
Jantung Erlangga berdegup kencang saat menunggu Yutasha merubah mode panggilannya. Ia tak sabar ingin melihat wajah gadis itu disaat tidur. Rasanya sudah sangat merindukan gadis itu, padahal baru beberapa jam berpisah dengannya.
Yutasha menuruti permintaan Erlangga yang ingin melakukan panggilan video. Tidak merubah posisi tidurnya, Yutasha menekan tombol bergambar kamera tersebut. Sedetik kemudian terlihatlah wajah Erlangga yang menghiasi layar di ponselnya. Tentu saja, kacamata tebal milik Erlangga tetap bertengger di hidung mancung pria itu.
Sementara di tempat Erlangga, seakan jantungnya mau lepas dari tempatnya saat melihat Yutasha di layar ponselnya. Kerap kali Erlangga memalingkan pandangannya ke arah lain, karena suhu tubuhnya tiba-tiba berubah terasa panas.
"Kak Erlan kenapa? Sakit?" tanya Yutasha dengan polosnya. Ia tidak tau saja jika yang membuat Erlangga bersikap seperti itu karena melihat penampilannya saat ini.
"Ah! Itu...," Erlangga semakin salah tingkah. Karena terlihat Yutasha menurunkan bantal gulingnya sehingga Erlangga bisa melihat sedikit aset yang Yutasha miliki.
"Kenapa malah gugup, Kak? Ada apa telpon jam segini?" tanya Yutasha dengan mata yang sayu. Rasa kantuk mulai menyerangnya. Dan itu membuat Yutasha terlihat lebih sexi di mata Erlangga.
Rambut yang acak-acakan, mata yang sayu, bibir yang terlihat menggoda, serta bahu putihnya yang terekspose, dan juga aset Yutasha yang mengintip dari balik kain tipis itu terlihat menantang bagi Erlangga.
Erlangga berusaha mengatur deru nafasnya. Ia tidak ingin Yutasha menilai dirinya sebagai cowok yang me*s*um. Walaupun itu benar adanya ketika Erlangga melihat Yutasha dengan tampilan seperti ini.
"Cantik." ucap Erlangga spontan setelah pikirannya sadar kembali.
__ADS_1
"Maksud Kak Erlan?" Yutasha menyebabkan rambutnya yang berada di depan lehernya ke arah belakang. Dan terlihatlah semakin jelas oleh Erlangga.
Siapa yang tidak terpancing jika disuguhi sesuatu yang menggiurkan di depan mata seperti itu. Pasti mereka akan memangsanya dengan penuh minat. Namun sayang, Erlangga tak dapat melakukan itu karena terhalang oleh layar ponsel.
Erlangga menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya dengan pelan. Ia berusaha mengontrol kinerja otaknya agar normal kembali. Berkali-kali Erlangga mengerjapkan matanya seraya memalingkan pandangannya.
"Yutasha Geraldine," panggil Erlangga dengan lembut. Membuat Yutasha mengeryitkan dahinya.
"Iya Kak?" jawab Yutasha masih belum sadar dengan penampilannya.
"Eh, kenapa memangnya Kak? Aku nggak sedang kedinginan." entah kata seperti apalagi yang harus Erlangga ucapkan untuk menyadarkan Yutasha. Sementara dirinya berjuang mati-matian menahan gejolak di dalam tubuhnya.
"Tapi aku yang kepanasan, Yuta!" ucap Erlangga geram. Jika saja gadis itu berada di dekatnya, ia tidak bisa berjanji untuk tidak ngapa-ngapain.
"Emang AC di kamar Kak Erlan nggak fungsi?" pertanyaan Yutasha membuat Erlangga semakin frustasi.
Entah karena rasa kantuk yang sedang Yutasha tahan, atau memang dia sebenarnya polos alias nggak ngerti. Dan itu semakin membuat Erlangga tersiksa.
__ADS_1
"Yutasha...!" geram Erlangga.
"Mmhh... Apasih Kak? Kalau nggak ada yang mau diomongin ya udah, aku tutup." ucap Yutasha mulai menutup matanya.
"Tunggu!" teriak Erlangga spontan. Lalu dengan cepat mengusap layar ponselnya dengan tiga jari.
"Mmhh..." lenguh Yutasha mulai mempersiapkan diri untuk masuk ke dalam alam mimpi.
"Tutup dulu dada kamu dengan benar, baru tidur. Takutnya bentar lagi aku ke rumahmu dan masuk ke kamarmu," bisik Erlangga menggoda.
Sontak hal itu berhasil membuat Yutasha membelalakkan mata. Seribu persen kesadarannya kembali dan secepat kilat rasa kantuk yang sedari tadi menyerang, kini lenyap sudah.
Di tambah lagi respon Yutasha yang langsung menutup dadanya dengan sebelah tangannya. Serta wajahnya seketika memerah. Merasa sangat malu. Dan hal itu bonus bagi Erlangga. Ia terkekeh seraya mengusap layar ponselnya dengan tiga jari.
"Nggak lucu!" Sungut Yutasha lalu mematikan sambungan video call tersebut.
Jangan lupa like, coment, dan ngasih kopi😂
__ADS_1