
"Em Ma, Bagaimana dengan Vika?, apa Elang sudah bisa membawa keluarga nya datang?." Tanya Naira ragu.
"Em, aku hanya takut saja Elang tidak menepati janji nya Ma, kasihan Vika dan Anak nya." Ucap nya lagi sembari memberikan alasan ia bertanya akan hal ini, bukan karena ada maksud lain.
"Sudah Naira, Elang akan datang membawa Keluarga nya datang besok, Menginap lah 1 hari lagi ya." Ucap Bu Amira.
"Em, Aku akan bicarakan dengan suami ku dulu Ma."Balas Naira.
"Iya sayang."
Naira lalu bermaksud untuk menghampiri Bagas yang tengah bicara dengan Ayah nya, Namun Bu Amira menahan nya.
"Naira."
"Em, Iya Ma."
"Ada yang Mama ingin bicara kan dengan kamu." Ucap Bu Amira. Naira menatap Ibu tiri nya itu penuh tanya, melihat keseriusan ibu tiri nya yang tampak sendu.
"Bicara apa Ma, seperti nya serius sekali?." Tanya Naira.
Bu Amira pun menyampaikan Permintaan maaf yang ingin ia ucapkan pada Naira, permintaan maaf karena selama ini Bu Amira telah bersikap buruk pada Naira.
Naira yang mendengar permintaan maaf itu sangat terharu, tak menyangka ia dapat mendengar permintaan maaf dari Ibu tiri nya. itu.
__ADS_1
Naira pun membalas nya dengan baik, kalau ia tak pernah mempermasalahkan sikap Bu Amira pada nya, meski dulu dulu ia tidak nyaman, tapi kini ia sudah memiliki hidup sendiri dan sudah dapat menyikapi nya dengan Dewasa.
"Makasih sayang." Ucap Bu Amira dan berpelukan dengan Vika.
Vika yang baru keluar dari kamar, melihat Pemandangan itu, melihat sang ibu memeluk Naira.
"Jadi Mama sekarang udah berpihak pada Kak Naira?." Ucap nya kesal.
Setelah melepaskan pelukan, Naira melihat Vika sedang melihat ke arah mereka.
"Vika, sini." Panggil Naira.
Vika tersenyum dengan paksa menghampiri Naira dan ibu nya.
Vika menatap ibu nya, Ibu nya memberi tatapan Vika untuk mencoba nya. Vika membuang nafas kesal dengan pelan lalu mengambil 1 untuk ia makan.
Namun beberapa saat kemudian, ia merasa mual dan lansung berlari kembali ke kamar untuk muntah-munrah.
"Ma." Naira khawatir melihat Vika.
"Tidak apa-apa, Ibu hamil memang begitu." Ucap Bu Amira.
Naira lalu berjalan ke kamar Vika untuk menghampiri nya.
__ADS_1
"Vik, Kamu gak apa-apa kan?." Tanya Naira.
"Gak usah peduli sama Aku, gak usah sok peduli." Ucap Vika dengan kesal, sembari masih merasakan mual di dalam toilet.
Naira mendengar itu merasa sedih, ia berusaha untuk baik baik dengan Vika, karena melihat keadaan wanita itu, tapi Vika masih saja keras pada nya.
"Aku ambilkan minum ya." Ucap Naira.
Vika lalu keluar dari kamar mandi dan menatap Naira dengan kesal.
"Kak, aku sudah bilang jangan urusin aku, aku bisa sendiri. lagian kita tidak pernah dekat sejak tinggal bersama, untuk apa sok baik pada ku." Ucap Vika. Naira diam menatap nya, la pikir meladeni Vika saat ini tidak tepat.
"Keluar dari kamar ku kak, jangan buat aku mengusir mu dengan kasar."Ucap Vika dengan datar menahan diri untuk tidak meneriaki Naira.
Naira pun keluar dan tak banyak bicara lagi.
•••
Keesokan hari nya.
Betul saja Elang datang bersama kedua orang tua nya untuk membicarakan tentang lamaran Elang untuk menikahi Vika.
Vika pun duduk dengan anggun di samping Kedua orang tua nya, namun yang menjadi perhatian Elang bukan Vika, melainkan Naira yang duduk di samping Vika.
__ADS_1
Setelah membicarakan tentang pertunangan dan pernikahan Elang dan Vika, semua sepakat untuk melakukan nya secara sederhana, mengingat waktu nya yang terlalu terburu-buru. Namun Bu Amira dan Pak Cipto tidak mempermasalah kan semua nya, mengingat Kini Vika tengah mengandung.