
"Ardi!" sebutnya lirih, kembali menggenggam erat kaki Ardi, sehingga membuat pria dua puluh tujuh tahun itu memejamkan matanya, menahan napas untuk tidak terpancing emosi untuk melakukan sesuatu diluar kendalinya.
Ardi tidak menjawab, kakinya coba ditariknya agar terlepas dari Melati. Namun, tenaga mantan kekasihnya itu ternyata lebih besar. Niken yang melihatnya pun hanya bisa mengelah napas. Dia ingin menjambak rambut Melati dan memarahinya, sekaligus memberi pelajaran juga, tetapi dia tidak bisa karena ingin menjaga perasaan Ardi.
"Ardi, biarkan aku tinggal bersamamu!" pintanya dengan lantang, sekaligus mengenyampingkan harga dirinya yang dahulu begitu tinggi.
Mendengar ucapan tersebut, sontak membuat Niken tidak lagi bisa menahan diri lebih lama. "Hei, wanita penggoda! Jangan karena kondisimu yang sedang hamil, kau bisa berbuat sesuka hatimu! Ardi sudah berkeluarga dan aku adalah istri sahnya! Nyonya Muhammad Ardi!" bentaknya, yang tidak tanggung-tanggung dengan menarik rambut Melati juga.
"Kau hanya wanita murahan yang tidak tahu diri! Sudah untung Ardi mau menyelamatkan nyawamu, jika tidak mungkin saat ini kau sudah berada di neraka! Ardi masih mau menolongmu karena dia kasihan. Jangan kau berpikir untuk memanfaatkan kebaikannya demi keuntunganmu saja. Aku tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi!"
Niken membentaknya, memakinya dan secara membabi buta dia menjambak rambut Melati dengan kedua tangan.
"Auuu!" Melati pun menjerit kesakitan saat rambutnya ditarik sekencang mungkin oleh Niken bahkan kepalanya sampai mendongak.
Ardi buru-buru melerai keduanya. Dokter yang sedari tadi hanya diam itu akhirnya ikut campur juga.
Ardi menarik tubuh Niken agar melepaskan tangannya pada rambut Melati. "Jangan halangi aku, Ardi! Biarkan aku memberikan pelajaran pada wanita ****** ini!"
Kata-kata tidak pantas pun Niken lontarkan, semata-mata dilakukannya untuk menunjukkan tempat Melati yang sesungguhnya, yaitu rumah hiburan malam.
Niken masih menarik rambut Melati, walaupun Ardi sudah bersusah payah melepaskannya. Nyatanya, saat wanita sedang marah, maka tenaganya bertambah berkali-kali lipat. Ardi sampai kewalahan untuk mengatasi istrinya tersebut.
Sementara itu, Melati terus berteriak kesakitan. Kepalanya seperti ingin lepas dari tempatnya. Rambutnya juga seolah ingin tercabut karena taringan Niken yang begitu badas.
"Nyonya! Tolong tenanglah. Anda tidak bisa berbuat ini pada pasien atau dia akan mengalami keguguran. Andai itu terjadi, maka Anda akan terkena hukuman dan bisa saja masuk penjara!" seru Dokter tersebut menerangkan, sekaligus mencoba menenangkan Niken yang semakin liar.
Mendengar pernyataan tersebut, Niken perlahan-lahan menghentikan tarikannya. Melati pun dapat bernapas lega, walaupun dia masih merasakan sakit luar biasa di kepalanya.
"Lepaskan dia. Aku mohon. Jangan buat dirimu terkena masalah. Jika ayahmu tahu, maka dia akan sangat bersedih. Kamu tentu tidak ingin membuat orang tuamu malu bukan?" bisiknya, sembari memeluk Niken dari belakang. "Aku mohon, lepaskan dia. Melati sudah sangat menderita. Jangan kau tambah lagi penderitaannya. Aku mohon," lirihnya disertai mata yang berkaca-kaca.
Niken seutuhnya melepaskan Melati. Tubuhnya telungkup lemas dalam pelukan Ardi. Sementara itu, Dokter segera memapah tubuh Melati, membawanya kembali ke ranjangnya.
__ADS_1
Niken menatap kosong benda di depannya. Ardi masih memeluknya dengan bersurai air mata. Kalau boleh jujur, dia sangat tidak suka melihat Niken seperti ini. Hatinya seperti tersayat-sayat, saat melihat sang istrinya terluka.
"Tenanglah, Sayang. Aku ada di sini. Mari kita hadapi ini bersama-sama. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu."
Ardi membawa Niken dalam pelukannya. Berkali-kali dia mengecup kening istrinya, tanpa betapa dia sangat khawatir akan kondisi mental sang istri.
Niken tidak membalas perlakukan tersebut. Pandangannya masih kosong. Namun, dia merasa nyaman saat Ardi memeluknya dan terdengar pula suaminya itu memanggil 'sayang' membuat, dirinya semakin larut dalam kedamaian yang diberikan Ardi.
Sementara itu, Melati masih mengatur napasnya yang tidak stabil akibat perlakuan kasar Niken tadi. Tatapannya tajam pada Niken yang telah menarik rambutnya sampai rasanya ingin rontok semua.
Bukan hanya itu saja, tetapi dia merasa iri sekaligus kesal karena Ardi begitu perhatian pada Niken. Selama ini dia bahkan belum pernah mendapatkan ciuman dari Ardi, yang dulu berstatus kekasihnya.
Melati perlakuan Ardi sangat tidak adil terhadap dirinya. Dia ingin berteriak, meluapkan emosinya dan memarahi Niken yang telah merebut kekasihnya tersebut. Namun, Melati mencoba untuk tidak membuat masalah lebih dulu karena bisa saja, satu tindakan akan membuat Ardi semakin membencinya.
