
"Bi Luna!" Niken berteriak, memanggil Luna. Pelayan yang sudah lama bekerja mengurus rumahnya itu.
"Ya Nona, ada apa?" Luna pun akhirnya datang beberapa menit kemudian. Posisinya yang berada di dapur membuat Luna membutuhkan waktu untuk sampai pada Niken.
"Maaf, maksud saya Nyonya," ralatnya sambil menundukkan kepala. "Apa ada hal yang Nyonya inginkan?" tanyanya lebih dulu.
Luna tidak terlalu menghiraukan kehadiran Melati di sana karena fokusnya hanya pada Niken dan Ardi.
"Bi Luna, tolong aku. Sepertinya Melati membutuhkan sesuatu. Tugas Bi Luna adalah menyediakan semua keperluan yang Melati inginkan." Niken menjatuhkan tatapan tajam pada Melati, yang tampak diam dan seperti orang yang berada dibawah tekanan.
Bi Luna baru mengangkat kepalanya, "Baik Nyonya. Saya akan memenuhi semua kebutuhan Melati, sesuai yang Nyonya inginkan," lanjutnya membalas setelah memandang Melati dengan durasi waktu yang tidak lama.
Melati sedikit jengkel pada Niken karena ia dengan jelas berusaha menjauhkan Ardi darinya. "Aku tidak akan membiarkanmu memiliki Ardi, Niken. Tak apa jika malam ini aku tidak bisa mendapatkan Ardi, setidaknya aku sudah berhasil menggagalkan malam kalian. Ini barulah awalannya saja Niken. Lihat saja nanti. Tunggu tanggal mainnya."
Tentu saja yang Melati mengatakannya hanya di dalam hati. Namun, dia tidak menyembunyikan senyuman jahatnya dan Niken dapat membaca arah dari pikiran Melati sekarang. Biarpun tidak sepenuhnya benar. Akan tetapi, Niken sudah memiliki gambaran niat busuk yang coba Melati permainkan.
"Mari Nona!" ajak Bi Luna setelah perbincangannya dengan Niken telah selesai. Luna pun masih membungkuk walaupun di depan Melati. Dia melenggang pergi, sambil mengajak Melati pergi ke kamarnya.
Mojang Bandung itu tak mengatakan apa-apa lagi. Sorot tajam matanya pada Niken mengisyaratkan kemarahan. Namun, saat memandang Ardi, dia merubah ekspresi wajahnya seperti kucing yang tengah bermanja-manja pada majikannya.
Setelah memastikan Melati telah masuk ke kamarnya, barulah Ardi angkat suara. "Niken ...," sebutnya demikian.
Baru menyebut nama dan belum untaian kalimat, Niken sudah lebih dulu mengangkat tangannya. "Cukup! Aku tidak ingin mendengar kata apa pun darimu."
Niken mendongak. Postur tubuh Ardi yang lebih tinggi darinya, membuat Niken sedikit mengangkat kepalanya agar dapat menatap manik hitam legam sang suami.
"Sebaiknya kamu istirahat. Aku akan tidur di kamar lain. Dengan begitu kita akan merasa nyaman," ungkap Niken dingin.
"Kenapa Niken? Ngapain kamu tidur di kamar lain? Kita bisa selesaikan yang tadi terhenti," balas Ardi memelas.
__ADS_1
Niken menatap Ardi dengan perasaan yang campur aduk. Antar marah, kesal dan sedih. Sedih sebab malam pertamanya harus gagal hanya karena satu orang wanita.
"Cukup! Lupakan apa yang baru saja terjadi. Anggap semuanya tidak pernah terjadi," tegasnya sekaligus mengakhiri kalimatnya.
Niken langsung berbalik badan, tak peduli dengan raut wajah memelas yang Ardi tunjukkan. Langkahnya dia bawa menuju ruangan yang cukup jauh dari kamarnya dan Ardi.
Perasaannya berkecamuk di dalam hati. Pikirannya seolah tengah bergelut dengan batinnya. Kenyataan memang tak pernah sesuai ekpektasi. Niken agaknya menyesal karena telah menaruh harapan besar, serta terlalu menyerahkan dirinya pada Ardi, tanpa memikirkan perasaan sang suami yang sesungguhnya.
Niken sekarang berpikir, apakah yang Ardi minta dan lakukan tadi itu murni dari hatinya atau sekedar nafsu, untuk membuat dirinya malu? Niken berjalan gagah menuju ruangan yang ada di lantai pertama.
Tampak dia seperti orang yang tak peduli. Akan tetapi, fakta berkata. Hatinya begitu terluka. Harga dirinya seolah diinjak-injak.
