
"Jadi kamu mau, Melati tinggal bareng kita? Apa kamu masih waras?" Niken tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya. Keinginan suaminya tentu tidak bisa diterima nalar.
Biarpun dikata pernikahannya dengan Ardi dilandasi perjanjian. Namun, Niken tetap tidak sudi suaminya dekat-dekat dengan wanita lain, apa lagi Melati.
"Dengarkan kata-kataku dulu." Ardi mencoba meraih tangan istrinya. "Tidak ada yang perlu dijelaskan lagi! Sekali kau ucapkan, maka aku sudah bisa memahami maksud dan tujuannya! Jadi untuk apa dijelaskan lagi?" Niken segera melepas genggaman Ardi. Dia berdengus kesal dan mengutuk suaminya atas apa yang telah menjadi keputusannya tersebut.
Tatapan Niken berubah penuh kekecewaan. "Tolong dengarkan penjelasanku dulu." Ardi menarik tubuh Niken yang sengaja berdiri membelakanginya. Namun, usahanya tersebut tidak mampu membuat Niken berbalik badan.
"Tolong beri aku kesempatan untuk menjelaskan semuanya," lirih Ardi begitu memelas.
Niken mengangkat sebelah tangannya, "Cukup! Aku tidak ingin mendengar penjelasanmu lagi."
Ardi pun bungkam untuk sejenak, tapi dia tidak bisa berhenti begitu saja. "Aku mohon, dengarkan penjelasanku dulu. Aku melakukan ini hanya untuk membalas rasa bersalahku karena telah membuat Melati kehilangan janinnya."
Satu fakta yang sebenarnya tidak ingin Niken dengar. Dadanya begitu sesak, sulit baginya menerima kenyataan kalau Ardi telah membuat Melati keguguran.
Niken berbalik badan, matanya berkaca-kaca. Ardi gelagapan dibuatnya. Sepasang tangan segera menyentuh permukaan halus pipi istrinya. Niat hati ingin menghapus kristal bening agar tidak jatuh, Ardi malah mendapatkan penolakan.
Niken menyingkirkan tangan Ardi dengan kasar, "Apa semua pria itu sama? Sama-sama, hanya bisa membuat hati wanita terluka?" ungkapnya bernada sumbang.
Ardi tertunduk, "Apa kau tidak berpikir lebih dulu sebelum mengambil keputusan sebesar itu, ah? lanjut Niken mempertanyakan.
Ardi semakin diam. Seluruh kata-katanya tertahan di tenggorokan dan cukup sulit baginya untuk menelan ludahnya.
Niken memijat kepalanya, sedangkan tangan lainnya berada di pinggang. Dia juga mengantupkan bibirnya, masih sulit percaya dengan keputusan yang diambil Ardi.
"Ini memang salahku. Aku yang salah dalam hal ini karena tidak berpikir panjang sebelumnya, tapi percayalah aku melakukan ini semata-mata hanya ingin membalas kesalahanku saja. Cobalah untuk mengerti."
"Mengerti bagaimana lagi, Ardi?!" bentaknya yang tidak lagi bisa menahan emosi. "Aku tahu, pernikahan kita ini hanya sebatas ..." Niken segera menjeda kalimatnya. Bola matanya langsung berputar, pandangannya tertuju pada Melati di sana.
__ADS_1
Ardi ikut melirik ke arah Melati berada. Namun, sifatnya hanya sementara karena yang dihadapinya sekarang jauh lebih berbahaya dari pada masuk kandang singa.
"Pokoknya aku engga setuju kalau Melati tinggal bareng kita. Titik!" Niken sekali lagi menegaskan kalau rumahnya tertutup untuk orag yang bernama Melati itu.
Niken akui bahwasanya dia takut kehidupan rumah tangganya akan kandas akibat kehadiran orang ketiga. Andai ini terjadi di masa depan, bukan saja dia mengalami kerugian materi, kekecewaan dari orang tuanya pasti diterima Niken.
"Lantas aku harus bagaimana?" Ardi kembali meraih tangan Niken. Namun, saat itu juga Niken langsung menariknya kasar, sehingga membuat Ardi memelas.
"Itu bukan urusanku. Lagi pula ini masalah kamu dengan wanita tidak malu itu," nyinyirnya menatap sinis Melati di sana. Niken bahkan jijik menyebut nama Melati. Bibirnya terlalu tertekan untuk mengatakannya.
"Kalau memang tidak ada yang ingin dibicarakan lagi, sebaiknya kita pergi saja. Wanita itu masih memiliki tangan dan kaki lengkap, dia pasti bisa mencari makan dan tempat tinggal sendiri. Tidak usah kau terlalu peduli padanya."
