Suami Kontrak Yang Kucinta

Suami Kontrak Yang Kucinta
22. Dipecat Jadi Mantu


__ADS_3

Kebersamaan Ardi dan Niken ternyata tertangkap oleh netra Melati, yang memerhatikan keduanya dari lantai dua. Tangannya menggenggam erat pagar besi yang menjadi pemisahnya.


Tatapannya mengandung kebencian, terhadap Niken yang secara gamblang menyatakan bahwa dirinya adalah Nyonya Muhammad Ardi.


***


Di depan rumah sakit. Niken melihat kiri dan kanannya, mencari tempat di mana mobilnya terparkir. Dikarenakan situasi genting, sehingga Niken tidak memerkirakan mobilnya, alhasil Security yang telah melakukannya.


"Di mana security itu memarkirkan mobilku?" tanya Niken, celingak-celinguk mencari keberadaan petugas yang tadi menolongnya.


Ardi pun berdiri tepat di belakangnya, "Kamu sedang mencari apa?" Dia pun ikut celingak-celinguk sama seperti yang Niken lakukan.


"Ish, kamu mah copy paste aja," tegurnya sembari menepuk tangan kiri suaminya, merasa gemas dengan tingkah Ardi yang sok-sokan meniru gayanya.


Ardi pun berdiri sembari berkacak pinggang, "Apa ada yang salah, Sayang?" sebutnya lembut dan menggoda.


Mendapatkan panggilan sayang, membuat Niken ingin mengeluarkan isi perutnya kembali. "Ih, gombal banget, tapi aku engga mempan sama rayuan buaya" ketusnya bernada ejekan.


Ardi tertawa lepas, "Kamu sebut aku apa? Buaya?" ulangnya memastikan.


Niken mengganggu cepat, "Ya ... Kamu itu buaya ... Buaya buntung. Hahahaha," ejeknya semakin menjadi-jadi. Namun, setelahnya Niken bersikap serius kembali. Dia hanya sedikit membuat untuk mengimbangi candaan dari sang suami.


Niken kembali celingak-celinguk, kini dia mulai khawatir akan nasib mobilnya yang berharga fantastis itu. Sebenarnya bukan masalah harga mobilnya, tetapi masalah yang akan timbul ketika security itu benar-benar membawa pergi mobilnya.


"Kemana security tadi? Jangan-jangan mobilku dijualnya lagi, 'kan lumayan bisa beli motor," celotehnya. Ardi dapat mendengarnya. Dia merasa Niken adalah wanita yang unik.


"Sudah aku katakan bukan, kamu tidak boleh menyetir. Jadi Allah memerintahkan security itu untuk menjual mobilmu dan membiayai kehidupannya, 'kan lumayan uangnya bisa bisa mencukupi kebutuhan selama beberapa bulan. Andai dia tidak hidup berfoya-foya," celetuk Ardi sembari tersenyum lembut, yang disertai dengan mengacak-acak pucuk rambut sang istri.


"Apa-apaan si, jangan sok akrab deh. Kita ini engga benar-benar akrab bukan? Jadi singkirkan tanganmu dari rambutku. Aku sudah menatanya rapi-tapi, tapi kamu malah merusak tatanannya," sungutnya bernada ketus dan sedikit manja.

__ADS_1


Biarpun mendapat penolakan, tetapi Ardi menyukainya. Istrinya ketus, dia suka. Istirnya manja, dirinya lebih menyukainya. Niken adalah wanita dengan penuh warna, setiap tingkahnya mampu mengisi kekosongan dalam hidup Ardi.


"Aku engga peduli kamu mau nolak apa engga? Pokoknya kamu engga boleh menyetir, apa lagi kondisi kamu lagi tidak baik-baik saja," cercanya tegas. Niken sudah membuka mulut dan siap menyahut, tetapi belum sempat kalimatnya keluar, Ardi sudah lebih dulu membekap mulutnya.


"Shhht ... Sebagai seorang istri tidak boleh memotong perkataan suami. Apa kamu mau masuk neraka, gara-gara membantah ucapan suami?" ungkapnya, mengingatkan bahwasanya seorang wanita terutama sudah menikah, dilarang keras membantah setiap perkataan suami, sekalipun yang diterimanya keburukan.


Niken membuka kuat-kuat matanya, "Singkirkan tanganmu dariku!" elaknya menepis tangan Ardi yang menutup mulutnya.


"Kamu ingin aku mati cepat, Ya?" tubuhnya seenak jidat. Ardi mengerutkan keningnya. "Eh, bukan begitu maksudnya. Aku melakukan ini demi melindungi dirimu," balasnya sungguh-sungguh.


Niken menyelengos, "Hufs, dasar buaya. Pertama-tama mulai merayu, lalu modus setelah apa lagi? Jangan-jangan aku akan diberi obat tidur, selanjutnya dibawa ke hotel," tuduhnya menunjuk hidung Ardi. "Ayo, ngaku kamu? Apa yang sedang kamu rencana? Mengaku saja, kamu merayuku pasti ada maunya, Ya? Ngaku aja deh!"


