Suami Kontrak Yang Kucinta

Suami Kontrak Yang Kucinta
36 Kita Bertemu Lagi


__ADS_3

"Assalamualaikum," salam dari seseorang yang disertai dengan ketukan pintu.


"Mas Nalendra!" sebut Tea begitu bersemangat.


Begitu nama Nalendra disebut, Niken berbalik badan dengan cepat. Rambutnya yang sengaja tergerai pun berputar 360 derajat. Nalendra yang berdiri di bibir pintu langsung disuguhkan pemandangan indah, menampakkan sosok wanita cantik yang tidak pernah asing baginya.


Pandangannya dan Niken saling bertemu. Berada dalam garis lurus. Tak ada objek yang menghalangi keduanya. Kunci mobil yang dipegangnya sampai terjatuh, saking terpesonanya dia akan kecantikan seorang Niken Angelista Atmaja.


Terhitung sudah lima belas tahun dirinya tidak bertemu Niken. Sejak itu pula baik dia maupun Niken sama-sama tidak saling menghubungi.


"Mas Nalendra," sebut Niken lirih. Biarpun begitu tidak ada yang mendengar gumaman Niken.


Nalendra pun membawa langkahnya untuk memasuki ruangan. Tatapannya tidak bisa lepas dari Niken, sampai dia hampir jatuh karena pesona Niken mampu menghipnotisnya. Di antara semua yang hadir di ruangan, Tea yang paling antusias pada Nalendra.


Sebaliknya, Niken malah melongo. Tubuhnya seketika mematung, otot-otot dan syarafnya seolah berhenti berfungsi. Kehadiran Nalendra membuatnya seperti mati rasa dan sulit untuk mengendalikan perasaannya.


"Mas Nalendra!" Tea pun berlari, tangannya membentang seakan-akan ingin memeluk. Akan tetapi, setelah jaraknya hanya beberapa jengkal saja Tea mengentikan kakinya. Lalu, memberikan senyuman terbaik pada pria yang mungkin sekarang sudah mengisi kekosongan hatinya. Dapat dikatakan pula, ini adalah senyuman terbaik yang pernah Tea tunjukkan pada seorang pria.


Jika Tea merasa bahagia akan kedatangan Nalendra, maka berbanding terbalik dengan Niken. Kakinya lunglai dan hendak terjatuh ke sofa. Akan tetapi, Niken bisa mengendalikan dirinya dan mempertahankan kesadarannya.


Semula Niken tidak berani menatap manik indah Nalendra, tetapi dia mau melihatnya juga walaupun hanya sebatas lirikan saja.


Mita pun mengelus-elus bahu putri tercintanya, "Tenangkan dirimu, Sayang. Mama tahu seperti apa perasaanmu sekarang. Kendalikan dirimu, Sayang. Kamu sudah bukan putri keluarga Atmaja lagi, tetapi sudah menjadi Nyonya Ardi Bagaskara," bisik Mita yang bermaksud bukan sekedar memberi tumpuan, tetapi pengingat juga.


"Jadi, kamu jangan sampai mengkhianati kepercayaan suamimu itu. Walaupun mama tahu, dia engga ada si sini, tapi kamu jangan sampai mengecewakan Ardi," pesan Mita sekaligus mengakhiri kalimatnya.


Niken mengangguk pelan, seraya menarik napas dalam-dalam lalu membuangnya perlahan. Kini guratan tipis mulai terlihat di tepi bibirnya. Tatapannya pada Nalendra sudah berbeda dari sebelumnya.


Mita tersenyum simpul pada Niken karena putrinya itu telah berhasil menata hati serta mengendalikan perasaannya. Sebagai ibu, yang merangkap menjadi teman sekaligus sahabat, tentu Mita mengetahui semua rahasia, mulai dari hal-hal kecil sampai kisah asmara yang terjadi pada putrinya.


Nalendra bukanlah orang baru dalam kehidupan keluarga Atmaja, terutama Niken begitu akrab dengan Nalendra sejak semasa SMA.


"Nak, Nalendra. Bagaimana kabarmu?" Mita segera menyapa Nalendra yang tampak asyik mengobrol dengan Tea di sudut sana.