Niken menarik tangan Ardi agar meninggalkan ruangan bersamanya. Ardi menoleh ke belakang, Melati menatapnya lekat. Pemuda dua puluh tujuh tahun itu dilanda dilema.
Di satu sisi ada Niken, yang secara hukum dan agama telah sah menjadi istrinya. Lalu, di sisi berbeda ada Melati. Wanita yang dulu mengisi hatinya.
"Ayo!" Niken bersikeras menarik Ardi agar meninggalkan Melati.
"Ada apa lagi? Jangan katakan kamu akan tetap mengajar wanita tidak tahu malu itu untuk tinggal bersama kita?!" hardik Niken tak bisa menyembunyikan kekesalannya.
Ardi mengiyakan ucapan Niken, "Dengarkan penjelasanku dulu."
Mata Niken terpejam dalam beberapa detik, menarik napas dalam-dalam, lalu membuangnya secara kasar. "Baiklah. Aku akan dengarkan penjelasanmu. Aku harap jawabanmu memuaskan."
Ardi mengangguk cepat. Pengakuan Niken jelas membawa angin segar baginya yang terlebih lagi ingin sekali menebus kesalahannya pada Melati.
"Begini ... " Ardi menarik napasnya dalam-dalam. "Melati akan tetap tinggal bersama kita." Dia tidak pandai dalam merangkai kata-kata, sehingga Ardi mengatakan apa yang ingin disampaikan.
Melati menyunggingkan bibirnya, tampak dia begitu senang saat mendengar penuturan Ardi. Bahagia bagi Melati, tetapi tidak dengan Niken.
__ADS_1
"Apa? Jadi kamu benar-benar ingin dia tinggal bersama kita?!" Niken membuang pandangannya ke arah atas. Dadanya begitu sesak saat mendengar Ardi akan tetap mempertahankan Melati.
"Tolong dengarkan penjelasanku dulu." Ardi mendekati Niken. Namun, saat itu juga wanita berstatus kekasih halalnya tersebut mundur beberapa langkah.
Ardi ingin meraih tangannya. Lagi dan lagi Niken segera menepisnya. Ardi pun tidak bisa terus-terusan diam.
"Jika kau tidak mengizinkan Melati tinggal bersama kita, maka jangan salahkan kalau aku sering menemui Melati diam-diam!"
Bukannya luluh, Niken semakin geleng-geleng kepala mendengar penuturan suaminya. Biarpun begitu, Niken tidak mengeluarkan sepatah katapun.
Kesempatan ini segera Ardi manfaatkan, "Kalau Melati tinggal bersama kita, maka kamu bisa terus mengawasinya. Dengan begitu, aku tidak usah mencari-cari waktu untuk menemuinya. Apa kau ingin Melati menjadi orang ketiga dalam rumah tangga kita?"
Melihat Niken diam, tidak membuat Ardi berhenti di situ saja. Dia melanjutkan kembali kalimatnya, "Aku mengatakan ini semata-mata hanya untuk mempertahankan rumah tangga kita. Dengan Melati tinggal bersama kita, maka kau bisa terus mengawasinya. Apa kau ingin aku mencari hiburan di luar rumah?"
Tepat di kalimat terakhirnya, Niken langsung membungkam mulut Ardi dengan sebelah tangannya, "Cukup! Aku tidak ingin mendengar lanjutannya."
Mata Ardi melebar. Niken sengaja menjeda susunan katanya agar didengar jelas Ardi, "Kamu itu terlalu cerewet. Andai tanganku tidak menutup mulutmu, sepertinya kau tak akan pernah diam."
Ardi meraih tangan Niken, menariknya agar tidak menutupi mulut. "Jadi apa keputusanmu sekarang?"
Tidak hal yang paling dinantinya sekarang, selain jawaban Niken. "Baiklah. Melati akan tinggal bersama kita, tapi dengan satu syarat."
"Apa itu syaratnya?" tanya Ardi penasaran, sekaligus mengucap syukur karena Niken mengabulkan permintaannya tersebut.
Niken tak langsung menjawab. Sebaliknya, dia mengumbar senyum tipis. Ardi tidak bisa menemukan arti dari senyuman tersebut. Namun, dia hanya berharap syarat yang Niken ajukan nanti tidaklah sulit.
Niken telah sepakat dengan permintaan Ardi. Akan tetapi, tidak serta-merta membuat Melati senang. Dia meremas selimut. Tatapannya pula begitu tajam pada Niken yang kembali berhasil mendapatkan perhatian Ardi.
Beberapa kali dia mengumpat dalam hatinya, sembari bersumpah pada dirinya. Suatu saat akan membuat Ardi meninggalkan Niken.
__ADS_1
***