
Satu jam berikutnya, lebih tepatnya satu jam setelah Ardi membaca pesan yang dikirim Niken. Suasana canggung terjadi di ruangan, yang memang hanya ada Ardi dan Melati saja di sana.
Tidak ada pembicaraan menarik yang dibahas keduanya. Entah karena saling menjaga jarak atau memang tidak ingin timbul hal diluar kendali masing-masing?
"Ardi!"
Tanpa terduga, pintu terbuka dengan cepat tanpa adanya ketukan. Ardi yang sedang duduk pun berbalik badan. Hal pertama dirinya lihat adalah sosok wanita cantik, bersurai panjang dengan sedikit gelombang di ujungnya. Wanita yang beberapa waktu lalu telah resmi menjadi kekasih halalnya.
"Niken!" sebut Ardi dengan mata yang berbinar-binar.
Napas Niken masih terengah-engah akibat berlari dari tadi. Pikirannya pula seolah berpacu dengan waktu karena tidak ingin hal buruk terjadi pada Ardi. Matanya pun berkaca-kaca. Niken tidak dapat menyembunyikan rasa bahagianya karena bisa memandang sang suami kembali.
"Ardi!" Pelukan hangat langsung diberikan wanita tiga puluh tahun itu pada pria yang telah sah menjadi suaminya tersebut.
Ardi pun membalas pelukan tersebut dengan penuh kasih sayang. Entah bagaimana, pelukan Niken sekarang begitu dirindukannya? Tidak bertemu dalam beberapa jam saja, dia sudah merasa kehilangan.
"Maafkan aku karena pergi tadi," lirih Niken sesal. Pikirannya mendorong Niken untuk melontarkan kalimat tersebut.
Ardi mendongak, sembari mengelus rambut hitam legam istrinya. "Seharusnya akulah yang meminta maaf. Kamu sama sekali tidak bersalah, akulah yang sudah bertindak ceroboh karena sudah meninggalkanmu begitu saja."
Keduanya sama-sama mengucapkan kalimat penyesalan. Niken semakin mempererat pelukannya, begitu juga dengan Ardi. Dia sedikit melonggarkan pelukannya, lalu menyentuh kedua pipi Niken, menatap manik hazel sang istri dan di waktu bersamaan dia juga mengecup kening Niken, sebagai tanda kasih sayang sekaligus penyesalannya.
Niken memejamkan matanya, merasakan setiap sentuhan Ardi yang langsung menyentuh sampai ke hatinya. Detak jantungnya bahkan bekerja lebih cepat dari biasanya.
Hal yang sama dirasakan Ardi juga. Kini Niken telah memberinya akses lebih bebas dari sebelumnya. Awal pertemuan, jangankan mencium, menyentuhnya saja tidak boleh. Perubahan besar ini tidak akan Ardi sia-siakan, terlebih lagi dia mulai merasa nyaman saat di dekat sang istri.
Sementara Ardi dan Niken sedang asyik melepas kerinduan, Melati tampak cemberut. Tangannya dilipat di dada, pandangannya dibuang sembarangan, lalu meneguk segelas air sampai tidak tersisa.
"Kenapa si Niken harus datang? Kalau begini 'kan aku engga leluasa mendekati Ardi. Sebel deh," gumamnya yang sama sekali tidak menyembunyikan rasa kekesalannya.
Melihat Ardi memeluk Niken dengan penuh cinta dan mengecup keningnya, membuat Melati cemburu plus iri juga. Dikarenakan sebelum bertemu Niken, sikap Ardi tidak pernah seromantis sekarang.
Selama menjalin hubungan pacaran tiga tahun, Ardi belum sekalipun memperlakukan dirinya seperti yang dia lakukan pada Niken. Memeluk mungkin pernah, tetapi mengecup di kening dan bibi belum pernah Ardi berikan padanya.
"Ekhem." Melati mendehem begitu keras sehingga memecah keromantisan pengantin baru di sana.
Niken melepaskan pelukan Ardi. Biarpun begitu dia tetap menunjukkan lengkungan sempurna di bibirnya, yang membuat Ardi tidak bisa berpaling darinya.
__ADS_1
"Kalian anggap apa aku di sini, ah?" gerutu Melati, yang sengaja meninggikan suaranya agar didengar Niken dan Ardi.
Dua anak manusia yang baru saja melangsungkan pernikahan itu, sama-sama memandang Melati yang terbaring di ranjangnya. Niken dan Ardi saling berpandangan lebih dulu. Selanjutnya, barulah keduanya mendatangi Melati.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Niken, sembari mengulurkan tangannya. Niat hati ingin berjabat tangan sekaligus menunjukkan rasa pedulinya. Alih-alih mendapat respon baik, Melati malah menepis tangan Niken. Lalu, membuang pandangannya ke sisi lain.
Melati pula membuat ekspresi cemberut, yang disertai tangan melipat di dada, "Kabarku baik," balasnya singkat.
Niken mengangguk, senyumnya tipis untuk menanggapi jawaban singkat Melati. Dia juga tahu, Melati begitu kesal dan marah padanya. Namun, Niken tidak akan memedulikan Melati suka atau tidak?
"Kenapa si kamu datang ke sini? Bukannya kamu katanya lagi di Surabaya, Ya? Terus kenapa balik ke Bandung lagi? Tinggal aja di Surabaya, masalah Ardi biar aku yang urus." Melati mengungkapkan kekesalannya. Tidak hanya itu saja, dia juga menunjukkan ketidaksukaannya akan kehadiran Niken di sana.
Niken mengepalkan kedua tangannya. Namun, Ardi buru-buru meraih tangan Niken, menggenggamnya erat.
