Suami Kontrak Yang Kucinta

Suami Kontrak Yang Kucinta
56 Menggoda Ardi


__ADS_3

"Aku akan bawa kamu ke kamar," goda Ardi dengan senyuman nakal.


 Niken menelan ludahnya berat-berat. Tatapan mata Ardi mampu membuat bulu kuduknya berdiri. Bukan itu saja, tetapi firasatnya pun menjadi buruk. Setiap detik yang berlalu kemarin malam, masih membayang hangat di benaknya. Meskipun sudah berusaha mengalihkan pikiran untuk tidak mengingatnya lagi, ternyata tetap saja masih terbayang-bayang.


Ardi terkekeh geli melihat tingkah lucu istrinya yang begitu polos, "Ternyata dia sangat polos," batin Ardi yang tidak mau menyembunyikan rasa gemasnya terhadap Niken.


Niken berusaha menyembunyikan wajahnya. Namun, pipinya yang merona dapat terlihat jelas oleh netra Ardi.


Tanpa menahannya lagi, Ardi segera membawa Niken masuk kamar. Tidak lupa dia juga langsung mengunci pintu agar tak ada orang luar yang dapat mengganggu kemesraannya bersama Niken.


Ardi tidak mempermasalahkan andai orang luar ingin menguping kebersamaannya bersama Niken. Tidak ada untungnya juga. Mungkin bukan masalah bagi Ardi, tetapi tidak dengan Melati yang sedari tadi mendengar semua pembicaraan Ardi, Niken dan Bi Luna.


Beberapa kali Melati berdecak, bahkan sampai meneteskan air liur saat mendengar Ardi menggoda Niken. Sungguh, membuat gairahnya memuncah, terlebih lagi Melati pernah merasakannya, meski bukan bersama Ardi.


Nyatanya rayuan Ardi, mampu menaikkan nafsunya itu. Melati pun mendatangi kamar sepasang suami istri yang tengah dimabuk kepayang akan nikmatnya dunia tersebut.


Namun, saat melihat kamar tertutup rapat, ditambah suara jeritan Niken, membuat hati Melati mau meledak. Darahnya mendidih, jantungnya mempompa lebih cepat dari biasanya.


Kalau boleh jujur, untuk sesaat dia terbawa arus perasannya sendiri. Membayangkan bagaimana rasanya sentuhan hangat Ardi mengenai setiap lekuk tubuhnya. 


Setelah berdiri di depan kamar, Melati barulah sadar kalau sesungguhnya itu hanya fantasy yang diciptakan otaknya sendiri guna membuatnya terangsang.


"Niken ....," geramnya sambil *******-***** ujung bajunya, "Akan aku pastikan, ini menjadi saat-saat indah kau dan Ardi. Setelahnya hari ini, aku tidak akan membiarkan kau mendapatkan sentuhan dari Ardi!"


Sesudah mengatakan hal tersebut, Melati bergegas membawa langkahnya menjauh dari kamar Niken dan Ardi. 


Melati masuk kamarnya, membanting pintu sehingga tercipta suara benturan keras. Dari kejauhan, Bi Luna menyaksikan Melati yang tampak kesal setelah mendatangi kamar majikannya.


"Bukankah, dia itu adik dari Tuan Ardi, tapi kenapa dia terlihat begitu kesal? Jangan-jangan ...," Luna menjeda kalimatnya, "Ah, berhenti Luna. Jangan kau berpikir yang bukan-bukan tentang Melati. Mungkin saja dia kesal karena merasa diacuhkan oleh Tuan Ardi. Hal seperti ini memang sering terjadi pada hubungan adik dan kakak," lanjutnya sekaligus menepis anggapan buruk yang sempat menari-nari di benaknya.


  


Luna yang sudah siap dengan baki berisikan segelas susu serta sepotong roti bakar, tidak jadi mendatangi kamar Melati. Pada awalnya, Luna hendak mengantarkan baki tersebut ke kamar Melati. Namun, mendadak dia merubah pikirannya.

__ADS_1


Dibawanya kembali baki tersebut. Bukannya takut pada Melati. Tentu dia menundukkan kepala hanya pada Niken dan Ardi. Sedangkan Melati sebatas tamu saja. Alasan kenapa dia tidak jadi karena merasa perasaan Melati saat ini sedang tidak baik. Sehingga Luna berpikir untuk memberi ruang pada Melati untuk menenangkan pikirannya lebih dulu.


Luna pun kembali ke dapur. Segera dia menyiapkan hidangan sarapan untuk Niken dan lainnya. 


Empat puluh menit berikutnya, Melati pun keluar kamar. Pakaiannya sudah rapi, rambutnya juga ngacir satu seperti buntut kuda. Aroma tubuhnya pun sudah harum, apa lagi kalau bukan semprotan parfum yang kemarin dibelikan Niken.


