Suami Cicilan

Suami Cicilan
Nomor Asing


__ADS_3

"Dimana? Apa saja yang dia sentuh?" Erlangga bertanya dengan suara yang datar. Lalu tersenyum miring saat melihat Yutasha mengangkat tangannya.


"Di bagian mana dia menyentuhmu?" tanya Erlangga sekali lagi saat melihat keraguan Yutasha.


Yutasha menarik nafasnya dalam-dalam, lalu menghembuskan dengan pelan. Daripada merasa bersalah terus menerus. Ia lebih memilih jujur pada Erlangga. Kemudian jemarinya menyentuh bibirnya yang begitu menggoda di mata Erlangga.


Erlangga tersenyum penuh kemenangan saat Yutasha menyentuh bibir yang seperti heroin baginya. Selalu ingin menyesap nya, lagi dan lagi. Tentu saja senyuman itu tanpa diketahui oleh Yutasha.


Erlangga mendekat ke tempat Yutasha berdiri, lebih dekat lagi. Ia memperhatikan setiap inci wajah Yutasha yang terlihat semakin cantik saat gadis itu merasa gugup.


"Hanya di sini?" tunjuk Erlangga ke bibir Yutasha. Yutasha pun mengangguk sebagai jawaban. "Coba aku lihat!" Dan Erlangga mulai mengeluarkan alibinya.


Erlangga mendekatkan wajahnya pada wajah Yutasha. Membuat Yutasha merasa udara di sekelilingnya terasa panas. Padahal matahari pun sudah bersembunyi di tempatnya.


"Kak Erlan mau ngapain?" tanya Yutasha saat Erlangga lebih dekat lagi padanya. Bahkan jarak diantara wajah mereka hanya lima centimeter.

__ADS_1


"Mau menghapus jejak si Angga." ucap Erlangga dengan tak tahu malu. Padahal mau Angga ataupun Erlangga, adalah orang yang sama.


Erlangga semakin mengikis jarak diantara mereka. Bahkan saat ini tangannya menarik pinggang Yutasha agar lebih menempel padanya. Dan saat Erlangga memajukan bibirnya, Tiba-tiba terdengar suara deheman dari dalam.


"Khem...!" terdengar suara deheman dari dalam. Dan ternyata itu suara dari mamanya Yutasha, Dina. Sontak membuat mereka segera melepas diri.


Dapat Dina lihat wajah putrinya yang sangat panik karena ketahuan sedang berdekatan dengan Erlangga. Sementara Erlangga memasang sikap yang biasa saja, namun sedikit kikuk.


"Malam, Tante." sapa Erlangga dengan sopan. Dan Dina tersenyum ke pemuda yang baru saja ingin mengambil keuntungan dari putrinya.


Yutasha merasa sangat malu. Lalu ia berpamitan masuk lebih dulu. Sebelumnya sudah mengucapkan terimakasih pada Erlangga karena sudah mengantarnya pulang.


Dina terkekeh melihat sikap sang putri. Lalu beralih menatap Erlangga.


"Kalau begitu saya pamit dulu, Tan." pamit Erlangga kemudian meraih pergelangan tangan Dina dan diciumnya punggung tangan wanita paruh baya tersebut.

__ADS_1


"Halalin dulu, baru boleh dirasa." bisik Dina tepat saat Yutasha sudah masuk ke dalam rumah.


Erlangga merasa tersentil oleh bisikan sang calon mertua. Singkat dan tepat sasaran.


Setelah Erlangga pulang, Yutasha baru benar-benar masuk ke dalam kamarnya. Ia menaruh barang-barangnya di meja belajar yang tersedia di dalam kamarnya.


Kemudian Yutasha melepas semua pakaiannya dan ditaruh ke tempat pakaian kotor yang terletak di depan kamar mandi. Lalu melangkah masuk ke dalam kamar mandi dengan keadaan sudah polos. Itulah kebiasaan Yutasha yang belum bisa dirubahnya.


Selang beberapa menit, Yutasha keluar kemudian memakai baju rumahan. Sebelum turun untuk makan malam, Yutasha sempatkan untuk mengetik naskah novelnya yang belum kelar.


"Harus segera di kelarin ini. Apalagi sebentar lagi pasti sibuk dengan acara nikahan. Mana kurang dua hari, lagi." desah Yutasha. Tidak mungkin ia akan sanggup untuk segera mengakhiri cerita di novelnya tersebut. Namun, ia tak mau patah semangat sebelum mencobanya terlebih dahulu.


Yutasha begitu larut dalam dunia halusinasinya. Sampai-sampai ia tidak menghiraukan bunyi nada dering di ponselnya yang berbunyi berkali-kali. Terlihat di layar ponsel milik Yutasha hanya nomor saja yang sedari tadi memanggil gadis yang berada di dunia lain tersebut. Dan ternyata, ada lima belas panggilan dari nomor asing itu.


Jangan kangen akoh🤧😌

__ADS_1


__ADS_2