
Niken pun menunjukkan kamarnya pada Ardi. Sementara itu, salah satu maid mengantar Melati untuk melihat-lihat kamar. Ada banyak kamar di sana sehingga Melati bisa dengan bebas kamar yang diinginkannya. Lima menit mencari-cari, akhirnya Melati memilih kamar yang paling besar nomor dua. Kamar ini tidak kalah besar dengan kamar milik Niken. Letaknya juga tidak terlalu jauh dari Kamar Niken dan Ardi.
Melati melirik lebih dulu kamar yang pintunya sudah tertutup, menebak-nebak yang terjadi di kamar tersebut. Niken dan Ardi. Apakah mereka sedang bermesraan seperti yang seharian ini keduanya pertontonkan?
"Terima kasih, kau bisa pergi. Aku bisa melakukannya sendiri," pinta Melati pada seorang pelayan yang sedari tadi mengikutinya.
Maid itu mengangguk. Namun, sebelum pergi ia ingin melihat Melati masuk kamarnya lebih dulu karena ini adalah perintah Niken.
Majikannya itu memerintahkan padanya untuk terus mengawasi Melati setiap saat. Ia diminta untuk memastikan kalau Melati tidak mendekati Ardi, apa lagi sampai menggodanya.
Melati pun akhirnya masuk kamar, sedikitnya dia merasa seperti sedang diawasi. Maid itu meninggal kamar setelah memastikan Melati telah berada di kamarnya.
***
Kamar Niken. Gadis ayu tiga puluh tahun tersebut baru saja selesai mandi. Dikarenakan sudah malam, Niken pun tidak berlama-lama di kamar mandi.
Suasana canggung selalu terjadi dikalau berpapasan dengan Ardi yang hendak mandi. Niken membuang pandangannya seakan-akan Ardi tidak ada. Begitu juga dengan sang suami. Lebih tepatnya Ardi tidak ingin melakukan diluar kendalinya.
Niken berjalan menuju lemari pakaiannya. Dipilih-pilih setelan piaya favoritnya. Diambilnya satu piaya dengan motif bunga sakura.
Tangannya bergerak memakai celana dan pikirannya kembali dibawa untuk mengingat kejadian beberapa hari yang lalu. Pertemuannya dengan Nalendra di rumah Fatma, yang sampai detik ini tidak bisa Niken lupakan.
Senyuman Nalendra seolah menari-nari di pelupuk matanya. "Apaan si Niken!" Dia mencoba menepisnya, mendalilkan pikirannya yang mulai ngawur.
Saat memakai baju, bayangan akan sosok Nalendra kembali terlintas di benaknya. Kali ini setiap kalimat yang terucap dari bibir Nalendra ikut terngiang-ngiang di otaknya.
"Stop Niken, stop! Kamu harus bisa kendalikan dirimu, Niken! Dengan mengingatnya kembali, sama saja kamu menggoreskan luka hatimu!Nalendra hanya masa lalu. Dia bukan siapa-siapa lagi di hidupmu. Sekarang yang terpenting adalah bagaimana cara untuk mempertahankan rumah tanggamu dengan Ardi?"
__ADS_1
Niken mengomel pada dirinya yang ada di balik cermin. Wajahnya tampak lesu, tidak seperti biasanya. Dari cermin, Niken bisa melihat dirinya yang sedang banyak pikiran.
Di satu sisi ada Melati yang mencoba mendekati Ardi. Lalu, di sisi lain ada Nalendra, pria yang selama bertahun-tahun terus mengejar cintanya. Biarpun Nalendra saat ini berada di Surabaya, tidak menutup kemungkinan dia akan bertemu dengannya kembali.
Terlebih lagi, Fatma dan Tea sepertinya tertarik pada Nalendra. Hal tersebut bisa saja membuat Nalendra akan lebih dekat dengan keluarganya. Secara tidak langsung, ada kemungkinan Tea dan Nalendra menjalin hubungan serius yang membuat keduanya akan sering bertemu.
Niken membuang pandangannya, menarik diri dari depan meja rias. Melihat pantulan dirinya yang ada di cermin, membuat Niken selalu dihantui sosok Nalendra.
"Apa yang sedang kamu lakukan?" Ardi pun berdiri tepat di belakang Niken. Alhasil saat sang istri berbalik badan pandangan keduanya saling bertemu.
Tidak sampai di situ saja, dikarenakan terlalu kaget Niken hampir kehilangan keseimbangannya. Tubuhnya hendak jatuh, tetapi Ardi langsung menangkapnya.