Tea berbalik badan saat Mita datang menghampiri. Nalendra pun melempar senyuman lembut, lengkungan sempurna di sudut bibirnya membuat siapa pun yang melihatnya menjadi terpesona.


"Assalamualaikum, Tante. Bagaimana kabar Tante?" Nalendra meraih tangan Mita, lalu mengecup punggung tangan wanita satu anak tersebut.


"Waalaikumsalam, Nak. Kabar Tante Alhamdulillah baik. Lalu, bagaimana kabar kamu? Kapan kamu sampai di Indonesia? Kabar orang tuamu bagaimana, apa mereka masih di Inggris?" cecar Mita dengan berbagai pertanyaan.

__ADS_1


Mita sedikit menyinggung tentang orang tua Nalendra. Hal tersebut membuat Tea serta Fatma bertanya-tanya. Mungkinkah ada hubungan di antara Nalendra dengan keluarga Atmaja?


"Alhamdulillah kabar mama dan papa baik. Mereka akan menyusul nanti, saat ini masih sedang mengurus berkas-berkas untuk pulang ke Indonesia," balas Nalendra tersenyum simpul.


Mita mengangguk dengan matanya yang mengedip satu kali, "Jadi mereka akan menetap kembali di Indonesia?"


"Ya Tante. Rencananya si begitu. Doakan saja semoga semuanya berjalan lancar tanpa hambatan. Kepulangan mama dan papa dimudahkan."


"Amin." Tea dan Mita sama-sama mengaminkan doa tersebut. Begitu juga dengan Fatma yang berdiri jauh di sana.


Sementara itu, Niken masih diam di posisinya. Nalendra sedikit melirik ke arah wanita yang pernah mengisi ruang hatinya tersebut. Dia melempar senyuman tipis sebagai bentuk sapaan untuk Niken di sana.


Niken mengerakkan kepalanya satu kali, untuk membalas sapaan tersebut. Tidak lama kemudian, Fatma maju guna menyapa Nalendra yang telah datang kembali.


"Selamat datang kembali, Nak. Apa sesuatu yang kamu butuhkan, Nak?" tanyanya memecah keheningan.


Pertemuannya dengan keluarga Atmaja kembali membuat Nalendra lupa akan tujuannya datang ke rumah Fatma.


"Ah, astagfirullah. Maaf Tante. Nalendra ke sini karena dompet Nalen ketinggalan di kamar tamu. Sepertinya Nalen letakkan di atas kasur saat mau sholat Subuh tadi," bebernya tersenyum canggung.


Mendengar pengakuan tersebut membuat Tea langsung bereaksi, "Ah, dompet ya Mas. Kalau begitu biar Tea aja yang ambil. Mas Nalendra tunggu di sini. Tea ke kamar tamu dulu."


Nalendra pun diajak dipersilahkan duduk oleh Fatma. Mita ikut menggandeng tangan pria yang pernah dekat dengan putrinya itu.


"Duduklah," pinta Bambang karena sejauh yang dilihatnya Niken hanya mematung dan bungkam seribu bahasa.


Bukan hanya Mita saja yang mengetahui kisahnya, tetapi Bambang selaku ayah, sekaligus cinta pertama bagi Niken tahu persoalan putrinya dengan Nalendra.


Niken menurut, tetapi tidak ada serpihan kata yang mampu diucapnya hanya anggukan kecil untuk mengisyaratkan jawabnya.


"Kamu mau minum apa, teh, kopi, atau jus?" tanya Fatma dengan segala keramahannya.


Nalendra menatap lekat netra wanita berstatus ibu satu orang anak itu, "Terima kasih Tante. Engga usah repot-repot. Nalendra juga engga akan lama kok. Masih ada urusan di luar."


"Urusan apa? Baru juga ketemu, udah main pergi aja. Apa engga kangen sama Niken?" celetuk Mita bernada menggoda.


"Ma," lirih Niken dari sebrang sana. "Apa-apaan si, Ma? Niken engga suka deh mama ngomong kayak gitu," tambahnya protes.


Mita pun terkekeh geli, sedangkan Fatma menatap penuh tanda tanya, sementara Nalendra tersenyum canggung, sembari curi-curi pandang pada Niken.

