
"Baby kita, Beib. Massa kamu lupa? Padahal baru tadi pagi aku kunjungi loh! Dan dia juga ikut bersemangat." jawab lelaki asing itu seraya tangannya mengusap memutar di bagian perut Yutasha.
Sontak ucapan lelaki asing itu mengejutkan semua orang. Karena mereka hidup di negara plus enam dua, yang masyarakatnya akan mengunggah apapun itu ke sosial media.
Tidak memerlukan waktu yang lama, atau menunggu sebuah intruksi dari sang ketua. Mereka sudah mengangkat ponsel mereka, memfoto serta merekam kejadian itu dan di unggah ke sosial media masing-masing. Bahkan ada yang live secara langsung.
Sedangkan Juno merasa geram dengan ucapan lelaki yang baru datang itu. Apalagi seenaknya mencium Yutasha di depan dirinya. Tangan Juno terkepal terangkat keatas ingin melayangkan sebuah pukulan pada lelaki asing itu.
Namun hal itu Juno urungkan tatkala mendengar suara jepretan dari kamera mahasiswa yang berada di sana. Dengan kesal ia mengarahkan pukulan itu ke udara. Lalu membalikkan badannya melangkah menuju mobil yang tak jauh dari dirinya berdiri. Dengan cepat, mobil Juno meninggalkan mereka.
Sementara Erlangga segera menutupi Yutasha dengan tubuhnya, agar Yutasha tidak tertangkap oleh kamera. Walaupun sudah tertangkap, Erlangga tidak akan membiarkan foto maupun video tentang mereka tidak akan beredar.
"Lepasin aku!" sarkas Yutasha. "Dan terimakasih sudah menolongku." ketus nya lagi.
__ADS_1
Sikap Yutasha bukan tanpa alasan. Bukan pula ia tidak tahu cara berterimakasih yang benar. Yutasha bersikap ketus seperti itu karena lelaki itu pantas mendapatkannya.
Yutasha sebenarnya ingin marah pada lelaki itu, saat dengan enaknya lelaki itu mengecup bibirnya. Serta mengatakan bahwa dirinya sedang hamil. Apa kata semua orang yang ada di kampus ini? Sementara dirinya tidak melakukan itu.
Memang tadi Yutasha sangat membutuhkan bantuan seseorang, namun orang itu tak kunjung datang. Dan ia sangat menyesal telah menghubungi Erlangga, setelah ia diamkan beberapa saat.
"Kamu mau kemana?" tanya Erlangga versi tampan yang tak ketulungan saat melihat Yutasha menjauh dari mobilnya.
"Bukan urusan ANDA!" Yutasha menekankan katanya.
Dengan gerakan cepat, Erlangga menarik tubuh Yutasha hingga berbalik dan dia jatuh ke dalam pelukannya.
"Tenangkan dulu emosimu." Erlangga berucap dengan lembut. Ia mengusap-ngusap punggung Yutasha di sela pelukannya.
__ADS_1
Yutasha memberontak dalam pelukan Erlangga. Ia mencoba melepas diri namun hal itu sia-sia saja. Karena Erlangga semakin mengeratkan pelukannya.
"Tarik nafas yang dalam... Lalu hembuskan dari mulut," Erlangga memberi intruksi pada Yutasha agar emosinya mereda. Namun malah sebaliknya.
"Bagaimana saya bisa bernafas jika anda terlalu erat memeluk saya!" teriak Yutasha. Ia sudah tidak memikirkan tata krama lagi. "Dan kenapa Anda melakukan hal itu pada Saya? Kita tidak saling kenal!" Yutasha berteriak. Karena hati dan pikirannya sudah dipenuhi oleh kebencian terhadap Erlangga versi tampan.
"Tapi aku mengenalmu, Yutasha Geraldine." kisah Erlangga. Tangan Erlangga mencoba meraih kembali pergelangan tangan Yutasha. Namun, dengan gerakan cepat Yutasha menampik tangan Erlangga.
"Lantas hal itu tidak bisa membenarkan tindakan Anda seperti itu terhadap Saya!" dada Yutasha naik turun seiring ia bernafas kasar. "Apa Anda berpikiran bahwa Saya gadis tidak baik. Bisa di cium serta dipeluk kapanpun dan oleh siapapun?" gertak Yutasha. Beginilah sikap Yutasha jika dia dalam keadaan sangat marah.
Erlangga menarik tangannya kembali. Mengurungkan niatnya untuk meraih Yutasha saat ia melihat ada genangan air di sudut mata Yutasha.
"Apa kau tidak mengenaliku?" tanya Erlangga menatap lekat mata Yutasha.
__ADS_1
Ingin sekali Erlangga mengecup mata Yutasha, agar mengurungkan niatnya untuk meloloskan air mata tersebut.
Jangan lupa like nya