Suami Kontrak Yang Kucinta

Suami Kontrak Yang Kucinta
45 Dikamar Berdua


__ADS_3

"Nyonya! Nyonya! Jawab aku!" Luna berteriak sambil menggedor-gedor pintu agar Niken yang disinyalir tengah berada di dalam dapat mendengar suaranya.


Semakin keras Luna berteriak, membuat seseorang yang berada di lantai dua pun akhirnya terbangun.


"Apa yang sedang Bi Luna lakukan di sana?" seru orang tersebut, yang tidak lain adalah Niken.


Luna berbalik badan, kepalanya mendongak, menatap sepasang suami-istri yang tengah berdiri menatap dirinya.


"Nyonya!" lirih Luna, dengan kalimat yang tertahan di tenggorokannya. Melihat ke belakang pada ruangan yang pintunya tertutup, lalu kembali menjatuhkan pandangan pada Niken di atas sana.


"Ada apa dengan Bi Luna?" tanya Ardi sambil mendekat pada Niken.


"Entahlah. Sepertinya Bi Luna melihat aku pergi ke kamar itu, tapi dia engga tahu kalau aku udah keluar dari kamar itu. Lihat aja wajahnya, begitu cemas."


****


Kejadian malam kemarin. Niken pun sudah menutup rapat-rapat pintu kamarnya, sementara itu Ardi masih berdiri di lantai dua. Rasa sesalnya begitu tinggi sehingga dia enggan meninggalkan posisinya.


Krek ...


Terdengar suara pintu yang seolah ingin terbuka. Buru-buru Ardi menuruni anak-anak tangga. Sebelum, Niken keluar, Ardi sudah lebih dulu menerobos masuk kamar tersebut.


"Apa yang kamu lakukan?" Niken hampir saja menjerit. Namun, Ardi sudah lebih dulu membekap mulutnya dengan sebelah tangan.


Mata Niken melotot saat tahu Ardi sudah berada di depannya. Ardi pula menariknya untuk masuk kembali dan mendorong Niken ke tembok. Ardi memangkas jarak di antaranya dan Niken.


"Lepaskan!" Niken menarik tangan Ardi, berusaha untuk bisa berteriak. Namun, tangan Ardi yang lainnya berhasil membungkam mulutnya.


"Kenapa kamu sangat pemarah? Bukankah ini yang kamu inginkan?" lirih Ardi menggoda.


Niken menarik paksa tangan Ardi, "Sudah aku katakan. Kamu tidak memiliki hak untuk menyentuhku, apa lagi melakukan hal semacam itu," hardik Niken, sambil menelan ludahnya berat-berat.


Senyuman Ardi tersungging, "Sungguh? Bukankah, kamu tadi memberiku izin untuk melakukan itu, Sayang."


Ardi mendekatkan wajahnya, panggilan 'Sayang' dia ucapkan begitu mesrah dan menggoda di telinga istrinya. Alhasil membuat bulu kuduk Niken berdiri semua.


"Aku akan melakukanya, Sayang. Kali ini aku akan membuat kamu mendesah keenakan dan lemas. Kamu tidak akan pernah bisa melupakan malam ini," bisik Ardi kian menggoda.


Niken tertegun dengan mata melebar. Tubuhnya semakin bergidik geli kala hembusan napas Ardi menyentuh telinganya. Darahnya berdesir. Entah dia harus melakukan apa sekarang?

__ADS_1


Ardi sangat senang melihat ekspresi wajah istrinya yang sedang melongo itu. Tanpa menunggu jawaban Niken, Ardi segera menggendong istrinya ala bridal style.


"Hey, apa yang kamu lakukan? Turunkan aku!" teriak Niken sambil memukul-mukul bidang dada Ardi. Meminta Ardi untuk menurunkan tubuhnya.


"Aku tidak akan menurunkanmu, Sayang. Kita akan melanjutkan yang tadi sempat terganggu itu."


Ardi menyeringai, senyumannya mampu membuat Niken menelan ludahnya berat-berat. Belum pernah sekalipun Niken melihat Ardi seserius ini.


Sedangkan Ardi pun belum pernah seberani ini pada wanita. Senyumannya begitu percaya diri, walaupun di lubuk hati terdalamnya, dia merasa cemas karena ini kali pertama dirinya berhubungan dengan wanita.


Sebelumnya, dia memang pernah melakukan hubungan intim dengan wanita, tetapi dilakukannya tanpa kesadaran penuh.


Ardi pun membawa Niken ke kamar, "Turunkan aku!" paksa Niken, sambil memukul-mukul bidang dada Ardi.


Lagi dan lagi, tindakannya hanya mendapatkan senyuman nakal dari suaminya dan hasilnya selalu sama. Yaitu, membuat bulu kuduknya semakin berdiri.


Ardi telah membuka pintu kamar, tanpa menunggu lama lagi segera dia membawa Niken masuk. Lalu, mengunci pintunya dan berjanji dalam hati.


Tidak akan sekalipun dia membuka pintu tersebut, sebelum malam ini berakhir. Dirinya tidak akan membuat kesalahan untuk yang kedua kalinya.


Ardi membawa langkahnya menuju ranjang berukuran besar, dengan seprai bermotif bunga anggrek tersebut.