Sesungguhnya dia malas memakai parfum tersebut. Dikarenakan tidak ada parfum lain, jadi terpaksa Melati memakainya juga.


Sebelum turun ke lantai satu, Melati lebih dulu memperhatikan kamar Niken dan Ardi yang ada di sana. Pintunya masih tertutup rapat. Pertanyaan hanya satu, 'keduanya masih di sana atau sudah turun?' Melati dibuat penasaran.


Melati pun akhirnya menuruni anak-anak tangga, sesekali melihat ke arah kamar Niken dan Ardi. Berharap Ardi keluar. Akan tetapi, harapannya kosong karena sampai dirinya berada di ujung anak tangga, baik Ardi maupun Niken belum juga menunjukkan batang hidung mereka.


"Selamat pagi Nona," sapa Luna. 


Selaku ketua pelayan di sana, sudah sepatutnya Luna menunjukkan rasa hormat serta keramahannya pada Melati. Biarpun status Melati hanya sebatas tamu saja baginya, tetapi Luna harus tetap memperlakukan Melati dengan baik.


"Ada yang bisa aku bantu Nona?" tanyanya lanjut.


Luna memperhatikan Melati dari ujung rambut sampai kaki, Melati lebih pantas disebut  orang kebingungan dan bukan tamu spesial keluarga Niken maupun Ardi.


"Baik." Melati hanya dapat mengatakan satu kata, tidak lenih dari jumlah tersebut.


Luna tidak peduli dengan jawabannya. Luna hanya ingin melayani dan melayani tamu sebaik mungkin.


Melati mengikuti langkah Luna, walaupun sesekali mendongak. Memandang kamar sepasang insan yang tengah merajut cinta tersebut dengan lekat. Satu tangannya mengepal, sedangkan yang satu lainnya *******-***** ujung bajunya. Melati juga menggigit bibir bawahnya, merasa kesal akibat menunggu Ardi yang tidak kunjung keluar kamar.


Melati dipersilahkan duduk oleh Luna. Sementara itu, di dalam kamar. Niken baru saja keluar dari kamar mandi, dengan rambut dan tubuh yang masih basah.


Ardi tersenyum menggoda saat melihat istrinya yang baru keluar dari kamar mandi.


"Apa lihat-lihat?" bentak Niken yang disertai mata melebar sempurna.


Ardi menjauhkan tubuhnya, merasa risih karena tatapan Niken begitu mengintimidasi dan menakutkan, seperti singa yang ingin menerkam mangsanya.

__ADS_1


"Sudah mandi sana! Kita akan terlambat nanti!" gentak Niken, tanpa menurunkan sedikitpun kemarahannya.


Ardi mengangguk cepat, buru-buru dia berjalan menjauh dari istrinya yang akan mengamuk itu. Ardi berbalik badan, memandang lekuk tubuh Niken dari belakang.


Meskipun dibalut dengan handuk, tetapi Ardi masih dapat melihat bagaimana lekukan demi lekukan tubuh istrinya. Kemari malam dia berhasil melihat Niken tanpa memakai busana.


Membayangkannya kembali, membuat bagian bawah Ardi berkedut-kedut seolah ingin dimasukkan kembali ke tempat seharusnya.


Ardi terkekeh geli, dengan sebelah tangan menutupi mulutnya. Kepalanya pun tertunduk karena membayangkan setiap detik indah yang telah dilaluinya bersama Niken kemarin malam.


Belum sempat Ardi mengangkat kepalanya, dia sudah dikejutkan dengan kehadiran Niken di depannya.


"Astaghfirullah ..." 


Tatapan tajam dan begitu mengintimidasi, membuat Ardi terperanjat yang disertai pengucapan kalimat istighfar.


"Kenapa istighfar? Memang kamu kira aku ingin setan, jadi setiap melihatku harus mengucapkan kalimat istighfar, ah?" hardik Niken kesal.


Bukannya merasa takut, Ardi malah tertawa kecil. "Kamu itu lucu, Sayang. Lucu banget malah."


"Lucu ya?" Niken tersenyum sambil menunjukkan deretan gigi putihnya. 


Ardi mengangguk, tetapi ada sedikit perasaan takut saat melihat senyuman istrinya. Dia tahu, bahwasanya Niken tengah menahan emosi yang meluap-luap.


"Lucu, Ya?" Niken mengulang kata yang sama.


Ardi mengangguk yang juga menunjukkan sepasang gigi besarnya. 


"Lucu, Ya?"


Niken memang mengulang kalimatnya lagi, tetapi setelahnya. "Cepat pergi mandi atau kita akan terlambat nanti!" teriaknya yang mengandung tenaga dalam cukup besar.


Ardi buru-buru meninggalkan Niken, berlari kecil menuju kamar mandi. Segera ditutupnya rapat-rapat agar Niken tidak mengejarnya sampai ke dalam.

__ADS_1


    


__ADS_2