Suami Cicilan

Suami Cicilan
Extra Part. 4


__ADS_3

Erlangga melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Namun, kondisi lalu lintas yang sangat ramai tidak mendukung rencananya agar bisa sampai rumah dengan cepat.


"Shit!" umpat Erlangga seraya tangannya memukul keras stir mobil. Hatinya benar-benar kacau saat ini. Pikirannya hanya tertuju pada satu orang, yaitu Yutasha.


Setelah mendapat kabar dari asisten rumahnya, pikiran Erlangga benar-benar kacau. Takut dengan keselamatan sang istri yang tengah mengandung.


Padahal penjagaan diluar rumah sudah ia perketat. Tapi bagaimana bisa mereka bisa kecolongan seperti ini. Erlangga menyesal karena tidak mendengar peringatan mama-nya agar mereka tetap tinggal di rumah utama Elajar.


Butuh waktu empat puluh lima menit untuk sampai di kediamannya. Dan itu membuat Erlangga sangat frustasi memikirkan bagaiman keadaan istrinya sekarang.


Dua jam yang lalu.

__ADS_1


Pada saat itu Yutasha tengah menyirami tanaman bunga kesayangannya. Dia terlihat begitu gembira karena tidak lama lagi dirinya akan bertemu dengan Arga, kakak seniornya di kampus yang sekarang menjadi temannya.


Arga adalah orang yang selalu membawakan buku catatan matkul di kelas Yutasha. Dia rela meminta bantuan teman Yutasha untuk menyalin matkul tersebut dan diberikan kepada Yutasha.


Setelah kejadian Hilda beberapa bulan yang lalu, Erlangga menyuruh Yutasha untuk mengambil cuti kuliahnya. Awalanya Yutasha menolak karena pasti dia akan jenuh jika tidak melakukan apa-apa, selain tetap menulis pemikiran halusinasinya itu dan dijadikannya ke sebuah novel.


Namun, Erlangga tetap bersikeras dengan larangan nya tersebut. Dan pada saat itulah Arga selalu mendekati Yutasha. Dia selalu memberi Yutasha buku-buku yang membuat perempuan cantik itu agar merasa tidak bosan. Tentu saja itu semua atas persetujuan Erlangga. Karena memang mereka masing memiliki hubungan darah yang sama.


Yutasha menyirami bunganya sembari menunggu kedatangan Arga yang akan membawakan buku catatan lagi padanya. Yutasha sangat antusias menunggu barang itu.


Tidak lama kemudian, ada tukang penjual rujak manis yang lewat di depan rumah mereka. Seketika keinginan untuk memakan makanan yang mengandung asam terlintas di benak Yutasha.

__ADS_1


Tanpa berpikir dua kali, Yutasha langsung keluar dari pagar rumahnya lalu menghampiri penjual rujak manis tersebut.


Awalnya keadaan sekitar ada beberapa pejalan kaki yang lewat. Namun, saya Yutasha menunggu rujaknya selesai dibuatkan, tiba-tiba saja keadaan di sekitar sana menjadi sangat sepi.


Yitasha menoleh ke arah penjaga rumahnya, begitu menoleh ke belakang, mata Yutasha melebar tak percaya. Ada enam penjaga yang berdiri di luar rumah mereka, tentunya dengan gestur tubuh tinggi dan kekar. Namun, mereka semuanya kini tergeletak tak berdaya di atas tanah.


Belum sempat Yutasha sadar akan rasa terkejutnya, tiba-tiba saja ada tangan yang menutup hidungnya dari arah samping. Tidak sampai satu menit, Yutasha tidak bisa melihat apapun dan kemudian matanya menutup.


Sang penjual rujak pun juga sama nasibnya, mereka juga membiusnya sama seperti apa yang mereka lakukan kepada para penjaga rumah Erlangga.


"Semuanya sudah beres Bos!" lapor salah satu di antara tujuh orang yang berpakaian seperti seorang preman.

__ADS_1


Setelah menyelesaikan tugasnya, mereka kemudian membawa Yutasha masuk ke dalam mobil yang sudah mereka siapkan dan membawanya ke tempat yang telah di sepakati.


__ADS_2