
Niken dan Ardi pun telah meninggal Masjid Raya Bandung. Ardi mengajak Niken untuk naik angkutan umum yang ada di sana. Di Bandung masih terdapat banyak angkutan umum yang mengarah ke banyak lokasi.
Pada awalnya Niken sempat ingin memesan taksi online agar perjalanan mereka mudah, tetapi Ardi membujuknya. Dia mengatakan kalau lebih baik naik angkutan umum, dibandingkan taksi online.
Ardi berpendapat, kalau naik taksi online maka tidak akan bisa menikmati suasana Kota Bandung di malam hari. Sedangkan kalau naik angkutan umum, maka perjalanannya akan lebih menyenangkan.
Setelah mempertimbangkannya, Niken pun setuju. Jika dipikir-pikir kembali, sudah lima belas tahun dia tidak merasakan suasana Kota Bandung pada malam hari. Sehingga, hari ini gadis ayu tiga puluh tahun tersebut, ingin mengulang ingatan tersebut.
"Setelah ini kita langsung ke hotel?" tanya Niken yang kini telah berada di salah satu angkutan umum.
Ardi menaikkan kedua bahunya, lalu sebelah alisnya ikut baik dan berkata. "Aku tidak tahu," celetuknya demikian, sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Apa?" Niken berteriak, bahkan sampai tersedak napasnya sendiri. Matanya melotot sesudahnya, "Apa-apaan kamu? Kok engga tahu si? Jangan bilang kamu engga tahu jalan ke hotelnya?" tebaknya dengan mengacungkan jari telunjuk di depan wajah suaminya
Ardi pun mengangguk, "Ya. Sebenarnya aku tidak terlalu hafal dengan jalan di sini. Jadi aku tidak tahu jalan menuju hotel The Trans Luxury Hotel," akunya cengengesan.
Sebenarnya itu adalah bentuk rasa bersalahnya karena tidak tahu jalan. Niken pun berdengus kesal. Asap putih terlihat keluar dari dua lubang hidungnya.
"Ardi!" teriaknya sekeras mungkin, sampai supir angkotnya mengerem mendadak. Dengan begitu tubuh Niken terhantuk ke depan dan jatuh dalam pelukan Ardi yang sunggu memabukkan.
Tatapannya selalu membuat napas Niken terhenti. Bahkan waktu seolah ikut berhenti. Jantung berdegup lebih cepat, perasaan sulit dikendalikan. Didekatnya mampu membuat Niken nyaman sekaligus melupakan dunianya. Astaga, inikah yang dinamakan cinta?
"Aduh!" jerit supir angkutan umum itu saat kepalanya terbentur ke depan. Ia yang mengemudi dan ia juga ikut terluka.
Dikarenakan suara itu pula, Niken berhasil mendapatkan kembali kesadarannya. Buru-buru dia melepaskan pelukan Ardi. Lalu, mengambil posisi duduk kembali. Pandangnya tentu tertuju pada pria yang bertindak sebagai supir itu.
"Ada apa, Pak? Mengapa mengerem mendadak?" tanyanya tanpa bersalah, seolah-olah tidak mengetahui apa yang sedang terjadi.
Supir itu ingin mengumpat. Namun, ia mengurungkan niatnya. Menahannya sendiri di dalam hati. "Tidak ada apa-apa, Neng. Tadi ada kucing yang tiba-tiba menyebrang. Jadi saya mengerem mendadak," akunya berbohong demi kenyamanan bersama.
__ADS_1
Niken pun mengangguk, "Oh. Kucing Ya, Pak?" ulangnya sekedar mematikan saja. Setelah bertanya pada supir apa yang telah terjadi, Niken memberikan tatapan tajam pada suaminya. Menyalahkan semuanya pada Ardi.
Biarpun begitu Niken tidak mengatakan apa-apa. Namun, Ardi bisa menebak kalau istrinya sedang ngedumel di dalam hatinya. Dia menyembunyikan di balik wajah manisnya.
Niken segera memandang ke depan setelah mobilnya melaju kembali. Niken berandai-andai, kalau bukan karena mobilnya mendadak menghilang dan bukan karena Melati, tidak mungkin dia terjebak di sini.
Setidaknya kalau Melati tidak muncul di hadapan Ardi, mungkin mereka sudah kembali ke Jakarta dan tidak perlu ada drama seperti ini.
"Pak, bisa tidak antarkan kami ke Hotel The Trans Luxury Hotel? Aku akan bayar berapa pun, asalkan Bapak mengantarkan kami ke hotel tersebut," tawarnya karena tidak lagi bisa berlama-lama di jalanan Kota Bandung.
Waktu sudah menunjukkan pukul 20:00 WIB. Dia sudah ingin beristirahatdan merebahkan tubuhnya di kasur.
Supir itu mengangguk, "Bisa, Neng. Sebenarnya jalur mobil ini pun melewati hotel The Trans Luxury Hotel. Jadi, saya akan mengantar Neng ke sana," ucap supir itu santai, sembari melihat kiri dan kanannya.
