. Lalu bertanya, "Ada orang yang kamu tunggu kedatangannya?"
"Iya," jawab Aleta singkat terkesan malas tanpa niat menatap lawan bicaranya.
"Siapa?"
Deli menyadari nada suara sang bos berubah dingin. Kelvin memang tidak suka di beri jawaban acuh tak acuh, tapi sang bos hobi melakukannya ke orang lain termasuk dirinya dan Aleta juga sepertinya? Memang enak dibalas? Deli membatin, enggan untuk pergi di antara percakapan kedua majikannya.
"Yang jelas laki laki spesial dalam hidup ku."
Aleta kian memancing. Ia sejenak melirik ke wajah 'Elvan' yang menatapnya dingin. Secara spontan, ia mengejek Elvan, "Hai, wajahmu terkesan cemburu. Katakan kalau aku salah menebak?"
__ADS_1
Kian dalam, Kelvin menatap tajam Aleta yang berani bertingkah. Sedikit takut, Aleta pun berdeham, sejurus mengatakan sesungguhnya, "Aku menunggu suamiku! Aleta sengaja menekan kata terakhirnya, biar Elvan sadar posisinya dan berharap berhenti mengganggu apalagi kurang ajar terus.
" Oh..."
Deli menahan senyumnya, Bosnya ini punya rasa cemburu juga. Hal yang lebih membuat Deli tergelitik geli adalah, 'Bosnya mencumburui diri sendiri.'
Kelvin beranjak acuh begitu saja. Kesempatan Aleta berbicara pada Deli menyampaikan maksudnya, "Kelvin ada kan? Tolong sampaikan padanya, aku ingin berbicara hal penting."
Kelvin masih bisa mendengar kalimat Aleta, berbalik tepat Deli meliriknya juga. Segera, Kelvin mengangguk, kode menyetujui keinginan Aleta. Ia penasaran, Aleta ingin membicarakan soal apa pada Kelvin bukan 'Elvan.' Ada untungnya juga, ia masih menyembunyikan identitasnya.
***
"Katakan, ada apa mencari ku?"
Apakah karena Kelvin dan Elvan saudara, sehingga punya kemiripan suara hampir sembilan puluh persen?
__ADS_1
"Kalau cuma mau membuang buang waktu ku, maka keluarlah."
Aleta tersadar dari suara batin nya saat Kelvin mengusirnya. Tidak gampang bertemu dengan Kelvin, ia tidak mau membuang kesempatan. Segera berkata to the point, "Katanya, aku bukan anak dari keluarga San."
Deg...
Pernyataan Aleta membuat Kelvin terkesiap hebat. Tapi, ia terlalu pandai menjaga pergerakannya yang hampir spontan berbalik. Bukan anaknya keluarga San? Kelvin sangat senang kalau memang kenyataannya seperti itu. Tandanya, keputusannya untuk mengecualikan atau menspesialkan Aleta dari dendamnya ke keluarga San sudah tepat dari awal.
"Aku ingin minta tolong padamu. Aku__ aku harap kamu mau membantu ku menyelidikinya?" Aleta sedikit terbata bata. Perasaannya ragu, kalau Kelvin mau begitu saja mengindahkan permintaannya. Masih berharap, Aleta berujung memohon, "Please, aku tidak tahu harus meminta bantuan pada siapa lagi, kecuali padamu."
"Baiklah, aku akan membantu mu, tapi melalui bantuan Elvan."
Hah, Elvan? Aleta menyesal meminta bantuan jika ujung ujungnya harus berurusan dengan 'adik ipar' tahu malu.
Kelvin tersenyum miring, ia tahu pasti Aleta di belakang sana sedang berpikir keras." Keluarlah dan ceritakan masalah mu ke Elvan. Kalau dia menolak, katakan saja ini perintah."
__ADS_1
Aleta tidak puas dengan hasil akhirnya.
"Berurusan dengan Elvan, sama saja gila," gerutu nya pelan.