
Nalendra pun asyik mengobrol dengan Tea dan ibunya, tanpa terasa sudah hampir Subuh. Nalendra memutuskan untuk sholat berjamaah di Masjid terdekat, sedangkan Tea dan Fatma sholat berjamaah di rumah.
Sementara itu, di tempat terpisah. Selepas Sholat Subuh, Niken pun bersiap-siap untuk meninggalkan hotel. Firasatnya buruk sejak semalam, apa lagi Niken belum mendapatkan kabar terbaru dari Tantenya perihal Tea yang meninggalkan rumah.
Mobilnya yang sempat hilang, semalam sudah diantarkan ke hotel tempatnya menginap. Ada miskomunikasi yang terjadi saat di rumah sakit. Namun, semuanya sudah bisa teratasi.
"Aku sudah menghubungi ayah dan ibu, mereka akan menyusul ke Surabaya nanti."
"Bagus, kalau mereka langsung menyusul kita ke Surabaya," balas Ardi yang berdiri di belakang Niken, sembari memasang jam tangan.
Niken tampak begitu terburu-buru. Memoles wajahnya dengan make up sederhana. Sedangkan Ardi juga ikut mempersiapkan dirinya. Ini kali pertama Ardi berpergian ke tempat yang jauh. Biarpun, masih berada di pulau Jawa, tetapi Ardi belum pernah ke Surabaya.
Setelah mendapat kabar kurang baik dari Tantenya yang berada di Surabaya, membuat Niken mempercepat perjalanannya ke sana. Seharusnya, masih ada satu Minggu lagi sebelum pernikahan sepupunya diadakan.
Malam itu juga Niken langsung menelpon Mita dan Bambang yang berada di Jakarta. Mereka mengatakan akan segera pergi ke Surabaya.
"Ayo!" Niken sudah siap dengan tas yang terselempang di bahunya. "Jangan sampai ada barang yang tertinggal." Tidak lupa dia mengingatkan pada Ardi untuk memeriksa barang-barangnya kembali.
Ardi pun mengangguk, "Aku hanya membawa ponsel saja karena kan kita ke hotel pun tidak membawa barang apa-apa," ingatnya yang membuat Niken tersipu malu.
"Benar juga ya. Kenapa juga aku begitu heboh sejak tadi. Ada-ada saja aku ini."
Niken menepuk keningnya, sebelum akhirnya mengajak Ardi untuk meninggalkan kamar. Ardi lebih dulu mengeluarkan kunci kamar, selanjutnya dia menyusul Niken yang sudah ngacir.
Keduanya berjalan berdampingan, saling mengumbar senyuman walau pikiran masing-masing sedang memikirkan hal lain.
Beberapa menit berikutnya, keduanya sudah berada di loby hotel. Niken sudah berdiri di depan resepsionis.
"Mba, kami akan cek out hari ini," ujarnya sembari menyerahkan kunci kamar pada resepsionis, tidak lupa kartu kredit pun dia berikan sebagai alat pembayaran.
__ADS_1
"Mohon ditunggu ya, Mba," balas resepsionis itu sembari mengambil kartu kredit milik Niken.
Ardi pun menghampiri Niken. "Bagaimana? Apa sudah selesai?" tanyanya sembari merangkul bahu sang istri, sebagai bentuk perhatiannya pada Niken.
Niken menatap manik hazel sang suami, "Mereka sedang mengurusnya. Kau tenang saja, ini hanya perlu beberapa menit saja. Kita akan segera pergi."
Entah mengapa firasatnya tidak baik, seperti ada hal buruk yang akan terjadi. Ardi ingin cepat-cepat meninggalkan hotel.
Para staf resepsionis terus menatap keduanya, yang membuat Niken dan Ardi merasa tidak nyaman. Niken ingin sekali melepaskan tangan Ardi yang bergelayut di bahunya.
"Mba, Niken." Resepsionis, memanggil dan Niken pun mendekat. "Terima kasih, telah menikmati pelayanan kami. Semoga Mba dan suami menikmati perjalanannya."
"Terima kasih kembali." Niken pun mengambil kartu kreditnya kembali. Selanjutnya dia dan Ardi meninggalkan hotel tersebut.
Saat sampai di parkiran, mendadak ponsel Ardi berdering. "Tunggu! Ada yang menelponku." Ardi segera mengeluarkan ponselnya dari saku celana.
Nomor yang tertera di layar ponselnya tidak dikenal. Ardi ragu-ragu untuk menerima panggilan tersebut.
"Assalamualaikum. Siapa, Ya?" Ardi mengucap salam untuk membuka perbincangan.
