Suami Kontrak Yang Kucinta

Suami Kontrak Yang Kucinta
34 Keguguran


__ADS_3

"Ardi, tolong aku. Perutku ... Panggilkan Dokter ..." jeritannya semakin menjadi, sampai mengangkat tangan kanan mengisyaratkan Ardi agar mau menolongnya.


Ardi sempat tidak peduli dan hanya menoleh saja. Akan tetapi, sikapnya menjadi cemas saat melihat darah mengalir dikedua kaki Melati.


"Melati!" Ardi buru-buru jongkok, pandangnya celingak-celinguk kebingungan. Melati kian menjerit kesakitan, terasa seperti ditusuk-tusuk pisau di bagian perutnya.


Dia berpegangan pada bahu Ardi agar rasa nyerinya berkurang. Namun, tindakannya sama sekali tidak membantu, sampai akhirnya pandangannya mulai kabur dan perlahan-lahan matanya terpejam dan ambruk di lantai.


"Melati!" Ardi berteriak begitu keras, suaranya sampai terdengar keluar ruangan. Perawat yang tanpa sengaja mendengar segera mendatangi Ardi yang tengah memangku wajah Melati.


"Apa yang terjadi padanya, Tuan?" tanya Perawat itu yang tidak kalah paniknya dengan Ardi.


"Aku tidak tahu apa yang terjadi padanya. Dia hanya mengeluh sakit, lalu darah keluar dari kakinya. Selanjutnya dia langsung tidak sadarkan diri," bebernya dengan tatapan kosong.


Dikarenakan terlalu panik dan sulit berpikir jernih, Ardi sampai lupa untuk memanggil Dokter atupun Perawat. Kepalanya terlalu kosong, sehingga sulit untuk mengambil tindakan cepat.


Perawat yang datang segera menghubungi Dokter. Selama menunggu, ia dengan dibantu Ardi segera membopong tubuh Melati, memindahkannya ke ranjang kembali.


Tidak lama kemudian, Dokter pun datang. Segera dia melakukan pemeriksaan pada Melati. Mulai dari nadi, detak jantung, mata dan pemeriksaan lainnya.


"Segera siapkan ruangan operasi. Kita harus cepat!" perintah Dokter tersebut dan langsung mendapat anggukan dari perawat itu.


Segera ia berlari keluar ruangan untuk mempersiapkan ruang operasi. Ardi yang mendengarnya pun semakin kalang kabut. "Operasi?" lirihnya dengan mata berkaca-kaca.


"Tuan tenang saja. Kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkan istri Anda. Saya harap Tuan bisa bersabar dan lebih tabah lagi." Dokter itu menepuk pundak Ardi. Ia pun tidak bisa menjanjikan apa-apa pada Ardi, hanya bisa berusaha dan berusaha.


Melati pun segera dibawa ke ruang operasi yang telah disediakan. Ardi diminta menunggu diluar, "Kenapa ini harus terjadi? Melati ..." Dia mondar-mandir di depan ruangan, lalu duduk telungkup sambil menutupi kepalanya dengan kedua tangan.


"Ya Allah ... Tolong selamatkan Melati, Ya Allah." Dia hanya bisa berharap dan berharap. Berdoa pada Sang Maha Kuasa agar operasinya berjalan lancar, Melati dan bayinya pun selamat.


"Amin." Ardi mengusap wajahnya dengan kedua tangan. Tidak ada yang bisa dilakukannya sekarang selain menunggu.


Satu jam telah berlalu. Namun, belum ada tanda-tanda operasi akan selesai. Ardi masih mondar-mandir di sana, sulit baginya untuk bisa duduk tenang.

__ADS_1


Sejak pagi Ardi belum makan apa-apa. Walaupun perutnya terus berbunyi, tetapi dia tidak memiliki selera untuk makan.


Satu jam berikutnya, masih belum ada tanda-tanda operasi akan selesai. Ardi semakin dilanda cemas karena sudah dua jam menunggu, masih belum ada kabar juga.


Pikirannya semakin melalang buana, memikirkan yang mungkin saja terjadi. Namun, sekeras mungkin dia mencoba menepis pikiran buruk tersebut.


Lima belas menit berikutnya, lampu ruangan operasi pun berubah menjadi hijau. Ardi bertanya-tanya, apakah ini pertanda operasinya telah selesai atau ada hal buruk yang tengah terjadi di dalam sana?


Tidak berselang lama, pintu ruangan terbuka menampakkan sosok pria dengan pakaian lengkap khas operasi serta wajah yang tertutup masker, dengan wajah lesu dan lelah ia berjalan keluar ruangan.


Ardi buru-buru mendatangi pria tersebut, "Bagaimana hasil operasinya, Dokter? Melati dan bayinya selamat bukan? Cepat katakan, Dokter!" Dia begitu kalang kabut sehingga tidak dapat mengendalikan emosi serta pikirannya.


Dokter bernama Agus tersebut terdiam mematung cukup lama, sebelum akhirnya dia mengelah napas panjang.


