
"Apa kau kira, dengan melompat ke sungai semua masalah akan berakhir?" tanya pria itu serius. Tea pun menggeleng sembari tertunduk malu. Bibirnya terlalu berat untuk mengucapkan sepatah dua patah kata. Seolah dia kehabisan stok kalimatnya.
Pria itu mengelah napas, "Apa kau tidak merasa kasihan pada orang tuamu? Dengan kau melompat ke sungai, maka beban di pundak mereka akan semakin banyak. Masalah tidak akan berakhir hanya dengan mengambil jalan pintas. Berlari dari kenyataan, tidak akan membuat perasaan kita tenang yang ada nanti, arwah kita malah gentayangan mencari jalan keluar ..."
"Saran dariku, lebih baik kau pulang dan ceritakan semuanya pada ibu dan ayahmu. Jikalau mereka marah, maka dirimu harus menerimanya karena sudah konsekuensi yang harus kau terima. Hidup ini mudah, tetapi terkadang diri kita sendirilah yang membuatnya menjadi susah. Jadi, kembalilah pada mereka dan minta maaflah karena aku yakin, saat ini mereka pasti sangat cepat."
Pria itu menasehati Tea panjang lebar agar gadis ayu yang mencoba untuk mengakhiri hidupnya tersebut, merubah pikirannya. Bunuh diri sesungguhnya sangat tidak diperbolehkan dalam agama.
Seberat-beratnya masalah, jangan pernah berpikir untuk mengakhiri hidup karena masalah tidak akan selesai dengan kita mati.
***
Tea sudah bisa berpikir jernih kembali. Sementara itu, di kediaman keluarga Handoko. Fatmawati sedang kalang kabut mendapati putrinya yang tidak berada di rumah.
"Kerja kalian tuh bagaimana, si? Menjaga satu orang saja tidak becus! Sekarang kalian pergi keluar dan cari putriku! Cepat!" bentaknya, memerintah semua orang yang ada di kediamannya untuk mencari keberadaan Tea yang pergi entah kemana itu?
Hatinya mulai terasa tidak karuan. Ada banyak hal yang mengisi pikirannya. "Tidak ... Jangan berpikir yang bukan-bukan. Tea pasti baik-baik saja. Dia keluar hanya untuk mencari udara segar saja. Aku yakin itu. Tapi ..."
Dia sendiri mencoba untuk menepis pikiran buruk tersebut. Berusaha menenangkan hatinya kalau Tea akan baik-baik saja. Mengingat, anak gadisnya itu kerap kali keluar rumah di malam hari, menghabiskan waktu dengan teman-temannya. Jadi ada kemungkinan Tea pergi ke rumah temannya.
Biarpun demikian, hatinya tetap saja tidak tenang. Dia merasa menyesal karena telah meninggal Tea sendirian di rumah. Sejak pagi, Fatma berada di rumah tetangganya, Bu Asma karena esok ia akan menikahkan anaknya. Jadi, Fatma memutuskan untuk bantu-bantu di sana sebagai tradisi. Jika ada tetangga yang akan mengadakan hajatan, maka warga sekitar datang untuk membantu.
Fatma pulang untuk mengantarkan makanan, saat itulah dia tahu kalau putri semata wayangnya itu tidak ada di rumah. Ketika dirinya mendatangi kamar Tea, kondisi ruangan di sana sudah acak-acakan dan ada bercak darah di seprai.
Hati Fatma kian kacau memikirkan sesuatu yang mungkin saja terjadi pada putrinya. "Semoga dia baik-baik saja," ucapnya sembari mengatur pernapasan agar tidak terlalu tegang.
Fatma berasal dari keluarga yang cukup terpandang di sana. Sepeninggalan suaminya, lima tahun yang lalu, Fatma mengelola bisnis keluar Handoko yaitu milik suaminya. Selama itu pula Fatma menghidupi keluarganya seorang diri. Mulai dari sekolah Tea sampai kuliahnya sekarang dan juga asisten rumah tangan yang memang sudah sejak lama bekerja di sana.