Niken mendongak, menatap sepasang mana indah yang saat ini begitu dirindukannya. Ardi mengangguk. Bibirnya tidak bisa melontarkan sebuah kalimat. Namun, kedipan matanya sudah mampu membuat Niken meredam amarahnya.
Melati menaikkan sebelah alisnya. Lagi dan lagi, Ardi dan Niken menunjukkan kemesraan di depan matanya. Dia menarik napas dalam-dalam, mencoba untuk tidak menghiraukan keromantisan mereka.
"Ardi, aku lapar," ungkapnya sedikit manja.
"Tunggu." Ardi segera menarik tangan Niken agar tidak mengamuk.
"Apa kau ingin membantunya?" Niken mendongak, sungguh tidak tahu apa yang sedang ada di benak sang suami?
"Kamu tenang saja. Aku akan mengatasi ini sediri. " Ardi mengacak-acak pucuk rambut Niken, sebelum pergi mendekat pada Melati.
"Kamu ingin makan apa?" tanya Ardi begitu lembut yang disertai senyuman simpul.
Melihat sikap Ardi yang begitu sopan, membuat Niken semakin gerah. Padahal ruangan sudah full AC. Akan tetapi Niken masih merasa panas.
"Aku ingin makan burger, mie ayam, bakso ... Hem." Melati mulai menyebutkan makanan yang ingin sekali dinikmatinya sekarang.
Ardi mengangguk. Lalu, Melati pun kian antusias karena permintaannya disetujui Ardi. Namun, anggukan kepala bukan seperti yang Melati bayangkan.
"Baiklah. Aku akan memberikan burger, mie ayam, lalu bakso, tapi ada satu syarat."
"Apa itu?" Melati begitu antusias karena mampu menjauhkan Ardi dari Niken. Saat Ardi berbicara, tatapan Melati tetap pada wanita tiga puluh tahun tersebut.
__ADS_1
Niken tahu arti dari tatapan Melati. Saat ini wanita ular itu sedang menertawakan dirinya. Suaranya yang dibuat manja, sengaja dilakukannya Melati untuk menggoda Ardi.
Niken tidak akan membiarkan wanita ular itu merebut Ardi dari tangannya. Sudah banyak uang yang keluarkan untuk menjadikan Ardi sebagai suaminya. Jadi, Niken tidak mau Ardi kembali pada mantan kekasihnya itu.
"Melati." Ardi pun menjentikkan jemarinya di depan mata Melati. Sejak tadi tidak ada satu kata pun yang direspon Melati.
"Hem, iya Ardi."
"Sepertinya kamu engga nyimak kata-kata aku deh," gerutu Ardi agaknya sedikit kesal karena diacuhkan.
Melati pun cengengesan dengan menampilkan deretan gigi-gigi putihnya, "Hehehe, Maaf. Aku mohon maaf. Coba kamu ulangi, tadi sama sekali tidak aku simak."
Ardi tersenyum lembut. Mendapati suaminya menunjukkan senyuman pada wanita lain, maka semakin besar pula kemarahan Niken pada Melati.
Tampak Ardi semula mengangkat tangannya. Niken menebak kalau Ardi ingin mengelus kepala Melati, tetapi suaminya itu mengurungkan niatnya dan sekaligus membuat Niken bernapas lega karena nyatanya Ardi mampu menahan diri untuk tidak tergoda dengan rayuan wanita ular itu.
"Baiklah, aku akan mengatakannya. Kamu tidak boleh makan sebelum mengeluarkan gas." Ardi sebelumnya menarik diri, tetapi kini tubuhnya condong pada Melati.
"Kamu harus buang gas lebih dulu, baru selanjutnya kamu bisa memakan burger, mie ayam dan bakso sepuasnya." Ardi semakin dekat, kepalanya bahkan sudah berada di atas bahu Melati.
"Jadi tunggu sampai kamu buang gas. Setelah itu barulah kamu bisa makan sepuasnya," bisik Ardi, tidak lama kemudian dia mengambil posisi menjauh dari Melati.
"Tapi aku sudah lapar. Aku juga ingin makan ini dan itu," rengekan Melati, yang disinyalir sebagai cara untuk mendekati Ardi kembali.
Ardi sudah membuka mulutnya dan siap untuk menjawab, tetapi saat itu juga Niken menarik tangannya. Membawa dirinya menjauh dari Melati.
"Kamu mau ngajak aku kemana?" tanya Ardi penasaran.
Niken melepaskan genggamannya. Walaupun jaraknya belum jauh dan mungkin masih bisa denger melati, tapi setidaknya Ardi bisa jauh dari Melati. Aku Niken demikian.
"Urusan kamu sama Melati udah selesai bukan? Kalau begitu, kita pulang aja yuk! Lagi pula untuk apa kita lama-lama di sini. Dia bukan siapa-siapa dalam kehidupan kita, jadi abaikan saja."
Ardi pun memahami kegelisahan istrinya. Namun, dia juga tidak bisa langsung mengiyakan ajakan tersebut.
"Sebenarnya aku pun sudah ingin pergi dari sini, tapi aku sudah janji dengan Melati, akan merawat dia sampai kondisinya membaik, sekaligus menjaganya sampai mendapatkan pria yang benar-benar serius dengannya," beber Ardi ragu-ragu.
"Apa?" Perlahan-lahan senyuman memudar dari wajah ayu Niken. "Jadi kamu mau ... Melati tinggal bareng kita? Apa kamu sudah gila?" Niken tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Pengakuan Ardi sungguh membuat geleng-geleng kepala.
__ADS_1