
Yutasha menyelesaikan naskahnya tepat pukul satu dini hari. Ia melepaskan kacamata anti radiasi yang selalu Yutasha pakai disaat dirinya berhadapan dengan layar laptopnya. Lalu merenggangkan otot tangannya yang mulai terasa kaku dan pegal. Menggerakkan bahunya dengan memutar-mutar pelan.
Yutasha mendongak keatas, melihat waktu sudah sangat larut. Bahkan bisa dibilang menjelang pagi. Yutasha menutup laptopnya lalu beranjak dari duduknya dan berniat keluar menuju dapur. Karena cacing di perutnya mulai memprotes belum diberi makan.
Saat hendak melangkah menuju pintu, Yutasha sempatkan untuk melihat ponselnya sebentar. Ia mengernyitkan dahinya saat mendapati ada beberapa panggilan tak terjawab dari nomor yang tidak dia kenal. Juga ada sekitar sepuluh pesan yang masuk dari nomor tersebut.
Tidak mau pusing, Yutasha langsung menghapus pesan tersebut tanpa berniat membaca terlebih dahulu. Itulah sifat Yutasha. Terlalu cuek pada hal yang tidak ia anggap penting. Apalagi dia tidak mengenali nomor tersebut. Kalau memang penting, pasti orang itu akan menemui dirinya secara langsung. Begitulah pemahaman Yutasha.
Yutasha melanjutkan niatnya untuk pergi ke dapur. Dan ternyata sang mama sudah menyiapkan makanan untuk Yutasha di atas meja makan. Semua anggota keluarga tahu, jika pintu kamar Yutasha di ketuk satu kali dan tidak mendapat respon, berarti sang empu kamar itu sedang berkutat dengan dunia lain. Yang dimaksud bukan dunia jin dan sekutunya loh, ya!
Yutasha kembali masuk ke kamar lagi setelah membereskan sisa makanan dan mencuci piringnya. Ia menyandarkan badannya di sandaran tempat tidurnya. Tangannya kembali meraih ponsel yang ia taruh di atas meja dekat tempat tidur.
Terdapat dua pesan dari Erlangga dan Yutasha langsung membaca pesan dari tunangannya itu.
πππ ππ§π‘ππ£
__ADS_1
Besok aku jemput pukul sembilan pagi. Kita fitting baju pengantin di butik teman Mama.
Yutasha menggeleng kepala. Padahal tadi Erlangga sudah mengingatkan dirinya. Dan sang calon mertua pun juga sempat menghubungi Yutasha, mengingatkan agar jangan telat. Lalu Yutasha membuka pesan kedua dari Erlangga.
πππ ππ§π‘ππ£
Jangan terlalu begadang. Jaga kesehatan, tidur yang cukup, siapkan diri buat hari pernikahan kita.
"Kenapa jadi dia yang ngebet banget cepet nikah?" Yutasha menggeleng kepala heran. "Sepertinya menikmati banget deh, perannya." lanjut Yutasha tersenyum tipis lalu mengetik pesan balasan untuk Erlangga.
Kak Erlan tenang saja, aku selalu menjaga kesehatan ku. Terimakasih sudah mengingatkan.
Begitulah nama dan pesan dari Yutasha yang muncul di ponsel Erlangga. Erlangga tersenyum, hatinya bersorak gembira karena Yutasha membalas pesannya. Dan hal ini sangatlah langka, mengingat gadis itu juga terlalu cuek bahkan hampir tidak pernah membalas pesannya jika itu tidak penting.
Tidak menunggu lama, Erlangga langsung mendial nomor Yutasha yang diberi nama My Fiance di ponsel milik Erlangga.
__ADS_1
Sedangkan dikamar Yutasha, ia hampir terjingkat saat ponselnya berdering. Saat itu Yutasha baru bersembunyi dibalik selimut hangatnya. Dengan malas ia menjawab panggilan dari Erlangga.
"Hmm...Assalamu'alaikum, Kak," jawab Yutasha adengan suara serak. Dan itu terdengar begitu seksi di telinga Erlangga.
Shit! Kenapa pikiranku mes**um begini? Hanya dengan mendengar suara seraknya. Umpat Erlangga merutuki dirinya sendiri. Lalu menjawab salam dari Yutasha.
"Wa'alaikumsalam. Belum tidur?" tanya Erlangga sedikit basa basi.
"Hmm... Belum. Ada apa Kak?" Yutasha merubah posisinya menjadi miring dan kemudian memeluk bantal guling. Benda yang sangat penting bagi gadis itu saat ia tidur.
"Mana gambarmu?" ucap Erlangga. Ternyata ia telah merubah panggilan suaranya menjadi panggilan video.
"Hah!" Yutasha tidak mengerti lalu beberapa detik kemudian ia merubah panggilannya sesuai perkataan Erlangga.
Yutasha tidak sadar akan apa yang telah ia lakukan. Seperti memasang ikan pada kucing yang tengah kelaparan. Karena dirinya kini hanya mengenakan pakaian yang sangat tipis, dengan tali kecil di sisi bahunya. Serta ia selalu menanggalkan pembungkus Squishy saat mau tidur.
__ADS_1
Siapkan mata dan mentalmu, mas Erlanπ€£