Suami Kontrak Yang Kucinta

Suami Kontrak Yang Kucinta
23. Jalan-jalan Bersama


__ADS_3

Keduanya melenggang bersama, meninggalkan rumah sakit. Namun, bukan menuju kamar hotel yang telah dipesan sebelumnya. Ardi mengajak Niken lebih dulu berkeliling kota Bandung.


Faktanya, biarpun terlahir dan besar di kota Bandung, tetapi Niken banyak melupakan lokasi-lokasi ikonik yang ada di sana. Selama lima belas tahun, Kota Bandung sudah banyak berubah. Tidak sama seperti yang Niken ingat.


Ardi mengajak Niken untuk makan siomay Bandung, yang tentunya berbeda dengan siomay Jakarta. Lalu, membeli Batagor, bakso cuanki, cilok dan lain-lainnya. Pokoknya, tidak ada tempat makanan yang terkenal, yang tidak keduanya datangi.


Niken begitu bahagia dan Ardi pun sama. Keduanya tidak henti-hentinya tertawa. Niken pun menggandeng erat tangan suaminya, seolah perjanjian yang telah dibuat tidak lagi ada apa-apanya. Berjam-jam telah berlalu dan Niken merasa nyaman saat bersama Ardi. Ini kali pertama baginya merasa demikian di dekat seorang pria.


Hari mulai sore dan sudah hampir waktunya Maghrib. Niken dan Ardi mencari Masjid terdengar. Keduanya menunaikan ibadah Sholat Magrib terlebih dulu, sebelum nanti pergi ke hotel yang telah disepakati bersama.


"Assalamualaikum," ucap Ardi sembari menoleh ke kiri dan kanan.


"Assalamualaikum," sahut Niken setelahnya, yang juga menoleh ke kiri dan kanan.


Setelah urut salam, Niken pun mencium punggung tangan suaminya. Meminta keridhoan dari pria yang kini telah sah menjadi imamnya tersebut.


Sesudah itu, Ardi pun memimpin doa yang diaminkan oleh Niken, selaku istrinya. Biarpun suasana Masjid begitu ramai, terapi tidak menyurutkan kekhusuan Niken dan Ardi dalam beribadah.


Selepas Sholat, saat Niken sedang merapikan mukenanya mendadak ponselnya berdering. Tertulis nama 'Ayahku Sayang' di layar ponselnya. Buru-buru dia mengambil ponselnya yang tergeletak di sajadah.


Jemarinya segera menggeser tombol hijau, lalu los speaker agar Ardi dapat mendengarnya juga.


"Assalamualaikum, Yah. Ada apa?" sapanya mengucap salam sebagai pembuka pembicaraan.


"Waalaikumsalam, Sayang. Bagaimana kabar kalian di sana?" tanya balik Bambang yang keberadaannya jauh di sana.


"Alhamdulillah, Yah. Aku sama Ardi baik-baik aja. Bagaimana kabar ayah dan mama di sana? Mama baik-baik aja 'kan, Yah?"


"Alhamdulillah, kabar mamamu baik-baik aja. Hanya saja dia merindukan kalian. Kapan kalian akan pulang? Mamamu terus saja menanyakan, hal yang sama berulang kali pada ayah, sampai pusing kepala ayah," keluhnya yang dapat didengar jelas oleh keduanya.

__ADS_1


Ardi dan Niken saling berpandangan, keduanya sama-sama tekekeh, dapat merasakan bagaimana reportnya Bambang Adi Atmaja saat menghadapi pertanyaan-pertanyaan dari istrinya.


Mita tidak terbiasa jauh dari putrinya. Dia akan langsung menanyakan banyak hal, jika belum mendapatkan kabar tentang Niken.


"Jangan tertawa! Ayah tahu kalian pasti sedang menertawakan ayah di sana," cemoohnya bernada ketus, yang berhasil memantik gelak tawa Niken.


Anak gadisnya itu tidak mampu menahan diri untuk tidak tertawa, mendengar celotehan ayahnya seperti anak kecil yang sedang dimarahi oleh ibunya.


