
Bu Amira yang pingsan pun di gotong ke Kamar. Vika dan Naira hanya berdiri sedih melihat pra lelaki membawa Bu Amira ke kamar.
"Istirahat lah di kamar Vika, kau jangan terlalu stres memikirkan semua ini, ingat Anak mu, Aku akan jaga mama."Ucap Naira.
Vika mengangguk kecil lalu berjalan pergi sedih.
•••
Naira lalu duduk di sofa memikirkan Yang terjadi pada keluarga ini. Bagas yang melihat Naira dari jauh, tahu Naira sedang sedih.
"Apa kau ingin pulang saja?." Tanya Bagas.
Naira mengangkat wajah nya melihat Bagas tengah berdiri di hadapan nya saat ini. "Aku ingin temani Papa mas, kalau Mas Bagas saja yang pulang, aku akan disini." Balas Naira.
"Aku akan disini."
"Pulang saja ku bilang Mas." Naira meninggikan suara nya, membuat Bagas yang mendengar dengan wajah kesal masuk ke kamar.
Naira yang tidak sengaja agak berteriak karena emosi nya yang sedang tidak stabil pun menghela nafas sesak di dada, kini ia merasa sangat bersalah karena bersikap begitu dengan Bagas.
Naira lalu masuk ke kamar, menatap Bagas yang duduk di tepi tempat tidur memunggungi nya.
"Mas, Aku minta maaf soal tadi, hatiku sedang kacau mas."Ucap Naira penuh penyesalan.
"Aku tidak apa-apa, aku mengerti, tapi kau harus ingat, apa pun yang kau alami, aku akan di samping mu."Ucap Bagas.
Naira tersenyum.
__ADS_1
Naira lalu berlari kecil dan naik keatas tempat tidur. Memeluk Bagas dari belakang. Bagas pun tersenyum dan mengelus tangan Naira yang melingkar di tubuh nya.
"Papa memang tidak salah memilihkan suami untuk ku."Ucap Naira. Bagas tersenyum menahan tawa tersipu.
•••
Keesokan pagi nya.
Semua berkumpul untuk sarapan bersama, Vika tampak diam menundukkan kepala.
"Vika, kau mau makan apa?, Aku akan ambilkan." Ucap Naira.
"Tidak usah." Balas Vika agak ketus.
Membuat Semua yang ada di meja makan menggelengkan kepala melihat sikap Vika yang tidak pernah berubah.
Vika melihat ibu nya yang kini sudah menyayangi Naira pun tidak begitu senang, Ia pura pura ingin muntah dan menjadikan itu alasan untuk meninggalkan meja makan.
Naira yang khawatir dengan Vika pun menghampiri Vika. Vika masuk ke kamar di ikuti Naira.
"Kenapa sih ikut ikut kak, kakak senang kan, Elang sekarang udah ninggalin aku dan anak ku. Mama juga udah benci sama aku. kakak puas kan." ucap Vika kesal.
"Kamu ngomong apa sih Vika, Aku tidak pernah berfikir senang di atas penderitaan mu." Balas Naira.
"Udah lah, disini gak ada Mama, gak siapa-siapa, gak usah pura-pura peduli."Ucap Vika lagi.
"Dengar ya kak, selama aku gak bahagia, aku juga gak akan biarkan kamu bahagia." Ucap Vika menatap tajam Naira, namun mata nya tampak berkaca-kaca.
__ADS_1
Naira mengelengkan kepala nya, tak menyangka Vika akan mengatakan hal itu.
"Keluar dari kamar ku!." Teriak Vika. hingga membuat suara nya terdengar sampai ke ruangan makan, yang membuat semua bangkit berdiri untuk melihat.
Naira keluar dengan wajah yang sedih dan kecewa.
"Ada apa Naira?."
"Gak aoa-apa Ma, Vika hanya mau waktu sendiri saja."Jawab Naira.
"Dia pasti kasar lagi sama kamu ya?, Anak ini, memang sudah keterlaluan."Ucap Bu Amira. bermaksud masuk ke kamar Vika, namun Naira menahan nya.
"Ma, jangan ma, Kasian dia, dia sedang tertekan, kita sekarang hanya perlu mesupport dia, mama harus tahan emosi mama, kan mama masih sakit."Ucap Naira.
"Iya Ma, biarkan Vika sendiri dulu, dia sedang hamil. biarkan dia lebih tenang baru kita ajak bicara." Ucap Pak Cipto.
•••
Di kamar.
Naira masuk bersama Bagas untuk beristirahat.
"Mas, Maaf ya, Keluarga ku banyak masalah, sejujurnya aku malu mas, harus membuat Mas juga ikut pusing dan khawatir memikirkan ini semua."Ucap Naira.
"Untuk apa malu, Masalah mu Maslah ku juga, Kita akan lewati semua sama-sama." Ucap Bagas.
Naira tersenyum dan memeluk Bagas yang terasa hangat dan nyaman.
__ADS_1