Tangan kanan Ardi menyanggah di belakang badan Niken, sedangkan tangan lainnya menggenggam pergelangan tangan istrinya. Sementara itu, sebelah tangan Niken mengalung di leher Ardi.
"Apa kamu terluka?" tanyanya begitu lembut.
Niken mengerjap, untuk sesaat dia hampir terpesona dengan ketampanan yang Ardi miliki. Memang tidak bisa dipungkiri, suaminya itu setidaknya memiliki wajah yang cukup rupawan, serta senyuman yang menawan.
"Pake baju dulu sana!" perintah Niken ketus, tanpa memalingkan wajahnya.
Ardi melihat ke bawah, lalu terkekeh kecil. "Memangnya kenapa kalau aku engga pake baju? Bukannya enak ya, dengan begitu bisa langsung masuk," ungkapnya menggoda.
Niken berbalik badan dengan mata yang melotot. Namun, dia segera sadar dan menutup matanya dengan sebelah tangan.
"Jangan main-main deh. Dalam perjanjian tidak dituliskan kamu boleh menyentuh aku. Jadi, jangan pernah berpikir untuk melakukan hubungan itu," beber Niken sekaligus mengingatkan Ardi akan kontrak perjanjian yang telah disepakati bersama.
Ardi mengangguk pelan. Sama sekali dirinya tidak lupa dengan perjanjian tersebut. Namun, entah mengapa dia ingin sekali melanggar itu semua.
__ADS_1
"Ya, aku masih ingat. Bahkan sangat mengingatnya, tetapi itu hanyalah perjanjian di atas kertas saja!" seru Ardi demikian.
Pengakuan tersebut membuat Niken membuka matanya. Memandang Ardi yang tampak sedang serius.
"Janjiku sudah kuikrarkan di depan penghulu, ayah serta keluarga besarmu. Allah dan para Malaikatnya menjadi saksi dari janji tersebut!"
Ardi sungguh tidak main-main dengan ucapannya dan Niken merasakan betul keseriusan tersebut. "Ya, aku tahu itu. Terus kenapa kamu mengungkitnya kembali," serga Niken yang tak dapat mengelak dari itu semua.
"Aku ingin meminta hakku dan aku ingin sekali memberikan kebahagiaan yang seharusnya kamu dapatkan!"
Mata Niken melebar. Belum sempat dia mengeluarkan kalimatnya, Ardi sudah lebih dulu membungkam mulutnya dengan serangan mendadak.
Dia menyatukan bibirnya dengan bibir Niken. Alhasil membuat Niken terkesiap, tubuhnya juga seolah mengeras saat Ardi memberikan serangan dadakan.
Kedua tangan Ardi melingkar di tengkuk Niken. Hal tersebut semakin membuat Niken diam tak berdaya. Setelah mendapatkan kesadarannya, Niken mencoba mendorong dada Ardi. Namun, usahanya sia-sia karena Ardi mendorong tubuhnya agar semakin mendekat.
Ardi melepaskan ciumannya tersebut. Keduanya hampir kehabisan napas. Niken ingin protes dan memarahi suaminya seperti yang sering dirinya lakukan. Akan tetapi, sebelum semua itu terjadi, Ardi sudah lebih dulu menggendongnya ala bridal style, yang tentu semakin membuat Niken kalang kabut.
"Hey, apa yang ingin kamu lakukan? Cepat turunin aku!" Niken memberontak. Tangannya memukul bidang dada suaminya. Namun, usahanya tidak membuahkan hasil.
Ardi tetap kokoh, menatap tajam manik istrinya. Niken agaknya sedikit merasa takut dengan tatapan tajam Ardi. Namun, ada rasa yang begitu bergejolak di dalam dada.
"Aku akan melakukan tugasku. Semula pernikahan ini memang sebatas janji di atas kertas, tapi setelah ikrar pernikahan diucapkan, maka perjanjian di atas kertas itu sudah tidak berlaku!"
Ardi begitu serius, sampai Niken kehabisan kata-kata untuk menjawabnya. Malam ini suaminya itu jauh berbeda dari yang Niken kenal.
Niken bingung, entah dirinya harus pasrah atau menolak permintaan suaminya tersebut? Ardi sepertinya sungguh-sungguh ingin menjadikan malam ini sebagai malam pertama yang tertunda.
__ADS_1
Ardi merebahkan tubuh istrinya itu di ranjang. Niken pun menarik napas dalam-dalam. Menatap lekat manik sang suami. Tangannya masih mengalung di lehernya, sedangkan Ardi tidak bisa melepaskan padangannya dari sang istri.
Apa yang akan terjadi selanjutnya?