"Saat di kantor ayah begitu berkuasa dan ditakuti, tapi ketika di rumah, ayah malah seperti kucing yang takut air ... Ayah sudah seperti suami takut istri," ejeknya sembari menutup mulut dengan sebelah tangan.


Ardi pun ikut terkekeh saat istrinya mengejek sang ayah mertua. Bambang Adi Atmaja pun geram dibuatnya, "Sudah, lupakan saja. Pertanyaan ayah belum kalian jawab. Di mana kalian sekarang?"


Niken masih tertawa, tapi dia berusaha menjawab pertanyaan tersebut. "Aku dan Ardi lagi di Masjid Raya Bandung, Yah," akunya lantang.


"Apa, Masjid Raya Bandung? Kenapa kalian di sana?" serga suara lainnya, yang disinyalir adalah Mita.


"Mama?" sebut Niken karena merasa tidak asing dengan suara tersebut. "Jadi, sejak tadi mama mendengar percakapan kami?" tanyanya keheranan.


"Ya, mama mendengar semuanya, tapi lupakan itu. Sekarang pertanyaannya, kenapa kalian ada di Masjid Raya Bandung? Kalau begitu, kalian saat ini sedang berada di Bandung, benar?" tanyanya memastikan karena saat meminta izin untuk pergi, putra putrinya tidak mengatakan ingin jalan-jalan kemana.


Mita pun tidak bisa menahan diri, dia langsung mengalihkan panggilan menjadi video call, yang langsung menampakkan wajah Niken dan Ardi, dengan suasana di dalam Masjid.


Niken terkekeh sembari menyandarkan kepalanya pada bahu Ardi, yang sontak membuat suaminya itu tersentak. Ini memang bukan kali pertama Niken bersikap manja, tetap saja rasanya selalu membuat jantungnya berdegup lebih cepat.


"Mengapa kalian pergi ke Bandung?" tanyanya mengintimidasi.


Niken semakin menggelayut manja di bahu Ardi. "Bukankah kalian ingin kami segera memiliki anak? Ya, inilah salah satu caranya. Kami sedang berbulan madu, Yah, Ma. Benarkan, Sayang?" akunya sambil mencubit pinggang Ardi.


Dia tersenyum lembut, sembari merapatkan gigi-giginya. Ardi pun tersentak kaget, "Ya. Benar ..." celetuknya spontan. Segera dia memalingkan pandangannya ke arah kamera dan tersenyum simpul pada ibu dan ayah mertuanya.

__ADS_1


Niken pun menunjukkan senyuman terbaiknya pada Bambang dan Mita, "Kalian sudah dengar sendiri bukan? Lagi pula aku ingin bernostalgia di sini, Yah. Sudah lama kita tidak ke Bandung. Aku dan Ardi pergi ke kampung kita dulu, Yah, Ma. Kampung kita masih asri. Warga-warga di sana menjaganya dengan baik. Aku juga melihat rumah lama kita, Yah, Ma. Hanya saja bangunan rumahnya sudah berubah, tapi aku masih bisa melihat kenangan masa kecilku di rumah itu," ungkapnya antusias.


Niken tampak bersemangat saat menceritakan pengalamannya saat berkunjung ke desa tempatnya dulu tinggal, sekaligus bertemu ibu dan ayah mertuanya. Namun, tidak mengatakan kalau dia habis menemui mertuanya karena yang ayah dan ibunya tahu, besan mereka tinggal di Inggris.


Sungguh memang kebohongan, tetapi mau bagaimana lagi? Niken hanya tidak ingin orang tuanya kecewa. Akan tetapi, gadis ayu bertekad. Apabila sudah waktunya, dia akan menceritakan semuanya pada Bambang dan Mita, untuk sekarang biarkan berjalan apa adanya.


"Mama, tahu kalau kamu ingin bernostalgia, sekaligus bulan madu, tapi setidaknya beritahu kami kalian pergi kemana. Tidak seperti ini, tahu-tahu kalian ada di Bandung. Kami 'kan cemas."