Fatma mondar-mandir tidak karuan. Dia terus memandangi ponsel yang ada ditangannya, berharap mendapat kabar tentang keberadaan Tea. Namun, sejauh ini belum ada yang menghubunginya.
Waktu sudah menunjukkan pukul 01:30 dini hari. Di jam segini anak gadis keluar sendiri, apa lagi ia akan segera menikah. Hati Fatma kian tidak tenang, memikirkan keadaan putrinya.
Pergi kemana Tea? Dengan siapa dia pergi? Pertanyaan-pertanyaan tersebut terus mengisi pikirannya tanpa berhenti.
__ADS_1
"Niken," sebutnya tatkala pikirannya terbesit untuk menghubungi keponakannya. "Ya ... Niken pasti tahu. Tea, pasti memberitahukannya pada Niken."
Fatma buru-buru mencari nomor Niken di ponselnya. Niken Angelista Atmaja, keponakannya yang tinggal di Jakarta, sekaligus sepupu dan teman bagi Tea.
Telponnya tersambung, tetapi belum ada yang mengangkatnya. Fatma melihat ke arah jam dinding. Entah apa yang sekarang Niken lakukan di sana, ada perasaan tidak enak hati untuk menghubungi Niken di jam segini, tapi mau bagaimana lagi? Dia hanya ingin memastikan keberadaan putrinya saja.
Masih terdengar suara dering dari ujung sana. Fatma mondar-mandir, sembari menggigit jemarinya merasa gugup sekaligus tidak tenang.
"Assalamualaikum. Ya, Tante. Ada apa?"
Terdengar suara di seberang sana, yang tidak lain adalah Niken. Buru-buru Fatma mendekatkan ponselnya pada mulut.
"Niken ... Apa, Tea menghubungi kamu, Sayang? Tea tidak ada di rumah dan Tante sangat mencemaskan dia," tutur Fatma, bahkan sampai lupa membalas salam Niken karena terlalu panik.
"Tea pergi dari rumah, Tan? Kok bisa?" tanya Niken yang terdengar ikut cemas.
"Tante juga tidak tahu alasan pastinya, tapi Tante sangat cemas karena kamar Niken begitu berantakan dan banyak bercak darah di kasurnya. Tante jadi khawatir, takut Tea melakukan sesuatu ..."
Fatma setidaknya menceritakan kronologi kejadiannya pada Niken. Dari ujung telepon, Niken terdengar mengucap istighfar beberapa kali, sembari mengelah napas panjang.
"Astaghfirullah, Tan. Istighfar, Tante. Engga boleh ngomong kayak gitu deh. Istighfar. Tea pasti kembali, dia engga akan melakukan hal seperti itu, Tan. Niken yakin, dia akan pulang. Tante berdoa saja, minta sama Allah, untuk memberikan perlindungan pada Tea, di mana pun dia berada sekarang," tutur Niken menguatkan, sekaligus mengingatkan agar Tante-nya lebih tabah dalam menghadapi masalah yang ada ada.
Fatma pun mengucapkan istighfar kerena terlalu becemas sehingga lupa akan kebesaran-Nya. "Maafkan, Tante sekali lagi, Sayang. Sungguh, perasaan Tante saat ini begitu kacau sehingga tidak bisa berpikir jernih, tapi Alhamdulillah. Sekarang Tante sudah lebih tenang dan tidak seperti sebelumnya.
Niken mengucap syukur dari balik sambungan telepon. Dia bernapas lega karena Fatma sudah lebih tenang. Niken bisa memaklumi bagaimana perasaan Tantenya sekarang.
Dia juga ikut panik saat mendengar kabar Tea pergi dari rumah. Andai jaraknya dekat dengan rumah Tantenya itu, mungkin dia sudah pergi dan menemui Fatma, memberinya dukungan agar tidak terlalu bersedih.
Ketika Fatma masih berbicara dengan Niken, saat itu juga seseorang memanggilnya. "Ibu!"
Seketika Fatma memutar pandangannya, mencari sumber suara tersebut. Bibirnya bergetar, matanya kini berkaca-kaca kala melihat sosok gadis ayu yang sejak tadi dipertanyakan keberadaannya.