Semakin malam kendaraan di sana semakin ramai. Jadi, ia pun harus berhati-hati, takut-takut ada pengendara yang menyerobot jalannya ketika hendak menyalip kendaraan lain.
Niken pun menepuk jidatnya saat memikirkan kembali Ardi yang tidak tahu jalan. Lalu, melirik suaminya tersebut yang sedang cengengesan seperti tidak merasa bersalah.
"Apa lihat-lihat? Ketawa lagi kamu. Engga tahu apa, aku lagi cemas, pusing sama capek? Aku takut kita tersesat, lah Kamu malah cengengesan kayak orang engga merasa bersalah," dengusnya kesal. Dia marah, geram dan jengkel karena ulah suaminya tersebut.
Andai saja diperbolehkan, Niken ingin sekali memarahi Ardi, memakinya sampai puas. Setidaknya raja jengkel di hatinya menghilang. Namun, kembali lagi pada aturan Agama. Sebagai seorang istri, tidak boleh sedikitpun berkata kasar pada suaminya. Apa lagi sampai memaki dan memukul suaminya. Sangat tidak dibolehkan dalam Agama.
Niken tidak ingin masuk neraka hanya karena marah pada suami. Nauzubillah.
Ardi pun menunjukkan senyuman kemenangan. Dia telah berhasil membuat istrinya kesal dan jengkel. Biarpun begitu, Ardi juga merasa bersalah. Sebagai suaminya, dia tidak dapat diandalkan.
Ardi berusaha menggenggam tangan Niken. Semula istrinya itu menatik tangannya, enggan untuk disentuh. Namun, Ardi memaksa. Dia menarik tangan Niken dan menggenggamnya erat. Lalu, mengecup punggung tangannya sehingga membuat Niken luluh.
Kemarahannya berangsur-angsur hilang, saat Ardi mengatakan 'Maaf' dengan suara lirih. Tatapannya yang meneduhkan nyatanya mampu meredam api di dalam hatinya.
__ADS_1
Ardi pun memerlakukan Niken begitu baik. Sejenak dia melupakan kesepakatan pernikahan yang telah dibuat bersama-sama. Bukannya dia lupa, tetapi ini dilakukannya semata-mata untuk menyenangkan hati istrinya yang tengah kesal tersebut. Tidak apa-apa melanggar kesepakatan, demi menghibur istri. Dari pada diam saja?
***
Setelah menempuh perjalanan hampir tiga puluh menit, akhirnya Niken dan Ardi sampai juga di depan hotel The Trans Luxury Hotel Bandung.
Keduanya pun turun dari angkot bersama-sama. Lalu, Niken pun mengeluarkan uang lembaran pecahan seratus ribu untuk dia berikan pada supir angkot, yang telah baik mengantarnya sampai hotel.
"Sebentar Neng, kembaliannya," ucap supir tersebut, sembari mencari uang receh untuk kembalian.
Niken pun tersenyum lembut, "Sudah. Kembaliannya untuk Bapak saja karena Bapak sudah mengantarkan kami sampai di hotel," balas gadis ayu bersurai panjang itu, pada sang supir. Tangannya, menolak uang kembalian yang diberikan supir tersebut.
"Terima kasih, Neng. Semoga rezekinya semakin melimpah dan rumah tangganya langgeng," doanya dan langsung diaminkan oleh Niken dan Ardi yang ikut mendengarkan.
"Terima kasih, Pak. Hati-hati di jalan," pesannya, tidak lupa tersenyum lembut pada supir tersebut.
Angkot itu segera pergi dari sana, dikarenakan jalanan yang mulai padat di belakang. Ardi pun tersenyum simpul, sembari mengacak-acak pucuk rambut istrinya.
Niken ingin protes, tetapi dia meredamnya dengan segera. Selanjutnya, mengandeng tangan Ardi. "Ayo, kita masuk!" ajaknya beserta senyuman yang mengembang.
Ardi mengangguk. Dia dan Niken melenggang bersama-sama. Melewati pekarangan hotel. Scurity yang berjaga di sana pun segera membukakan pintu untuk Ardi dan Niken. Keduanya terlebih dahulu dicek suhu tubuhnya, setelah dinyatakan aman barulah Ardi dan Niken memasuki hotel.
Keduanya sudah lebih dulu memesan kamar melalui aplikasi online, sehingga tidak perlu lama bagi keduanya mengurus registrasi data diri di meja resepsionis.
Setelah pengecekan data diri, petugas pun memberikan kunci kamar pada Niken. "Terima kasih," ucapnya lembut pada petugas yang berjaga.
Kunci telah di tangan, kini tinggal keduanya pergi menuju kamar. Petugasnya memberitahu kalau kamar keduanya berada di lantai lima belas, dengan nomor kamar 88.
Apa yang akan terjadi selanjutnya? Akankah malam pertama yang tertunda akan terjadi malam ini?
__ADS_1