Mita tidak bisa menutupi keterkejutannya saat mengetahui keberadaan Niken. Semula dia mengira, kalau putrinya itu hanya berjalan-jalan sekitaran Jakarta. Ternyata, mereka malah pergi ke Bandung sedangkan waktu Jakarta-Bandung tidaklah sebentar, yang semakin membuat cemas, Niken pergi tanpa Jake. Dia menyetir seorang diri dengan jarak tempuh yang tidak dekat.


"Mengapa kau tidak meminta Jake untuk mengantar ke Bandung? Kenapa harus menyetir sendiri? Sangat berbahaya menyetir sendiri, Sayang. Bisa saja kamu mengantuk atau pegal. Ini bukanlah perjalanan yang dekat dan sebentar. Apa kamu ingin kami menangis di sini?" cecarnya, sedikit terisak-isak. Emosi yang mengungkung membuat Mita sulit mengendalikan dirinya.


Matanya langsung saja berkaca-kaca. Bambang Adi Atmaja pun membawa istirnya dalam dekapan hangatnya. Dia mengusap-usap bahu Mita karena tahu saat ini istrinya tengah menata hati.


Akibat kebodohannya, sang mama harus menangis. Niken pun merasa bersalah dan begitu juga dengan Ardi karena permintaannyalah yang membuat ibu mertuanya, menitihkan air mata.


Niken hendak mengatakan sesuatu untuk menghibur sang mama. Namun, Ardi sudah lebih menyelanya.


"Mama, tidak perlu khawatir. Ardi akan menjaga Niken, seperti Ardi menjaga nyawa sendiri. Tidak akan Ardi biarkan orang lain melukainya dan Ardi akan pastikan, Niken kembali dengan baik-baik saja. Mama dan Ayah tidak usah cemas. Kalau terjadi sesuatu pada Niken, seperti yang ayah sudah katakan. Kalian bisa memecat Ardi menjadi menantu kalian," tuturnya ceplas-ceplos, sembari tersenyum simpul pada sang Istri.


Tangannya pun merangkul bahu Niken, membawa istrinya itu untuk lebih dekat padanya. Niken tertegun, pandangannya dan Ardi saling bertemu. Seperti adanya tarikan kuat, Niken tidak ingin lepas dari tatapan suaminya, yang semakin lama membuatnya merasa nyaman.


Mita pun terlihat menyeka air matanya. Dari balik sambungan video call, dia dapat melihat betapa tulusnya Ardi mencintai putrinya. Cinta yang bukan dibuat-buat demi formalitas semata.


Perlahan-lahan senyuman kembali mengembang di bibir lembab wanita lima puluh sembilan tahun tersebut. Bambang pun bernapas lega saat melihat sang istri yang kembali menunjukkan senyumannya. Sempat dibuat cemas karena sang istri menangis dan tingkah putrinya yang bertindak seenaknya saja, kini setidaknya Bambang bisa tersenyum kembali.


Niken telah dijaga oleh Ardi. Setidaknya dia bisa memercayai menantunya itu untuk menjaga putri semata wayangnya tersebut. Mita pun telah mendapatkan ketenangannya kembali.


Tidak lagi ada yang perlu dicemaskan lagi. Niken dan Ardi telah berjanji akan segera kembali ke Jakarta, besok karena hari sudah mulai malam. Tidak mungkin bagi Niken menyetir di malam hari, sangat berbahaya baginya.

__ADS_1


Sambungan video call pun telah selesai. Sempat terjadi ketegangan. Namun, semuanya telah berhasil dikendalikan. Ardi pun melepaskan pelukannya secara cepat. Niken tampak memalingkan pandangannya ke sembarang arah. Keduanya kembali bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Sesungguhnya, hati masing-masing telah merasa nyaman. Akan tetapi, tidak ada yang mau mengakuinya.


Mungkin untuk sekarang. Tidak tahu di waktu mendatang. Cinta bagaikan air yang mengalir dari hulu ke hilir. Tidak ada yang dapat mengetahui kedatangannya. Begitu juga dengan hati. Sekarang mereka sama-sama menutupinya. Namun, tidak untuk nanti.


__ADS_2