"Ibu!" Tea pun berlari dari bibir pintu. Fatma melepaskan ponselnya, lalu segera memeluk putri semata wayangnya tersebut.
__ADS_1
Perasaannya pecah ketika berhasil memeluk Tea kembali. Entah apa yang terjadi pada putrinya, tetapi Fatma bersyukur karena Tea kembali dengan kondisi baik-baik saja.
Tea pun terisak-isak, "Maafkan Tea, Bu karena Tea pergi dari rumah tanpa memberitahukan ibu ataupun yang lain," sesalnya tersengal-sengal.
Fatma pun melepaskan pelukannya, lalu memandang sang putri dari atas sampai ujung kaki dan kembali memeluknya erat-erat, seolah tidak ingin kehilangannya lagi.
"Kenapa kamu melakukan ini pada ibu? Apa kamu ingin melihat ibu kesepian dan mati karena rindu padamu?"
Pada kalimat terakhirnya, Tea buru-buru meletakkan jari telunjuknya di bibir Fatma. "Aku tidak akan biarkan hal itu terjadi. Maafkan Tea karena sudah bertindak bodoh hari ini. Tea, benar-benar menyesal telah membuat ibu menangis."
Tangis kembali pecah. Dia menumpahkannya dalam pelukan sang ibu tercinta. Fatma memeluknya kembali, mengelus-elus surainya. Memberikan semua kasih sayangnya saat itu juga juga.
"Hapus air matamu, Sayang," ucapnya sembari menyeka sisa kristal bening dari pipi Tea. "Ibu sudah mengetahui semuanya, Sayang. Kamu tidak salah, seharusnya ibu yang minta maaf karena harus memaksamu menikah dengan pria bajiangan itu!"
Rahang lehernya mengeras saat mengingat kembali bagaimana bejatnya calon menantunya, saat dia tidak berada di rumah. Fatma telah melihat semuanya, kebejatan Galaxy yang membuatnya jijik untuk menganggapnya sebagai calon menantu.
"Jadi ibu mengetahui apa yang terjadi di kamar itu?" tanya Tea dengan mata berkaca-kaca.
Fatma segera mengangguk, "Ibu melihat semuanya, Sayang. Semua yang terjadi di kamarmu sudah ibu lihat dan membuat ibu merasa jijik," akunya sembari merapatkan gigi-giginya.
"Bagaimana bisa ibu mengetahuinya?" tanya Tea lagi karena tidak tahu kalau ibunya telah melihat semua perbuatan menjijikkan Galaxy.
"Ibu melihatnya dari CCTV, Sayang. Ada CCTV yang sengaja ibu pasang di kamarmu tanpa sepengetahuan kamu, Sayang."
Fatma mengelus surai sang putri tercinta, sembari melanjutkan kalimatnya. "Karena ibu takut, kamu dan Galaxy melakukan sesuatu yang akan membuat kalian terjerumus dalam lingkaran Setan, Sayang."
Mendengar pengakuan tersebut, Tea memeluk Fatma dengan begitu erat. Tangisnya kembali pecah saat mengingat pengkhianatan yang dilakukan Leona di belakangnya.
"Maafkan ibu karena sudah memaksamu menikah dengan pria seperti dia. Kalau sejak awal ibu tahu, kamu tidak mencintainya maka, saat itu juga ibu akan akhiri perjodohan kalian, Sayang," sesalnya yang dapat dirasakan Tea.
"Mari kita ambil hikmahnya, Sayang. Dengan begini, setidaknya kamu tidak jadi menikah dengan pria bejat seperti dia!" erangnya. Fatma tidak bisa menyembunyikan kemarahannya saat tahu, pria yang dikira baik-baik ternyata adalah serigala berbulu domba, ular berbisa dan buaya.
Saking kesalnya, Fatma tidak menyebut Galaxy lagi. Pemuda itu bahkan lebih rendah dari sampah yang ada di jalanan.
__ADS_1
"Permisi," ucap singkat seorang pria yang berdiri di ujung bibir pintu.
"Siapa dia?" tanya Fatma kala melihat pria itu pertama kali.