Maka dari itu Melati memilih diam. Saat Dokter menyentuh tangannya, dia langsung menepisnya. Memberi tatapan ketidaksukaan pada Dokter yang menurutnya sangat lemah.
Dokter tersebut tidak berkata apa-apa. Merasa serba salah sekarang. Haruskan ia keluar dari ruangan ini, tetapi urusannya dengan pasien dan anggota keluarganya belum selesai? Andai saja ada pasien yang harus ditanganinya, maka ia akan mudah pergi dari sana. Sungguh membuatnya dilema.
Niken pun menurut. Tidak ada bantahan terhadap usulan yang suaminya berikan. Ardi pun segera memapah Niken. Ah, tidak. Dia menggendong Niken ala bridal style dan dilihat oleh Melati.
Wanita yang tengah hamil itu mengepalkan kedua tangannya, "Awas kau, Niken! Akan aku rebut Ardi kembali. Kau lihat saja nanti, siapa di antara kita yang akan mendapatkan Ardi ... Aku atau kau!" batinnya, sembari *******-***** seprai.
***
Ardi pun berjalan melewati lorong rumah sakit dengan keadaan menggendong Niken. Gadis ayu berstatus istrinya itu merasa malu. Kini perlahan-lahan senyuman mulai terlihat kembali di wajah ayunya.
Niken mengalungkan tangannya pada leher Ardi, memandang manik indah sang suami. "Mengapa hatiku berdegup tidak menentu seperti ini? Tatapannya mengingatkan aku pada dirinya. Ada apa ini? Ardi ... Dia bukanlah Narendra. Keduanya dua pria yang berbeda. Namun, kenapa aku merasa Ardi memiliki perasaan lebih terhadap diriku. Apa mungkin dia mencintaiku, sama halnya, seperti Narendra?" batinnya, tanpa mengedipkan mata pada pria berstatus suaminya itu.
Ardi melirik pada sang istri. Ingin sekali dia mengucapkan sesuatu, tetapi kalimatnya tertahan di ujung tenggorokan, sehingga dia hanya bisa tersenyum lembut.
"Ardi," sebut Niken, sembari melihat sekitarnya.
__ADS_1
Ardi bergumam, "Ada apa? Apa kamu ingin sesuatu?" Dia melihat kiri dan kanannya, seperti mencari sesuatu yang mungkin diinginkan oleh Niken.
"Bisakah kau turunkan aku di sini? Tidak enak dilihat orang banyak. Aku merasa malu," tuturnya dengan wajah yang tersipu.
Ardi mengernyitkan alisnya, "Memangnya mengapa jika banyak orang di sini? Bukankah itu sangat bagus, Sayang?" balasnya menggoda.
Mendapat panggilan 'Sayang' dari sang suami, membuat Niken semakin tersipu. "Apaan si? Cepat turunin aku," pintanya sambil memukul-mukul dada Ardi.
Melihat tingkah malu-malu istrinya membuat Ardi tersenyum kembali. Kejadian tadi sungguh menegangkan sampai dirinya pun menahan napas.
"Cepat, turunin aku," pintanya kembali. "Ya. Ya, baik. Tapi jangan dipukulin dong akunya, 'kan sakit dada akunya," balasnya menggoda, istrinya yang terlihat semakin gemas.
Pipinya semakin memerah, Niken tidak bisa menyembunyikan rasa malunya sekarang. Ardi telah melihatnya. Sekarang dia hanya ingin turun dan memarahi suaminya tersebut.
Ardi pun menurunkan Niken. Buru-buru istrinya itu memukuli dadanya kembali. "Malu tahu, dilihat banyak orang. Nanti apa yang mereka pikirkan tentang kita?" gerutunya kesal, sampai bibirnya mengerucut dan pipinya mengembung sempurna.
Ardi terkekeh geli, melihat tingkah istrinya yang malu-malu seperti kucing, menambah kegemasan dirinya pada Niken.
"Peduli amat dengan yang mereka pikirkan. Kamu adalah istriku, jadi wajar dong aku melakukan itu padamu, Sayang. Kecuali aku menggendong istri orang lain, nah kamu boleh deh marah-marah, istriku, sayang," godanya semakin menjadi-jadi. Ditambah dengan gemas dia mencubit pipi Niken, membuat hati Niken tidak baik-baik saja.
"Sudah ah, jangan godain aku kaya gitu."
"Sudah apa, Sayang? Aku belum melakukan apa-apa pada kamu? Apa kamu ingin kita melakukannya sekarang?" godanya kembali, sembari mendekatkan wajah pada sang istri, yang sedang salah tingkah itu.
BRUK ...
Niken menginjak kaki Ardi sekeras mungkin. "Aaauu!" jerit Ardi, yang dapat didengar orang-orang sekitar.
Niken pun menjulurkan lidahnya, meledek sang suami tanpa merasa bersalah. Ardi berdengus kesal, tangannya sedikit mengangkat. Ingin sekali dia membalas perbuat Niken. Namun, Ardi menarik tangannya kembali.
Niken pun menyembunyikan tawanya, sehingga terlihat senyuman kecil tanpa beban. Setelah puas mengejek suaminya, Niken melenggang lebih dulu meninggalkan Ardi di belakang dengan kakinya yang masih nyut-nyutan akibat diinjak istrinya itu.
__ADS_1
"Sayang, tunggu!" panggilnya, kini tidak malu-malu memanggil sayang pada istrinya tersebut.