Suami Cicilan

Suami Cicilan
Ternoda


__ADS_3

"Maaf," lirih Yutasha saat mereka sudah menaiki motor butut Erlangga.


Erlangga mengernyitkan dahinya. Ia tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Yutasha. Erlangga tetap melajukan motornya menuju sebuah masjid. Karena tidak mungkin ia membawa Yutasha langsung pulang. Waktu maghrib keburu habis.


Setelah melakukan kewajiban sebagai umat muslim. Mereka melanjutkan perjalanan mereka. Namun, Erlangga menghentikan langkah Yutasha saat mereka sudah sampai di rumah Yutasha.


"Minta maaf untuk apa tadi? Aku mendengarmu mengucapkan itu." Erlangga mencekal tangan Yutasha dengan lembut saat gadis itu ingin masuk ke dalam rumah.


Yutasha tak langsung menjawab. Merasa takut sekaligus malu terhadap Erlangga. Karena ia tidak bisa menjaga dirinya dengan baik, disaat sudah terikat dengan orang lain. Meski menurutnya itu sebuah ikatan palsu.


"Mmm...maaf, kak," ucap Yutasha sekali lagi. Membuat Erlangga semakin bingung.


"Maaf untuk apa, Yuta? Tolong jelaskan!" desak Erlangga.


"Maaf, karena aku tidak bisa menjaga diriku terhadap orang lain," ucap Yutasha menunduk. Meski begitu, jika Erlangga marah pun kepadanya, ia memang pantas menerima itu.


"Maksud kamu?" tanya Erlangga belum mengerti arah pembicaraan mereka.


Erlangga memicingkan matanya saat Yutasha meremas ujung bajunya. Erlangga tahu, jika Yutasha bersikap seperti itu berarti dia sedang merasa gugup.

__ADS_1


Dengan pelan, Erlangga meraih kedua tangan Yutasha. Menatap lekat mata gadis itu dari balik kacamata yang ia kenakan. Perlahan, Yutasha mengangkat wajahnya dan menatap Erlangga. Namun tidak berani menatap mata laki-laki berpenampilan culun tersebut.


"Ada apa? Coba katakan padaku," Bujuk Erlangga menatap teduh tunangannya itu.


Dan hal itu semakin membuat Yutasha merasa bersalah. Hingga ia tanpa sadar meloloskan air matanya. Membuat Erlangga semakin bingung. Ingin sekali Erlangga memeluk tubuh gadis yang telah membayarnya itu. Namun takut jika mendapat amarah dari gadis itu. Mengingat gadis itu menghindari dirinya beberapa hari lalu.


"Maaf, Kak. Aku tidak bisa menjaga tubuh ini dengan baik. Aku ternoda."


PRAANGG!!!


Bagai ada benda yang jatuh tepat di telinganya, saat mendengar pengakuan Yutasha. Tubuhnya bergetar menahan luapan emosi yang ingin segera meledak.


Yutasha semakin takut saat merasa cengkeraman tangan Erlangga di bahunya semakin kuat. Dan itu menimbulkan rasa sakit untuknya.


"Jawab, Yuta! Apa maksud dari ucapannya itu?" Erlangga berusaha sekuat tenaga menahan amarahnya.


Yutasha semakin takut pada Erlangga. Namun ia harus berkata jujur, meski hubungan diantara mereka sebenarnya palsu. Akan tetapi, dimata keluarga mereka, mereka telah sah menjalin sebuah hubungan yang serius. Bahkan sebentar lagi mereka telah sah menjadi suami istri.


"A-aku... Melakukan kesalahan, Kak." ucap Yutasha lirih dengan suara gemetar ketakutan.

__ADS_1


"Kesalahan apa, Yuta?" Erlangga berusaha bersikap tenang.


"Aku ternoda, Kak. Seseorang telah menciumku." dengan takut, Yutasha menatap Erlangga dengan tatapan penuh penyesalan.


Hah! Erlangga tercengang dengan pengakuan Yutasha. Ia mulai mengerti arah pembicaraan Yutasha. Ternyata hal yang mampu membuat emosinya melambung tadi karena ulahnya sendiri.


Konyol memang, tapi Erlangga ingin melihat kejujuran Yutasha meskipun ia sudah tahu siapa pelakunya. Siapa lagi kalau bukan dirinya sendiri.


"Siapa?" Erlangga berpura-pura tidak tahu.


"Mas Angga," jawab Yutasha pelan. Ia sangat merasa bersalah pada Erlangga.


Erlangga menahan tawanya sekuat tenaga. Bagaimana bisa gadis di depannya ini masih tidak bisa mengenali dirinya. Apa dia tadi terlalu gugup atau bagaimana. Padahal dirinya masih setia mengenakan cincin pertunangan mereka.


"Dimana? Apa saja yang dia sentuh?" Erlangga bertanya dengan suara yang datar. Lalu tersenyum miring saat melihat Yutasha mengangkat tangannya.


"Di bagian mana dia menyentuhmu?" tanya Erlangga sekali lagi saat melihat keraguan dalam diri Yutasha.


Bilang aja mau modus, kamu Mas😒

__ADS_1


__ADS_2