Suami Cicilan

Suami Cicilan
Tercekat


__ADS_3

Erlangga beranjak dari duduknya lalu melangkah mendekat, dimana Yutasha berada. Saat berada tepat di depan gadisnya, Erlangga berjongkok dengan satu lututnya ia tumpukan di lantai.


Apa yang dilakukan oleh Erlangga membuat mereka semua tak percaya. Terutama Karina. Karina tahu, dari kecil sampai Erlangga dewasa, Erlangga tidak pernah melakukan hal semacam itu pada orang lain. Bahkan kepada orang tuanya sendiri, tidak pernah. Ia selalu menjaga wibawanya, meski dalam penyamaran seperti saat ini.


Sementara Darren dan Tanisha hanya tersenyum menanggapi apa yang dilakukan oleh Erlangga. Dapat mereka simpulkan kalau Erlangga benar-benar tertarik dengan gadis yang ada di hadapannya tersebut.


"Yutasha Geraldine, maukah kamu menjadi istriku? Ibu dari anak-anak ku kelak?" tanya Erlangga jujur dari dalam hatinya.


Erlangga benar-benar mau menjadikan Yutasha sebagai pendamping hidupnya. Meskipun jalan yang ia lalui harus mengikuti permainan yang Yutasha mulai. Jangan salahkan Erlangga, jika nanti ia tidak bisa melepas Yutasha sesuai yang terlampir di lembar kertas perjanjian mereka.


Yutasha sedikit malu dengan tindakan yang Erlangga lakukan. Karena posisi mereka yang terbilang romantis, seperti di novel-novel yang Yutasha baca maupun ia tulis sendiri. Bagaikan seorang Ksatria yang meminta seorang Putri untuk menjadi permaisuri nya.


Tidak hayal, terkadang Yutasha memikirkan situasi yang seperti ini dalam halusinasinya. Ada seorang laki-laki yang meminta dirinya untuk menjadi pendamping hidup, melalui hari-hari mereka hingga menua nanti.

__ADS_1


Namun, Yutasha harus segera sadar dari lamunannya. Karena apa yang dilakukan Erlangga sekarang ini, semata-mata untuk meyakinkan perannya di depan keluarga mereka. Seperti itulah pikiran Yutasha terhadap sikap Erlangga sekarang.


Yutasha menatap lekat mata Erlangga dari balik kacamata tebal yang dipakai laki-laki itu. Terlihat jelas binar kebahagian yang terpancar dari mata Erlangga.


Mengangguk! Hanya itulah yang Yutasha lakukan. Ia juga tidak tau harus menjawab seperti apa. Tiba-tiba saja bibirnya terasa kelu, saat akan mengeluarkan suaranya.


Semua anggota kedua keluarga yang melihat jawaban Yutasha, tersenyum lega. Akhirnya sesi Penukaran cincin pun terselesaikan. Kini mereka semua sedang menikmati hidangan makan malam yang disajikan oleh Dina dan Yutasha sendiri.


Yutasha menoleh lalu melempar senyumnya pada Erlangga. Ia enggan untuk menjawab. Karena perasaannya kini sedang berdebat di dalam sana. Antara rasa bersalah dan rasa penyesalan yang menjadi satu.


Bersalah, karena telah membohongi kedua keluarga. Dan menyesal, kenapa dirinya dulu beralasan seperti itu. Hingga melibatkan dua keluarga yang tidak tahu apa-apa. Terutama pada seseorang yang sedari tadi memperhatikannya.


"Kamu kenapa? Sakit?" tanya Erlangga khawatir. "Kok nggak seperti kamu biasanya?" tanyanya lagi karena tidak kunjung mendapat jawaban dari Yutasha.

__ADS_1


Yutasha tersenyum juga menggeleng pada Erlangga. Membuat Erlangga semakin yakin, ada yang disembunyikan oleh Yutasha.


"Apa kamu menyesal? Ingin menyudahinya?" tebak Erlangga tepat sekali.


"Aku tidak tahu, Kak." setelah berdiam cukup lama, akhirnya Yutasha buka suara juga.


"Ya sudah kalau begitu. Aku yang akan mengatakan yang sebenarnya pada mereka." Erlangga kemudian berdehem, ingin menarik perhatian dari semua yang ada disana.


Saat semua menghentikan kegiatan mereka dan beralih menatap Erlangga. Kini perasaan Yutasha yang semakin waspada. Takut bila Erlangga beneran akan membuka rahasia diantar mereka berdua.


"Om, Tante, pa, Mama. Maaf, ada yang mau Erlangga sampaikan. Maaf jika perkataan Erlangga ini akan menyakiti hati kalian dan membuat kalian kecewa pada kami. Sebenarnya, Erlangga dan Yutasha itu ti--" perkataan Erlangga tercekat di tenggorokan, saat ada sesuatu yang menempel di bibirnya.


Jangan lupa, likenya😌

__ADS_1


__ADS_2