Niken mengelah napas panjang. Memasrahkan dirinya malam ini. Cepat atau lambat, dirinya memang harus melakukan kewajibannya sebagai seorang istri.


Napas Niken memburu. Dadanya naik turun, saat sentuhan demi sentuhan Ardi menyentuh kulitnya. Menciptakan kenyamanan yang semasa hidupnya belum pernah Niken rasakan.


Begitu juga dengan Ardi. Biarpun dia pernah tidur dengan janda kembang dan menghabiskan malam dengan wanita itu, tetapi Ardi tidak pernah mendapatkan kenikmatan dunia, seperti yang dirasakannya sekarang.


"Aaaagggh ...," desah Niken yang tidak bisa menahan suara kenikmatannya itu.


"Arrrgghh ..." Ardi pun mengeluarkan desahannya, saat penyatuan ini mulai mencapai puncaknya.


Malam indah nan panjang itu berlalu begitu sempurna. Dua insan yang sama-sama berada dalam masa perkenalan dan memahami sifat masing-masing pasangan, telah menerima satu sama lain.


****


"Maafkan saya Nyonya karena kecerobohan saya, sudah membuat Tuan dan Nyonya terbangun," sesal Luna sambil menundukkan kepala. Tidak berani menatap langsung manik Niken dan Ardi.


"Kenapa Bi Luna meminta maaf? Wajar saja kalau Bi Luna merasa cemas karena yang Bi Luna ketahui, bahwa aku berada di kamar itu. Bagiku bukan masalah. Sebaliknya aku merasa senang karena Bi Luna benar-benar mencemaskan kondisiku."

__ADS_1


Niken beranjak dari kursi kerjanya. Membawa langkah kecilnya menuju Luna yang berdiri dengan tubuh gemetar di sana.


"Bukan begitu Nyonya. Saya takut Nyonya marah karena saya ikut campur dalam urusan Nyonya dan Tuan," aku Luna penuh sesal.


Tubuhnya kian dibanjiri air keringat. Tindakannya yang tanpa sengaja menguping pembicaraan Ardi dan Niken kemarin malam, sungguh tidak dapat dimaafkan. Andai saja kalau kemarin malam dia tidak melihat Niken masuk ke kamar itu, mungkin kejadiannya tidak seperti ini.


Niken tersenyum lembut pada Luna yang enggan sekali mengangkat kepalanya, "Terima kasih Bi." Niken tak melontarkan kata-kata kasar, melainkan memeluk Luna dengan erat.


Luna tertegun sejenak, sebelum akhirnya dia berhasil mendapatkan kembali kesadarannya, membalas pelukan Niken dengan senyuman lega.


Niken tidak mengatakan apa-apa. Namun, dirinya yakin Luna bisa memahaminya. Ardi yang melihat dari kejauhan pun tampak menyunggingkan senyumnya. Ini kali pertama, dia melihat seorang majikan begitu sayang pada pelayannya.


Semasa hidupnya, Ardi hanya melihat bagaimana seorang majikan begitu arogan pada pelayannya. Tidak segan-segan ia menghukum pembantunya tanpa alasan logis.


"Dia memang baik. Baik banget malah," batinnya. Ardi tidak dapat menyembunyikan rasa bahagianya saat melihat kedekatan Niken dengan Luna, yang tidak lain adalah pelayan rumahnya.


Ardi mulai berpikir, bahwasanya dia merasa beruntung karena bisa bertemu dengan Niken dan menjadi suaminya.


Ardi bukannya tidak tahu akan keluar Niken. Hanya saja dia kurang update tentang pemberitaan publik.


Setelah merasa lega, Luna pun pamit dari hadapan Niken karena masih ada urusan yang sudah semestinya dilakukan sebagai seorang pelayan.


Niken membiarkan Luna pergi. Selanjutnya, dia menghampiri Ardi yang sedari tadi mengumbar senyuman padanya.


"Apa?"


"Kamu hebat," pujinya tanpa mengurangi senyumannya.


"Apaan si," balas Niken sambil mencubit pinggang Ardi.


"Kok jadi apaan si? Jangan bilang yang semalam masih kurang, Ya?" godanya nakal.


Mata Niken membulat, pipinya meredam. Mengingat kejadian kemarin malam membuatnya sulit mengendalikan emosi.


Ardi semakin senang saat melihat istirnya merona, "Tuh kan, pipinya merah. Tandanya yang semalam masih kurang." Ardi melihat sekitarnya, "Ayo! Kamu mau melakukannya di mana? Aku siap aja," ajaknya semakin menggoda.


Niken meredam, "Apaan si? Udah ah, aku mau makan aja. Lapar!" tungkasnya sambil melenggang pergi dari sana.


Dia membawa langkahnya begitu buru-buru. Namun, mendadak Niken menjerit kesakitan. Bagian bawahnya begitu nyeri. Ardi segera menggendong istrinya ala bridal style.

__ADS_1


Niken mengamuk, "Turunkan aku, Ardi!" teriaknya sambil memukul-mukul bahu dan bidang dada Ardi.


"Aku akan bawa kamu ke kamar," godanya nakal.


__ADS_2