
Melihat Cleo pulang bersama Bagas dan Naira, semua keluarga pun tampak tersenyum, kecuali Bu Citra yang tampak biasa saja. sementara Vika yang tampak tidak senang Cleo kembali.
"Kalian menemukan nya dimana?." Tanya Pak Cipto.
"Di tepi gang sebelah Pa, dia seperti nya tersesat."jawab Naira.
"Cleo, kamu buat semua keluarga khawatir, lain kali kalau mau main harus izin dulu." Ucap Vika pada Cleo.
"Iya Cleo, ucapan Tante Vika itu benar, kalau kamu mau keluar harus izin dulu ya, kalau tidak kamu akan tersesat lagi seperti tadi."Ucap Naira. Cleo mengangguk pelan.
Bu Citra pun tampak berjalan pergi masuk ke kamar, Bagas lalu mengikuti ibu nya untuk berbicara.
Naira menyadari ada yang salah dari suami nya itu.
"Ma, aku mau bicara." ucap Bagas setelah di kamar bersama ibu nya.
"Mama yang bawa Cleo keluar dan meninggalkan nya ya?." Tanya Bagas.
"jangan sembarangan ngomong kamu Bagas, Untuk apa mama melakukan hal itu."Ucap Bu Citra.
"Kalau begitu, tadi mama keluar dari mana?." Tanya Bagas lagi dengan tatapan penuh selidik.
"Mama kan beli barang di warung depan, kamu ini kenapa bela anak itu dan menuduh mama. kalau mama mau membuang nya, untuk apa mama buang dia dekat dekat sini dan mudah di temukan, sekalian saja mama buang keluar kota, kalau mama mau."Ucap Bu Citra kecewa dengan Bagas.
Bagas membuang nafas mencoba menetralkan emosi nya.
__ADS_1
"Maaf sudah menuduh Mama, Aku hanya kesal melihat sikap Mama tadi, jadi aku pikir Mama yang melakukan itu."Ucap Bagas.
"Sudah lah, Mama mau istirahat."Balas Bu Citra agak ketus.
Naira di luar dan mendengar semua yang, kedua jemarinya saling meremas, khawatir menunggu Bagas keluar.
Saat Bagas keluar, Naira lansung menarik nya ke dalam kamar mereka.
"Mas, kenapa mas Bagas ngomong gitu sama Mama."Ucap Naira.
"Pikiran ku kacau Naira, Hanya Mama yang tidak menyukai Cleo, aku pikir Cleo di bawa pergi dari rumah oleh Mama."ucap Bagas.
"Kalau ga ada bukti, jangan sembarangan nuduh mas, ga enak sama mama. jangan sampai kehadiran Cleo membuat mama merasa Mas Bagas berubah dan ga sopan sama Mama."ucap Naira.
"Baik lah, Aku akan lebih hati-hati lagi saat bersikap."Ucap Bagas. Naira tersenyum dan membalas pelukan laki-laki itu.
Ingin Naira menanyakan langsung pada Cleo kenapa ia ada diluar, karena sudah beberapa hari tinggal bersama Naira, tak pernah sekali pun Cleo berani keluar dari pagar rumah. Namun melihat Cleo yang tampak masih kelelahan hingga ia tertidur sejak pulang pun mengulurkan niat Naira saat ini.
•••
Hari pun semakin larut.
Naira yang merasa haus ingin mengambil minum di luar, namun berpapasan dengan Bagas yang masuk ke dalam kamar.
"Mau kemana?." Tanya Bagas.
__ADS_1
"Ambil minum Mas."Balas Naira.
"Berikan pada ku, aku akan mengambilkan nya."Ucap Bagas.
Dengan senang hati Naira menerima tawaran Bagas, karena ia merasa tubuh nya terasa sangat pegal karena banyak aktifitas hari ini.
Saat Bagas berjalan akan ke dapur, ia mendengar suara rintihan kesakitan dari dalam kamar Vika. ia pun lekas menghampiri dan melihat Vika terduduk di lantai kesakitan.
"Vika, kamu kenapa?." Tanya Bagas lekas menghampiri.
"Perut aku tiba-tiba keram mas." Ucap Vika.
Dengan sigap Bagas mengendong Vika untuk ke keranjang tidurnya. Vika dengan kesakitan melingkarkan tangan nya di leher Bagas saat di gendong.
"Aku panggilkan dokter." Ucap Vika.
"Gak usah Mas, aku butuh istirahat saja, Ini sudah biasa terjadi."Ucap Vika.
Bagas mengerutkan kening nya. "Kau nyakin?." Tanya Bagas. Vika mengangguk kecil.
"Makasih mas, Kak Naira beruntung punya suami siaga seperti Mas Bagas."Ucap Vika.
Bagas tak menghiraukan ucapan Vika, ia menolong Vika karena ia masih memiliki nurani, tapi ia tidak melupakan kalau Vika tidak begitu baik dengan istri nya. setelah memastikan Vika baik baik saja, Bagas pun meninggalkan Vika.
Vika tersenyum melihat Bagas pergi, sembari mengelus perut nya dengan lembut.
__ADS_1