
Niken kian cemas dikarenakan Ardi tidak kunjung mengangkat panggilan telepon darinya. Sementara itu, mundur beberapa jam yang lalu. Ardi telah sampai di rumah sakit dengan baik taksi. Itu pun kalau tidak mendesak, mungkin supir taksinya tak akan memberikan tumpangan.
Ardi memasuki rumah sakit dengan berlari. Tidak peduli suasana di sana begitu ramai dan orang-orang menatap kearahnya. Sekarang, bagaimana caranya dia sampai di ruangan Melati, sebelum sesuatu terjadi padanya.
Ardi memasuki lift. Setelah beberapa menit berada di lift, akhirnya dia sampai juga di lantai, di mana ruangan Melati berada. Dia berlari sekencang mungkin menuju arah selatan, ruangan yang ditempati Melati.
Tanpa mengucap salam lagi, Ardi menerobos ruangan tersebut. Napasnya terengah-engah saat sudah melihat Melati berada di ranjangnya, dengan kondisi yang masih baik-baik saja.
"Ardi!" Melati berteriak kegirangan saat Ardi telah datang deminya. Sementara itu, Napas Ardi terengah-engah. Pandangannya pun sedikit kurang fokus karena berlari tanpa henti tadi. "Melati ..." sebutnya dan entah kalimat apa yang ingin dilontarkannya.
"Nyonya tidak boleh bergerak dulu." Dokter yang sedari tadi mengawasi Melati pun tidak akan membiarkan wanita yang tengah mengandung itu untuk bergerak karena pada Pase ini, janinnya masih sangat lemah.
Melati ingin melawan, tetapi akhirnya dia mengalah. Andai saja Ardi tidak mendatanginya mungkin dia tetap berlari.
"Bagaimana keadaannya sekarang, Dok?" tanya Ardi meminta penjelasan yang sesungguhnya.
Melati menatap lekat Ardi. Matanya begitu berkaca-kaca dan tentunya memasang wajah memelas. Akan tetapi, Ardi tidak menghiraukannya. Meliriknya sejenak, lalu fokus pada Dokter kembali.
"Keadaannya sudah membaik, Tuan Ardi. Hanya saja kondisi janinnya sempat melemah. Andai perawat datang lebih lama, kemungkinan janinnya tidak akan selamat dan nyawa Bu Melati pun berada dalam bahaya," beber Dokter tersebut apa adanya.
Ardi mengelah napas lega. Kabar yang didengar setidaknya mengangkat sedikit beban di bahunya.
"Kalau begitu saya mohon pamit dulu karena masih ada banyak pasien yang harus saya tanganin," ucap Dokter tersebut.
Ardi pun mengangguk, dengan ekspresi yang begitu lelah. "Terima kasih, Dokter. Maaf karena sudah membuat Dokter repot." Dia sangat menunjukkan rasa hormatnya pada Dokter yang telah menangani Melati.
Dokter itu membalas dengan membungkuk setengah badan. Lalu, mulai melenggang meninggalkan ruangan tersebut. Setelah Dokter itu pergi dan perawat pun mengekor di belakangnya, sekarang saatnya mengintrogasi Melati.
__ADS_1
Ardi sedari tadi sudah sangat geram pada wanita yang pernah dipuja-puja itu. Andai bukan karena hormatnya pada sang Dokter, Ardi sudah memarahi Melati. Mungkin.
"Kenapa kamu melakukan ini, Melati?! Kamu kira bunuh diri akan menyelesaikan masalah?!" bentaknya tanpa menahan emosi lagi.
Ardi begitu kecewa, tidak menduga sebelumnya kalau Melati memiliki pikiran untuk mengakhiri hidupnya di tengah-tengah kehamilannya.
"Aku tahu orang tuamu sudah tidak mau menerimamu kembali, tetapi bukan seperti ini juga caranya. Apa kamu tidak kasihan dengan anak yang dikandungmu? Dia tidak berdosa. Kamu tahu itu bukan?!"
Ardi terus membentak Melati, sampai air liurnya muncrat di wajah mantan kekasihnya itu. Namun, Melati tidak berani mengangkat kepalanya, apa lagi menatap mata Ardi. Ketika marah, dia begitu kasar dan emosional.
"Maaf ..." Kata tersebut terlontar begitu saja dari mulutnya.
Ardi menaikkan sebelah alisnya, "Maaf katamu?" Dia mendekatkan wajahnya sedekat mungkin dengan Melati. Tatapannya mengintimidasi, membuat Melati semakin takut untuk melihatnya.
