Suami Cicilan

Suami Cicilan
Apa Kau Takut?


__ADS_3

Di tempat lain, lebih tepatnya di perusahaan Elajar Corp. Erlangga sedang di buat pusing oleh beberapa pimpinan direksi perusahaannya. Mereka menuntut Erlangga untuk turun jabatan jika tidak segera memenuhi syarat sebagai pemimpin.


Dan syarat yang dibuat oleh pendahulunya terdahulu itu sangatlah konyol menurut Erlangga. Bagaimana bisa, seorang pemimpin di perusahaan besar seperti Elajar Corp, harus mempunyai keturunan dahulu baru bisa memimpin perusahan turun temurun tersebut.


Di balik itu semua, juga ada orang dari keluarganya sendiri yang memang menginginkan Erlangga lengser dari kursinya. Orang itulah yang telah menghasut beberapa petinggi perusahaan untuk mendesak Erlangga.


"Argh!" Erlangga membanting berkas yang dia bawa ke atas meja dengan kencang. "Peraturan konyol macam apa seperti ini!" teriak Erlangga.


Sedang Bagas yang ada di belakangnya hanya bisa diam. Jika sudah begini, Bagas tidak berani untuk bersuara jika tidak ditanya oleh Erlangga.


"Apa yang harus aku lakukan?" Erlangga begitu dibuat kesal oleh peraturan yang keluar dari norma perusahaan. Akan tetapi, dia tidak bisa mengubahnya begitu saja. Karena peraturan itu telah dibuat oleh kakek buyutnya sendiri, sang pendiri Elajar Corp.

__ADS_1


"Kalau begitu, segera buat Nyonya hamil, Tuan." saran Bagas berkata dengan lirih, takut jika Erlangga salah menanggapinya.


Erlangga menatap Bagas dengan tatapan tajam. Lalu mendengus kesal. "Aku sudah berusaha setiap ada kesempatan, Gas. Membuatnya memang gampang dan enak, namun untuk menjadikannya sebuah janin itulah yang sangat susah," kata Erlangga seraya mendudukkan tubuhnya. Membuat Bagas mencibir di dalam hati.


Nggak usah diperjelas kali, Bos. Mentang-mentang baru berbuka puasa. Cibir Bagas yang hanya mampu ia ucapkan di dalam hati, tentunya.


Erlangga juga berharap Yutasha agar segera hamil. Agar hubungan pernikahan mereka terjerat semakin dalam dan bahagia. Dan tidak ada alasan lagi untuk istrinya itu kabur darinya.


Saat suasana hatinya masih mencekam, tiba-tiba saja Erlangga mendapat sebuah pesan dari nomor yang tidak dikenalnya. Wajah Erlangga kembali memerah, saat selesai membaca isi pesan tersebut. Membuat Bagas yang berada di depannya menatapnya tak mengerti.


"Yuta, Gas. Yuta!" ucap Erlangga kemudian berlari keluar dari ruangannya menuju tempat yang diberitahukan oleh orang ading yang mengiriminya pesan.

__ADS_1


Saat mau keluar dari perusahaan, Erlangga berpas-pasan dengan Dika. Saat itu Dika sedang mengajukan proposal untuk kerja sama dengan perusahaan Elajar Corp.


"Ada apa, Ngga?" tanya Dika seketika saat melihat wajah gelisah Erlangga. Serta asisten Erlangga yang juga ikutan panik.


"Istriku, Dik! Dia dalam bahaya!" ucap Erlangga membuat Dika juga merasa khawatir terhadap orang yang disukainya tersebut.


"Ya udah, kalau begitu pakai mobilku saja yang masih di depan." tawar Dika yang diangguki oleh Erlangga.


Kemudian mereka bertiga memutuskan untuk masuk ke dalam mobil Dika. Dengan Bagas yang sebagai sopir. Erlangga memberitahukan alamat yang dikirim oleh orang misterius tadi. Lalu dengan kecepatan penuh dan tidak melanggar lalu lintas, Bagas mengemudikan mobil milik Dika ke tempat tujuan.


Di tempat yang sangat gelap, terlihat Yutasha yang tengah duduk di lantai dengan keadaan kaki dan tangannya diikat, serta mata yang tertutup. Juga terlihat dengan jelas bekas tamparan yang membiru di wajah Yutasha yang cantik itu.

__ADS_1


"Apa kau merasa takut, Yuta?" tanya Hilda dengan angkuhnya. Suara tawa terdengar begitu nyaring di telinga Yutasha.


Jangan lupa like, beri gift dan juga vote ya🙈


__ADS_2