Perlahan-lahan senyumannya memudar, seketika matanya membulat saat seseorang di ujung panggilan sana menceritakan sesuatu. Niken langsung menangkap perubahan ekspresi Ardi.
"Ada apa?" Niken mendekat pada sang suami. "Siapa yang menelpon?"
Ardi mengakhiri sambungan teleponnya, "Pihak rumah sakit yang menelponku dan mengatakan kalau Melati, mencoba untuk mengakhiri hidupnya."
Bibir Ardi begitu bergetar saat mengatakan kabar yang telah didapatnya dari sambungan telepon tadi.
"Astaghfirullah ... Ya Allah, Melati. Kenapa dia mengambil tindakan seperti itu? Aku tidak tahu apa isi pikiran wanita ular itu!"
__ADS_1
Mendadak napasnya memburu, memikirkan tindakan yang diambil Melati membuatnya mengepalkan kedua tangan. Namun, seketika emosinya mengendor saat kalimat keluar begitu saja dari sang suami.
"Maaf, sepertinya aku tidak bisa ikut denganmu ke Surabaya," akunya walau berat.
"Kenapa? Why? Apa kamu ingin menemui Melati?" tebaknya yang bisa melihat dari gerak gerik sang suami.
Ardi mengangguk tanpa keraguan. "Maaf Niken, tapi aku tidak bisa meninggalkan dia sendirian. Keluarganya sudah membuangnya dan dia tidak memiliki siapa-siapa lagi. Aku mohon padamu, untuk mengerti situasinya sekarang. Bukannya aku tidak mau bertemu dengan keluargamu di Surabaya, tetapi situasinya sekarang begitu genting."
Kalimatnya terjeda. Dia tidak dapat melanjutkannya saat melihat kristal bening mulai menggenang di mata sang istri.
Mendengar pernyataan tersebut, membuat renung hatinya menjadi sesak. Entah mengapa, Niken ingin sekali marah pada sang suami?
Kalau saja dia bisa, ingin sekali Niken mengatakan 'Untuk apa peduli dengan wanita yang jelas-jelas sudah mengkhianati kepercayaannya? Ini adalah tipu muslihat yang coba Melati permainkan'.
Niken ingin sekali mengatakan hal tersebut, mengeluarkan semua unek-uneknya agar Ardi menyadari drama yang sedang Melati mainkan. Namun, dia tidak bisa berbuat apa-apa.
"Pergilah! Saat ini Melati sedang membutuhkan dirimu. Buatlah dirinya tenang dan katakan untuk tidak mengakhiri hidupnya."
Niken juga menambahkan, dirinya akan pergi seorang diri ke Surabaya dengan mengambil penerbangan ke sana. Setidaknya akan memangkas jarak tempuh.
Ardi pun mengangguk setuju. "Terima kasih. Kamu adalah wanita yang sangat baik. Maaf karena tidak bisa menemanimu ke Surabaya. Mungkin dilain kesempatan." Ardi mengecup kening istrinya. "Sekali lagi terima kasih karena kamu bisa memahaminya dan maaf karena sudah membuatmu kecewa. Salam untuk Tante dan sepupumu di sana."
Setelah mengatakan pesannya dan tanpa mendengarkan jawaban dari Niken, Ardi bergegas meninggalkan parkiran. Perlahan-lahan sang suami luput dari pandangannya.
Niken seorang diri di sana. Tubuhnya lunglai seketika dan tersungkur di tanah. Matanya menatap kosong objek yang ada di depan.
"Mengapa kamu melakukan ini padaku, Ardi?" Niken bergumam dengan seluruh tubuhnya bergetar. "Kau meninggalkanku demi wanita yang jelas-jelas telah mengkhianatimu. Bahkan kau pergi tanpa mendengarkan penjelasanku dulu? Apakah, wanita itu lebih penting dari keluargaku, istrimu sendiri? Siapa wanita itu? Dia hanya masa lalumu, sedangkan aku adalah wanita halal-mu ..."
Niken menangis sejadi-jadinya di sana. Tidak ada orang yang melihatnya karena suasana parkiran masih sangat sepi. Niken meraung-raung mencoba memanggil Ardi kembali. Namun, teriaknya tidak mampu membuat Ardi datang padanya. Renung hatinya begitu sesak.
__ADS_1
Niken bertanya-tanya. Apa pakah suaminya itu tidak memikirkan perasaannya sebagai seorang istri? Saat seorang pria yang sudah beristri, ia lebih mementingkan wanita lain ketimbang istrinya sendiri, bagaimana perasaan istrinya sekarang?