"Sekarang kamu baru mengatakan maaf? Apa kamu tahu, seharusnya saat ini aku berada bersama Niken, istriku!" Ardi berteriak saat menyebut Niken sebagai istrinya. Sengaja dia menekan kata tersebut agar mata Melati terbuka.
"Aku ... Hanya karena pemikiran bodohmu, aku harus pergi meninggalkan Niken. Dia pergi seorang diri ke Surabaya. Sebagai suaminya, sudah sepatutnya aku mendampinginya dan bukan meninggalkannya sendiri!"
Tidak ada kabar membahagiakan selain, tahu Ardi telah meninggal istrinya. Melati mengangkat kepalanya, melihat Ardi yang sedang mondar-mandir sambil memegangi kepalanya.
Bukannya bersalah, Melati malah mengagumi Ardi yang tengah cemas itu. "Dia terlihat semakin tampan," gumamnya, meracau sambil menggigit bibir bagian bawahnya.
Melati menjatuhkan pandangannya pada otot-otot kekar Ardi, yang dia tahu kini lebih berisi. Dulu Ardi, adalah pemuda kurus dan seperti orang yang kekurangan gizi. Pakaiannya juga sangat sederhana dan banyak belas jahitan di baju dan celana.
Namun, sekarang. Melati bisa melihat perubahan besar terjadi pada Ardi. Dia berpikir, apa karena Ardi sudah menikah atau mantan kekasihnya itu sangat dimanjakan oleh istrinya, secara Niken Angelista Atmaja terlahir dari keluarga kaya.
Melati terus tersenyum bahagia melihat Ardi yang kini sudah tampak berbeda dengan Ardi yang dikenalnya dulu.
__ADS_1
Mata Melati seketika tertuju pada bagian bawah yang diapit kedua paha. Sesuatu yang tersembunyi di balik celana. Melati menggigit bibir bawahnya, saat dia dapat merasakan tubuhnya dihantam oleh milik Ardi.
"Ahhh." Dia sedikit mendesah tatkala kala milik Ardi semakin membesar. Pemuda yang sedari tadi mondar-mandir tersebut. Dia menatap Melati lamat-lamat. Semula dia tidak memahami arah pandangan Melati. Namun, akhirnya dia sadar.
"Apa yang kau lihat?!" bentaknya, berjalan agak cepat menuju ranjang Melati. Lalu melepaskan tatapan intimidasi.
"Aku tidak tahu, sekarang kamu semakin gagah," godanya tanpa malu.
Bukannya merasa takut ataupun bersalah, sebaliknya Melati malah menggoda Ardi. Jari telunjuknya mengarah pada perut sixpack Ardi.
Dari balik kemejanya, Melati bisa menebak perut kotak-kotak yang Ardi miliki sekarang. Bibirnya semakin dimainkan sehingga air liurnya keluar, buru-buru dia menjilat dan memasukkan jemarinya kedalam mulutnya sendiri.
Tidak sampai di sana saja, dia begitu beraninya menarik tangan Ardi. Lalu, memasukkan tangan Ardi ke mulutnya.
"Astaghfirullah, Melati. Apa yang kamu lakukan? Tidak baik." Ardi buru-buru menarik tangannya agar terlepas dari jerat Melati.
"Ada apa, Sayang? Bukankah ini yang kamu mau, yaitu malam pertama pernikahan kita," ucap Melati sambil turun dari ranjangnya. Dia membawa langkahnya untuk bisa lebih dekat dengan Ardi.
Pemuda dua puluh tujuh tahun itu menjauhkan dirinya dari sang mantan kekasihnya. Melati kian agresif membuat Ardi bergidik geli.
"Apa yang kau inginkan?!"
Melati mengendus-endus aroma parfum yang dipakai Ardi. Aromanya semerbak begitu harum dan memabukkan, yang menambah gairahnya semakin naik.
"Aku tebak, kau tidak melakukan suatu pada istrimu itu. Benar 'kan tebakanku?"
Ardi tidak menjawab, sebaliknya mencari cara agar terlepas dari Melati. "Menjauh dariku!" Ardi mendorong tubuh mantan kekasihnya tersebut, sehingga membuat wanita penggoda itu terduduk di lantai.
__ADS_1
"Aaaauu!" jeritnya sembari memegangi perut.
Ardi sempat acuh karena jeritan tersebut hanya akal-akalan Melati agar dirinya mau membantu. "Maaf Melati, tetapi jeritan darimu tidak akan membuatku berpaling."