Niken menuruni anak-anak tangga, sambil meratapi nasibnya. Berpikir kembali, apakah keputusannya untuk membina rumah tangga dengan Ardi sudah benar atau belum?
Sementara itu, Ardi tampak lesu dan penuh sesal. Sesal karena telah menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Kapan lagi dirinya memiliki kesempatan untuk berdua dengan Niken?
Mungkin berdua saja hampir setiap hari, tetapi merajut cinta layaknya sepasang suami istri sungguhan. Sungguh hampir tidak mungkin dia melakukannya.
"Lu benar-benar bodoh, Ardi! Kenapa juga lu sia-siain Niken si? Lu sendiri yang deketin dia, tapi lu juga yang tinggalin dia? Engga kebayang kecewanya dia saat lu lepasin dia hanya karena Melati?"
Dia menyalahkan dirinya. Raganya seolah bertarung dengan pikirannya. Meninggalkan Niken dengan keadaannya seperti itu, sungguh kesalahan fatal yang tak akan bisa dimaafkan.
"Ardi ... Lu bodoh banget! Banget! Banget! Sekarang lu engga bisa deketin istri lu lagi. Bodoh. Bodoh!"
Kata-kata kasar terus Ardi lontarkan sebagai bentuk rasa sesalnya karena sudah meninggalkan Niken. Sesungguhnya, bukan hanya Niken yang terluka, tetapi dia sendiri pun harus menahan hasratnya, nafsu yang sudah begitu besar.
Ardi menatap kosong ruangan yang dimasukin Niken. Pintunya tertutup begitu rapat. Ardi tidak tahu apa yang terjadi di balik pintu tersebut. Apa yang sedang Niken lakukan di sana? Menangiskah dirinya?
Tubuhnya terdorong ingin mendatangi ruangan tersebut. Akan tetapi, tatapan tajam Niken tadi masih membekas di benaknya. Betapa marahnya ia tadi, serta rasa kekecewaan begitu tergambar nyata di matanya.
__ADS_1
Ardi membuang napasnya berkali-kali, mencoba menenangkan diri. Mengendalikan emosi agar tidak menciptakan masalah baru yang akan membuat hubungannya dan Niken semakin merenggang.
****
Pagi harinya. Sang Surya menyapa penuh ceria para makhluk bumi. Titisan embun cantik timbul di sesela dedaunan, yang turut menyambut hari baru.
Tok ...
Tok ..
Bi Luna pun mengetuk ruangan Niken. Semalam, setelah mengantar Melati ke kamarnya kembali, Luna melihat Niken meninggalkan kamarnya dan memilih ruangan yang ada di lantai pertama.
Luna tidak tahu kejadian apa yang tengah dialami majikannya tersebut. Namun, bukan hak Luna pula untuk ikut campur dalam urusan pribadi Niken dan Ardi. Maka dari itu, Luna sudah menyiapkan baki berisikan sarapan untuk diberikannya pada Niken.
"Nyonya! Ini saya, Bi Luna. Saya datang membawakan sarapan untuk Nyonya!" teriak Luna sedikit cemas.
Cemas karena sudah lima belas menit belum ada balasan juga dari Niken. Luna yakin, semalam Niken masuk ke ruangan tersebut. Saat bertanya pada Maid yang berjaga malam. Ia mengatakan kalau Niken tidak meninggalkan ruangan tersebut kemarin malam.
"Nyonya! Saya bawakan sarapan kesukaan Nyonya! Saya tahu Nyonya ada di dalam. Jadi, saya bawakan sarapan untuk Nyonya! Ayo, dimakan dulu Nyonya! Tidak enak kalau sudah dingin!" bujuk Luna dengan suara lantang, sehingga membuat maid yang semula tidak tahu masalahnya, kini mulai bertanya-tanya.
Biarpun begitu, Luna tidak memedulikannya. Sekarang bagaimana caranya dia membuka pintu yang terkunci dari dalam tersebut?
Pikiran Luna semakin tidak karuan karena sudah dua puluh menit belum juga ada balasan dari Niken.
Luna pun menggedor-gedor pintu agar Niken membuka pintunya, ataupun jika ia masih tidur setidaknya ia bangun. Luna hanya ingin memastikan bahwa majikannya itu baik-baik saja.
"Nyonya!"
"Nyonya!" teriaknya yang kian keras dan berhasil membangunkan seseorang yang tidur di lantai dua.
__ADS_1
"Bi Luna!" seru orang itu datar dengan suara khas seseorang yang baru bangun tidur.