Lagaknya sudah seperti bos yang berdiri di depan bawahannya. Dia mengintrogasi Ardi, menuduh suaminya akan melakukan sesuatu yang ada diluar perjanjian mereka.


Ardi menepuk keningnya, lalu menggelengkan kepalanya. Merasa kalau Niken sudah terhasut oleh novel-novel romantis yang ada di platform-platform online.


"Aku melakukan ini semata-mata demi ayahmu."


"Ayahku?" potongannya, sembari menyingkirkan tangan Ardi dari hidungnya.


"Ya, ayahmu. Sebelum kita pergi ke sini, dia berpesan. Aku harus menjagamu baik-baik, jangan sampai lecet sedikitpun, atau aku akan dipecat menjadi mentunya," serganya serius.


"Dipecat jadi menantunya?" ulang Niken, sambil menahan tawa agar tidak meluap-luap.


Ardi mengangguk, "Hooh ... Ayah mengatakan itu padaku. Jadi, aku harus berusaha sekeras mungkin untuk menjagamu tetap aman, Istriku."


Mengetahui jika ayahnya berpesan demikian, Niken pun tidak bisa menahan dirinya. Dia tertawa terbahak-bahak, sembari menunjuk-nunjuk wajah Ardi.


"Kau ... Kau dipecat jadi menantunya? Hahahaha. Ayahku itu memang sangat lucu. Dia meminta menantunya untuk menjagaku. Jika terjadi sesuatu padaku, maka kau," tunjuknya di hidung Ardi. "Maka kau, akan dipecat jadi menantunya. Hahahaha. Lelucon apa ini? Perutku jadi sakit."

__ADS_1


Dia terbahak-bahak, seolah tidak ada lagi beban. Melihat Niken sudah kembali tertawa, membuat Ardi bahagia. Dirinya tidak masalah, jika harus menjadi bahan ejekan istrinya yang terpenting Niken melupakan masalahnya.


"Ayah, ayah. Apa yang kau lakukan pada menantu kesayanganmu ini, sampai-sampai dia berubah romantis? Pantas saja sejak tadi dia terus merayuku, ternyata ada permintaan khusus yang harus dilakukannya. Lumayan juga," pujinya sembari membatin.


Niken menggelengkan kepalanya, sedangkan Ardi tersenyum canggung, sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Niken kembali tersenyum lembut, setelah puas menertawakan suaminya tersebut.


"Lalu, kita harus bagaimana setelah ini? Katamu, aku tidak boleh menyetir, jadi kita harus naik taksi online untuk sampai di hotel?" tanya Niken, membuka pembicaraan mereka.


"Kita tidak akan baik taksi online, tetapi kita akan naik angkutan umum untuk sampai di hotel, bagaimana?" usulnya cepat.


Niken mempertimbangkan ajakan tersebut, "Naik angkutan umum, Ya? Kalau begitu kita akan keliling Kota Bandung?" serganya memastikan.


Ardi mengangguk, "Kamu sudah pasti belum pernah keliling Kota Bandung bukan?"


"Ets, kamu salah. Aku ini lahir dan besar di Bandung. Jadi aku tahu sedikit tentang Kota ini," elaknya cepat.


Ardi menyipitkan mata. Sedikitnya dia tahu tentang Niken yang memang lahir dan besar di Bandung, tetapi semuanya sudah berubah.


"Mungkin dulu kamu suka jalan-jalan, tapi itu dulu lima belas tahun yang lalu bukan?" tebaknya penuh keyakinan.


Niken mengangguk untuk membenarkan tebakan Ardi. Namun, belum sempat dia mengeluarkan kalimatnya, Ardi sudah lebih dulu menarik tubuhnya. "Yasudah, kalau begitu. Hari ini aku akan mengajakmu berkeliling kota Bandung. Tentunya, dengan suami tampanmu ini sebagai pemandu jalannya," timpalnya dengan bahu yang terangkat.


Secara tidak langsung Ardi menunjukkan ketampanannya pada sang istri. Niken tersenyum mengejek. "Tampan konon," celetuknya seolah-olah tidak suka dengan kenarsisan yang coba Ardi perlihatkan.


"Hari ini kamu boleh menolak ketampananku Sayang, tetapi jangan salahkan aku di waktu yang akan datang, kamu akan mengemis cintaku dan memuji ketampananku ini."


Ardi pun tidak akan berhenti begitu saja. Biarpun hari ini dia tidak berhasil mendapatkan pengakuan dari Niken, tetapi dengan melihat istrinya kembali tersenyum, sudah lebih dari cukup baginya.


Ardi pun membawa Niken masuk dalam pelukannya. Gadis ayu itu sempat ingin menolakny, tetapi dia mengurungkan niatnya. Niken pasrah saat Ardi memeluknya.

__ADS_1


__ADS_2