"Maafkan saya Tuan, kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Namun, janinnya tidak dapat kami selamatkan," bebernya lirih dengan kepala sedikit tertunduk serta mata sayu.


Sebelah tangan Ardi berada di pinggir, lalu tangan lainnya memegangi kepala, "Lalu, bagaimana dengan Melati, Dok?" Ardi mencoba untuk mempertahankan kesadarannya. Kabar keguguran Melati, semakin membuat pikirannya kacau. Sulit baginya menelaah situasi sekarang.


"Tuan tenang saja. Alhamdulillah, Nyonya Melati baik-baik saja. Dia sudah melewati masa-masa kritisnya. Dalam beberapa jam dia akan sadar."


Mendengar penuturan tersebut, Ardi langsung teringat kalau dirinyalah yang sudah mendorong Melati sampai ia tersungkur di lantai. Saat Melati merintih kesakitan, dia malah tidak peduli dan menganggap jeritannya hanya sebatas tipu muslihat, guna menarik perhatiannya.


Sekarang Ardi baru sadar kalau itu bukanlah kepura-puraan, tetapi jeritan rasa sakit yang sesungguhnya.


Ardi diam cukup lama, menata hatinya terlebih dahulu, mencoba untuk mempertahankan kesadarannya karena keegoisannya Melati keguguran.


"Bolehkah, diriku melihatnya?" tanyanya meminta. Setelah mendapatkan kembali ketenangannya, Ardi memberanikan diri untuk melihat Melati.


"Mari Tuan! Saat ini Melati mungkin sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Mari saya akan mengantar Tuan!" ajak Agus mempersilahkan.


Ardi mengangguk setengah hati. Langkahnya dirinya bawa mengikuti sang Dokter yang berjalan lebih dulu.


Ardi pun dibawa memasuki ruang perawatan. Di sana Melati masih terbaring di ranjangnya, tentu dengan mata yang masih terpejam. Alat medis yang terpasang pun hanya selang inpus dan oksigen.

__ADS_1


Dokter Agus telah menerangkan bahwasanya kondisi Melati sudah membaik hanya tinggal menunggu ia tersadar saja.


"Melati," lirihnya sembari menatap lekat sang mantan kekasih penuh harap.


Dokter Agus terlihat sedang berbincang dengan perawat. Dari yang didengar Ardi, keduanya sedang membahas kondisi Melati. Perawat itu melaporkan bahwa keadaan Melati berangsur-angsur membaik sehingga dalam waktu dekat ia akan segera sadar.


Mendengar kabar tersebut membuat Ardi bernapas lega, sekaligus mengucap syukur karena Melati masih bisa diberi kesempatan untuk melanjutkan hidupnya. Namun, Ardi juga merasa sedikit bersalah. Andai dirinya tidak mendorong Melati, kemungkinan saat ini anaknya masih dapat tertolong.


"Tuan Ardi. Kami mohon pamit dulu. Masih ada yang harus kami selesaikan." Dokter Agus mendekat pada Ardi yang berdiri di seberangnya. Ucapan Dokter Agus menyadarkan Ardi dari lamunannya.


"Baik, Dokter." Ardi mengangguk cepat, sembari menjabat tangan Agus. "Sekali lagi saya ucapkan terima kasih banyak karena Dokter dan tim sudah menyelamatkan nyawa Melati. Saya sangat berterima kasih."


Agus pun tersenyum lembut, "Tuan terlalu melebih-lebihkan. Ini sudah menjadi tugas kami sebagai tenaga medis, yaitu menolong mereka yang membutuhkan." Dia menepuk-nepuk bahu Ardi sebagai bentuk solidaritasnya sebagai Dokter. "Saya harap Tuan bisa bersabar dan tabah lagi."


Ardi tersenyum simpul sembari mengangguk setengah hati. "Kalau begitu saya mohon undur diri. Kalau ada apa-apa segera beritahu kami," ungkap Agus. Tidak lama kemudian dia mulai melenggang meninggalkan ruangan, lalu perawat mengekor di belakangnya.


Ardi masih memandang para tim medis itu sampai mereka benar-benar menghilang. Kini hanya tinggal dirinya dan Melati yang ada di sana.


Setelah perasaannya lebih tenang, barulah Ardi mengingat sang istri yang saat ini sedang berada di Surabaya.


Dia mengeluarkan ponsel dari sakunya, niat hati untuk menanyakan kabar istrinya tersebut. Baru juga menyalakan ponselnya, Ardi sudah dikejutkan dengan lima puluh panggilan tidak terjawab dari Niken.


Ardi pun baru mengetahui kalau ponselnya berada dimode silent, sehingga panggilan telepon dari Niken tidak dapat terdengar olehnya, ditambah situasi tegang yang membuatnya sama sekali tidak mengingat Niken.


Ardi segera menekan nomor Niken untuk menghubungi balik istrinya itu.


Dut ...


Dut ...


Dut ...


Panggilannya tersambung. Namun, belum ada jawaban dari Niken.

__ADS_1


"Angkat telponku, Niken," gumamnya penuh harap.


__ADS_2