
Keesokan pagi nya.
Naira mengetuk pintu Vika namun tidak mendapatkan jawaban, Naira pun mulai cemas setelah Lama tidak ada jawaban dari dalam.
"Ma, Pa...." Panggil Naira khawatir.
"Ada apa Naira?."
"Ma, Kenapa Vika gak buka pintu Naira gedor-gedor sejak tadi." Ucap Naira khawatir. Bu Amira pun ikut khawatir setelah mendengar hal itu.
Bagas mendengar teriakan istri nya pun ikut menghampiri Naira, Mengarahkan Naira untuk memeluk tubuh nya agar Naira tidak terlalu khawatir.
"Kunci cadangan Ma." Kata Cipto.
"Iya Pa, Bibi, Bibi ambil kunci cadangan kamar Vika." Teriak Bu Amira.
Setelah kunci di dapat, Pak Cipto membuka pintu dan tampak Vika terbaring di lantai tak sadarkan diri, bahkan Mulutnya mengeluarkan busa. membuat semua nya tambah khawatir ketika melihat banyak obat di tangan Vika , yang seperti nya mencoba untuk mengakhiri hidup nya.
Dengan Cepat Bagas mengendong Vika untuk di larikan ke rumah sakit. Naira dengan khawatir berjalan di belakang Bagas mengikuti bersama Ayah dan ibu nya.
•••
__ADS_1
Saat Vika tersadar, Ia mendapati diri nya sudah berada di rumah sakit.
"Ma." Panggil Vika lekas di hampiri Bu Amira.
Namun bukan menanyakan kondisi Vika, Bu Amira malah menampakkan pipi Vika, membuat semua orang terkejut. Vika menatap Ibu nya dengan kedua mata berkaca sembari memegangi pipi yang terasa kebas.
"Ma, kenapa mama begitu sama Vika." Naira kesal melihat ibu tiri nya begitu keras pada Vika.
"Tega sekali mencoba membunuh anak tidak berdosa di dalam perut mu itu, Apa yang kau pikirkan Vika?." Marah Bu Amira.
Vika menundukkan pandangan nya. "Kalau telat sedikit kami menemukan mu, mungkin bukan hanya anak mu, tapi kau juga akan ikut mati karena obat obatan yang kamu minum." Ucap Bu Amira lagi.
"apa?, Jadi anak ini masih ada?." Suara bergetar Vika.
"Iya Vika, semua sudah terjadi, sekarang hanya perlu di hadapi, Papa dan mama, Naira akan menemani kamu melewatkan semua ini. jangan pernah melakukan hal ini lagi."Ucap Pak Cipto.
"Maaf semua nya." ucap Vika, lalu tangisan nya pecah seketika. Ia melakukan nya karena merasa anak dalam kandungan nya tidak berarti lagi, dan ia telah memalukan keluarga nya dengan kehamilan di luar nikah, dan bahkan batal nya pernikahan dia dengan Elang.
Beberapa hari di rumah sakit, Vika lebih banyak diam dan mendengar pembicaraan orang-orang.
Hingga Ia Vika pun sudah di izinkan pulang, Bagas mengunakan mobil nya menjemput semua nya untuk pulang.
__ADS_1
"Ma, Pa, Aku dan Mas Bagas harus pulang, Kami akan keluar kota untuk memeriksakan mata mas Bagas." Ucap Naira saat dalam perjalanan.
"Iya sayang, Kalian harus hati-hati, terima kasih Bagas, kamu sudah membantu kami selama ini." Ucap Bu Amira. Bagas tersenyum dan mengangguk.
Vika hanya mendengar dan diam di kursi belakang, Mata nya hanya melihat ke arah Bagas yang menyetir mobil di depan.
Setelah mengantar keluarga Naira, Naira dan Bagas pun pamit pulang, di sepanjang perjalanan, Bagas memegangi tangan Naira dan mencium pundak tangan istri nya berkali-kali saat berhenti di lampu merah.
"Ada apa sih Mas?." Tanya Naira tersenyum.
"Hanya memberimu vitamin agar selalu semangat." Ucap Bagas.
"Vitamin bukan nya biasa disini?." Naira menunjuk ke arah Pipi nya.
"Kau mau?." Tanya Bagas menatap nakal Naira, siap untuk mendekati wajah nya ke Naira dan mencium Naira.
"Ha ha ha, Aku hanya becanda Mas." Naira mengelak untuk di cium.
"Mas Bagas harus fokus menyetir."Kata Naira Lagi.
"Iya, harus fokus menyetir dan sampai di rumah, untuk memberi vitamin tambahan."Ucap Bagas.
__ADS_1
"Mas Bagas nakal."Naira tersipu malu seolah mengerti pikiran suami nya saat ini.