
Niken pun akhirnya mendapatkan ketenangannya kembali. Walaupun berat, tetapi dia harus bangkit dan tetap tegar. Toh, sebenarnya ini hanya pernikahan di atas kertas, mengapa juga dia harus menangisi kepergian Ardi? Pikirnya demikian, semata-mata untuk menghilangkan sesak di dada.
Mobilnya sengaja dia tinggal di parkiran dan memerintah Jake untuk mengambilnya nanti. Dikarenakan jalanan cukup macet hari ini, Niken pun memutuskan naik ojek online menuju bandara, sekaligus memangkas waktu tempuhnya.
Kira-kira dua jam, waktu yang Niken habiskan dari menunggu keberangkatan sampai akhirnya mendarat di Surabaya.
Niken baru keluar dari pintu kedatangan penumpang, saat itulah seseorang memanggilnya. "Sayang!"
Niken pun menoleh ke belakang, matanya langsung mengedar mencari sumber suara. "Mama, ayah?" sebutnya penuh tanda tanya, setelah netranya menangkap keberadaan Bambang Adi Atmaja dan Mita yang juga baru keluar dari pintu kedatangan penumpang.
Sepasang suami istri itu buru-buru menghampiri Niken yang sudah menghentikan langkahnya di sana. Keduanya berjalan tergesa-gesa, sambil menarik koper masing-masing.
Niken membuka kacamata hitam yang menutupi mata sembab akibat menangis sebelumnya, lalu melepaskan earphone yang masih melekat di telinganya.
Mita dan Bambang pun sudah berdiri di depan putri tercinta mereka. "Mama dan ayah di sini juga?" Niken mengatur napasnya, mencoba menutupi perasannya yang tengah kacau dengan senyuman lembut.
"Di mana Ardi?" Pertanyaan yang pertama kali terlontar dari sang ayah tercinta, membuat Niken semakin dilanda pilu.
Mita pun baru menyadari bahwa menantunya itu tidak datang bersama Niken. "Ya, di mana Ardi? Kok engga bareng kamu?" Mita ikut menimpali pertanyaan yang sama.
Niken tidak langsung menjawab pertanyaan tersebut. Ada guratan kesedihan di matanya dan hal tersebut langsung tertangkap oleh netra sang mama.
"Ada apa, Sayang? Kamu habis nangis, ya?" Mita menyentuh pipi sang buah hati tercinta. Sebagai seorang ibu sekaligus wanita, tentu perasannya lebih peka dari pria. Mita melihat ada kesedihan yang terpancar dari mata sayu putrinya.
Biarpun, Niken berusaha menutupinya, tetap tidak bisa luput dari perhatian sang Mama tercinta.
"Niken baik-baik aja, Ma," ucapnya pelan. Dia masih menyimpan rasa sesak yang membumbung tinggi mengisi rongga dadanya.
"Kalau begitu di mana, Ardi?" Bambang sudah tidak tahan lagi. Keberadaan Ardi yang penuh tanda tanya ditambah Niken sepertinya habis menangis, membuat Bambang tidak bisa menahan kesabarannya.
__ADS_1
"Ardi ..." Niken menjeda jawabannya, mengatur pernapasan lebih dulu sebelum akhirnya mulai bercerita. "Pagi ini dia mendapat kabar, kalau ibunya sakit dan sedang dirawat di rumah sakit. Jadi, Ardi langsung mengambil penerbangan ke Inggris pagi ini."
"Innalilahi ... Lalu, bagaimana kabar ibunya sekarang?"
"Alhamdulillah, ibunya baik-baik saja, Ma. Tadi Niken baru dapat kabar dari dia, kalau ibunya sudah siuman. Ardi masih di pesawat sekarang dan dia diberitahu ayahnya tentang kondisi ibunya di sana," bebernya bohong. Dengan berat hati, Niken membuat kisah tersebut karena tidak ingin Mita dan Bambang curiga.
"Syukur, Alhamdulillah kalau Beliau sudah baik-baik saja. Mama senang mendengarnya. Kamu yang sabar ya, Sayang. Ibu mertuamu itu pasti baik-baik saja di sana dan Ardi juga pasti kembali. Jadi kamu, harus sabar dan jangan lupa menanyakan kabarnya." Mita menggenggam tangan putri tercinta itu, memberi support pada Niken untuk lebih tabah lagi.
Niken pun tersenyum lembut, pandangnya dibuang ke sembarang arah guna menutupi kegelisahan hatinya karena telah membuat cerita palsu.
"Jadi, dia langsung pergi saja ke Inggris tanpa berbicara terlebih dulu pada kami?" cerca Bambang bernada serius.
Niken tersentak, berusaha untuk mendapatkan ketenangannya. Mulutnya sudah membuka dan hendak mengeluarkan sebuah kalimat. Namun, Mita buru-buru menyambarnya.
"Ayah ini! Kenapa si bawaannya selaluuu aja curiga sama Ardi? Dia tuh mantu kita, Yah. Kamu jangan curigaan terus sama dia. Apa ayah mau kalau terus-terusan Mama curigai, ah? Kan mama engga tahu, ayah di kantor tuh ngapain, bisa aja kan ayah selingkuh di belakang mama. Secara, karyawan ayah tuh sexy-sexy semua."
