
"Hil... bagaimana ini? Aku gugup banget." tampak Yutasha mondar mandir di depan Hilda dengan menggunakan kebaya berwarna putih.
Rambut di sanggul serta Cunduk Mentul yang tertancap dengan berjejer rapi. Serta riasan alis berbentuk Menjangan. Riasan seperti itu biasa disebut menggunakan riasan Paes Ageng. Riasan pengantin khas Jawa. Mengingat keluarga Yutasha berasal dari Jawa Timur.
Meskipun ini jaman modern, Yutasha tak berminat menggunakan adat ala-ala pengantin orang barat. Yutasha lebih menyukai adat di negaranya sendiri. Namun begitu, ia terlihat lebih anggun nan mempesona. Dengan olesan lipstik yang berwarna merah menyala, perona pipi yang terlihat begitu menggemaskan, serta bulu mata yang melengkung cetar membahana. Membuat Yutasha begitu sempurna malam ini.
"Iihhh... Kamu tenang dulu, Yuta." cegah Hilda menahan tangan Yutasha agar berhenti mondar mandir. "Kamu membuatku pusing, tau!" Hilda menahan Yutasha agar duduk di kursi depannya.
"Aku gugup, Hil. Aku nggak nyangka akan segugup ini menghadapi ijab qobul." Yutasha meremas jari jemarinya untuk menghilangkan rasa gugupnya.
"Iya, aku tau. Mending kamu duduk, diem, tarik nafas, yaa...begitu. Lalu hembuskan dengan pelan," Hilda menginterupsi Yutasha agar mengikuti arahannya.
Setelah melakukan arahan Hilda, Yutasha merasa sedikit rileks. Tidak seperti sebelumnya. Saat Yutasha mengulangi kegiatan itu, berharap rasa gugupnya benar-benar pergi, Tiba-tiba saja terdengar nada panggilan di ponsel Yutasha.
Yutasha meraih ponselnya, senyumnya terukir dan rasa gugup itu kembali menyelimuti nya saat nama Erlangga tertera di layar ponselnya. Dengan perlahan, Yutasha menggeser tombol berwarna hijau ke arah kanan. Lalu menempelkan ponselnya di telinga sebelah kanan.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum," dengan nada yang lembut Yutasha menjawab panggilan dari Erlangga.
"Wa'alaikumsalam, Istriku." sahut Erlangga. Membuat pipi Yutasha merah merona tersipu malu. Jantungnya berdegup lebih kencang dari biasa.
"Iisshh apaan sih, Kak." protes Yutasha sedikit gugup.
"Haha kan bentar lagi kamu beneran jadi istriku. Boleh dong, latihan dari sekarang," goda Erlangga yang semakin membuat Yutasha tersipu karena malu. Tanpa sadar, Yutasha menunduk serta meremas kain bawahan yang bercorak batik tersebut.
Hilda yang melihat ekspresi Yutsaha yang seperti Abegeh baru jatuh cinta itu, menggeleng kepala. Eh, emang Yutasha baru merasakan apa itu cinta. Jadi ekspresi seperti itu wajar Yutasha tampilkan.
"Apasih!" kesal Yutasha memukul lengan Hilda. Dan di sambut kekehan dari Hilda.
Erlangga yang mendengar itu merasa sangat senang. Merasa langkahnya tinggal sedikit lagi untuk memiliki hati Yutasha, pikirnya.
"Kamu gugup karena pernikahan kita, atau...," dengan sengaja Erlangga menjeda perkataannya.
__ADS_1
"Atau apa, Kak? Jangan dengarkan omongan Hilda. Aku biasa saja kok," Yutasha berkilah sembari melotot pada Hilda.
"Atau...gugup tentang malam pertama kita?" goda Erlangga lagi. Dan itu berhasil membuat permukaan wajah Yutasha memanas.
Bisa Erlangga bayangkan akan seperti apa wajah Yutasha. Pasti sangatlah menggemaskan jika dia bisa melihatnya langsung. Dan hal itu sangatlah Erlangga sukai.
"Kakak ingat perjanjian kita, kan?" Yutasha menggigit bibirnya bagian bawah. Ia tak sanggup membayangkan jika hal itu beneran terjadi.
"Haha iya, iya... Aku tau! Aku hanya menggodamu saja. Sangatlah menyenangkan membuat wajahmu merona karena malu." Erlangga terkekeh tiada henti. Dan Yutasha memasang wajah cemberut meskipun Erlangga tidak bisa melihatnya.
"Bikin takut saja." ucap Yutasha kesal.
"Ya sudah, aku tutup dulu. Aku baru sampai di depan rumahmu. Sampai ketemu nanti setelah ijab qobul aku ucapkan, istriku. Doakan agar suamimu ini lancar saat mengucapkannya. Assalamu'alaikum, Sayang." pamit Erlangga kemudian mengakhiri panggilan nya tanpa mendengar jawaban dari Yutasha.
"Apasih!" Yutasha memegang pipinya yang terasa panas karena ucapan dari Erlangga.
__ADS_1
Jangan lupa like nya😘