__ADS_1


Niken sendiri malah menyelengos tidak peduli dengan tatapan hangat Nalendra. "Ayah, sepertinya aku harus pergi. Nalendra memintaku untuk menyusulnya ke Inggris," ungkap Niken lirih pada Bambang Adi Atmaja yang duduk di sebelahnya.


"Ada apa, Sayang? Kenapa dengan Ardi?" Mita pun secara tidak langsung mendengar ungkapan Niken, ditambah ekspresi wajahnya yang seperti tidak tenang.


"Ardi siapa, Tante?" celetuk Nalendra sedikit penasaran.


Niken yang hendak menjawab pertanyaan Mita pun sampai mengurungkan niatnya. Kalimatnya seolah masuk kembali ke tenggorokannya.


"Ardi adalah suaminya Niken," aku Mita tanpa ditutup-tutupi.


"Suami Niken? Maksudnya Niken sudah menikah begitu?" Nalendra menelan ludahnya berat-berat, matanya sempat melotot saat mengetahui Niken telah memiliki suami.


"Ya, benar. Setelah berdebatan panjang akhirnya Niken mengenalkan calon suaminya. Satu Minggu berikutnya, mereka menikah juga," beber Mita seraya menatap Niken penuh haru.


Nalendra tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya, dari sorot matanya tergambar jelas kalau dirinya sulit menerima kenyataan tersebut.


Dia mengulum bibir bawahnya, mengubah posisi duduknya ke sana kemari, seperti seseorang yang sedang ada bisul sehingga sulit untuk duduk tenang.


Senyuman kepalsuan terpampang nyata darinya saat berusaha menanggapi ucapan Mita. Dia tidak bisa menyembunyikan rasa kesalnya dari Niken. Kekecewaannya sungguh dapat Niken rasakan hanya dari mata dan gerak bibirnya saja.


"Sepertinya, Nalendra harus pergi sekarang Tante. Tidak enak membuat mereka menunggu di sana. Lain kali Nalendra akan datang ke sini lagi," ungkapnya tergesa-gesa.


Nalendra pun beringsut dari tempat duduk. Posisinya yang diapit dua wanita satu generasi itu, membuat Nalendra semakin tidak nyaman. Ditambah Niken terus saja diam dan menyelengos seolah tidak mau memberikan penjelasannya.


"Terus bagaimana dengan dompetnya, Nak?" Fatma pun ikut bangkit dari duduk. "Tea akan segera kembali. Tunggulah sebentar lagi, dia akan membawakan dompet kamu ... Tea!" teriak Fatma memanggil.


"Sudah Tante, tidak apa-apa. Nanti Nalendra datang lagi untuk mengambil dompetnya. Sekarang Nalendra sudah sangat terlambat, Tan. Lain waktu lagi, Nalen mampir ke sini," terangnya meminta pengertian.


Fatma mengelah napas pelan, "Baiklah. Tapi janji ya kalau urusannya udah selesai, mampir lagi ke sini."


Nalendra mengangguk. Namun, tidak menanggapinya lebih jauh. Selanjutnya dia menyalami satu persatu orang-orang dewasa di sana.


"Assalamualaikum." Nalendra mengucap salam sebelum pergi. "Mari!" katanya sebagai sapaan, saat langkahnya berada sejajar dengan Niken. Barulah dia benar-benar hilang dari pandangan.


"Mas Nalendra, ini dompetnya ..." Tea pun mengakhiri kalimatnya saat tahu kalau Nalendra sudah tidak ada di sana. Langkahnya bahkan terhenti di tengah-tengah anak tangga.


"Ma, Ayah. Tante. Aku pergi dulu. Ardi memintaku untuk menyusulnya ke Inggris," ungkap Niken terburu-buru.


Tidak menunggu lama lagi. Dia langsung menyalami tangan Mita, Bambang dan Fatma. Belum sempat mereka berkata-kata, Niken sudah lebih dulu berlari meninggalkan ruangan.

__ADS_1


Mita yang melihatnya pun seketika menjadi cemas, takut-takut telah terjadi hal buruk pada Ardi, sehingga Niken begitu tergesa-gesa.


__ADS_2