Bukannya ikut mencurigai menantunya, Mita malah mencecar suaminya, sekaligus balik mencurigai pria enam puluh tahun tersebut, yang notabene adalah pebisnis, tentu setiap hari menghabiskan waktu di kantor.
Melihat pertengkaran kecil kedua orang tuanya, membuat Niken tertawa. Setidaknya, dia sejenak bisa melupakan Ardi. Walaupun, pikirannya masih berpusat pada sang suami, yang entah bagaimana kabarnya sekarang?
"Ma, Yah ... Sudah-sudah, kalian jangan bertengkar terus. Malu dilihatin orang-orang." Niken melirik ke semua arah. Pandangan Mita dan Bambang pun langsung mengedar ke sekitarnya.
"Ayahmu tuh yang duluan. Bukannya bersyukur punya mantu seperti Ardi. Ini mah, malah dicurigai kayak maling ayam aja. Aneh deh, ayahmu tuh Niken."
Mita terus mencibir suaminya tanpa henti, sampai Bambang pun hanya bisa menggeleng-geleng kepala saja. Kalau sudah menyindir seseorang, istrinya itu paling tidak bisa berhenti sebelum unek-uneknya keluar semua.
Niken pun tertawa kecil. Dia memakai kacamatanya kembali, lalu menggandeng tangan ibunya dan segera melenggang pergi. Sedangkan Bambang Adi Atmaja ditinggal dengan dua koper bersamanya. Salah satunya adalah milik Mita.
Pria yang sudah tidak lagi muda itu ingin mengumpat dan protes. Namun, dia mengurungkan niatnya karena Mita berseru. "Dari pada kamu protes, lebih baik bawa koper-koper itu. Marah-marah hanya akan membuang waktu saja. Kau tahu itu bukan!"
__ADS_1
Bambang pun menarik napas dalam-dalam, lalu membuangnya perlahan-lahan. Setelah mendapatkan kembali ketenangannya, dia segera melenggang pergi dari sana, sembari menarik dua koper dengan berat yang beragam.
Bambang sempat kesulitan menarik koper milik istrinya, dikarenakan isi kopernya yang terlalu berat sehingga butuh ekstra tenaga untuk menariknya.
Ketiganya pun meninggalkan Bandara Juanda Surabaya dengan naik taksi online yang sudah Niken pesan sebelumnya.
***
Di kediaman keluarga Fatma. Orang-orang yang ditugaskan mencari Tea akhirnya kembali ke sana. Fatma cukup kecewa dengan kinerja mereka karena telah lalai menjaga Tea.
Namun, Fatma juga tidak bisa sepenuhnya memarahi mereka. Dia juga memiliki tanggung jawab menjaga Tea. Sampai putrinya kabur dari rumah, tandanya dia kurang memberikan kasih sayang serta perhatian pada Tea.
Sementara itu, Tea semakin dibuat terkagum-kagum dengan sosok Nalendra. Bukan hanya tampan dan memiliki fisik yang gagah, tetapi Nalendra pun kayak akan talenta yang jarang dimiliki orang lain.
"Terima kasih Tante karena sudah mengizinkan saya singgah di sini," tutur Nalendra begitu tenang dan meneduhkan.
"Kenapa buru-buru si Mas? Tinggal aja lebih lama di sini 'kan Tea pengen lebih jauh mengenal Mas Nalendra," beber Tea merayu.
Gadis ayu yang baru saja dikhianati kekasihnya itu, tanpa malu-malu menunjukkan rasa ketertarikannya pada Nalendra. Sangat jelas dia menginginkan Nalendra untuk tinggal lebih lama di kediamannya.
Fatma tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia ingin menegur putrinya, tetapi di lubuk terdalam hatinya dia juga menginginkan Nalendra tinggal lebih lama di rumahnya.
Sementara itu pemuda yang akrab disapa Napen itu, menanggapinya dengan tersenyum lembut. Tidak ada kata-kata penolakan, tetapi bukan berarti dia menerima tawaran tersebut.
"Insyaallah. Aku akan mampir lagi ke sini. Saat ini masih ada urusan yang harus aku selesaikan. Aku tidak bisa berjanji untuk datang lagi ke sini, tetapi jika ada waktu, insyaallah aku akan singgah kembali."
Nalendra tidak bisa memberikan janji karena takut mengingkarinya. Namun, mendengar jawaban tersebut sudah membuat Tea senang dan mendapatkan harapan baru.
"Selesaikan saja dulu urusan Mas. Aku akan menunggu dengan sabar di sini," aku Tea tanpa keraguan sedikitpun.
__ADS_1
Nalendra pun tersenyum lembut. Tidak ada kalimat yang mampu dia utarakan sekarang. Disosor seperti ini, membuatnya kikuk.
Dia pun akhirnya berpamitan dengan Tea dan Fatma. Walaupun berat, tetapi Tea harus rela melepaskan Nalendra. Maksudnya, membiarkan Nalendra menyelesaikan urusannya lebih dulu dan berharap dia akan kembali.