Suami Kontrak Yang Kucinta

Suami Kontrak Yang Kucinta
26. Tidak Jadi


__ADS_3

Tea sudah sangat frustasi. Leona, sahabat yang begitu dipercayai, ternyata berani bermain api di belakangnya. Galaxy, tunangannya dengan tega merusak kepercayaannya. Kini pertanyaannya, ada pada dirinya.


"Mungkinkah aku ini egois, sehingga orang-orang yang sangat kupercayai berani bermain api di belakangku? Bahkan mereka melakukannya di kamarku sendiri. Sungguh menjijikkan," rutuk Tea kala mengingat setiap detik perbuatan yang telah Leona dan Galaxy perbuatan di belakangnya.


Cinta kasih keduanya, seolah-olah menarik di pikirannya. Tea mengacak-acak rambutnya frustasi. Kini dia telah berdiri di ujung jembatan. Kakinya mulai naik ke besi pembatas jembatan.


Suasana sekitar yang sepi dan jarang dilalui kendaraan, membuat Tea tidak kesulitan untuk melancarkan rencananya, yaitu terjun ke sungai yang ada di bawah jembatan tersebut.


"Ibu, maafkan Tea karena sudah membuatmu kecewa. Andai sejak awal, Tea jujur pada ibu mungkin hal seperti ini tidak akan terjadi. Tea sudah membuat malu ibu dan keluarga. Undangan sudah disebar, persiapan pun sudah hampir rampung, tetapi Tea tidak bisa melanjutkan pernikahan ini. Semoga kepergian Tea, akan meringankan beban kalian," gumamnya, sembari membuang napas berat.


"Selamat jalan, Bu. Tea akan menyusul ayah di surga. Ah, tidak. Bunuh diri tidak akan masuk surga, setidaknya aku akan menyusul ayah ke sana," racaunya dengan mata yang telah terpejam.


Dia sudah berada di ujung bibir jembatan, hanya tinggal menghitung mundur saja untuk Tea melompat ke sungai.


Satu ...


Dua ...


Saat memasuki hitungan ketiga.


"Hei, Kau! Wanita jembatan!"


Seseorang dengan sigap langsung menarik tangan Tea, sontak membuat tubuh Tea jatuh ke belakang, saat itu juga orang tersebut menggendong Tea ala bridal style.


Kedua pandangan mereka saling bertemu. Tea melingkarkan tangannya di leher pria tersebut. Matanya mengerjap pelan, hembusan angin yang cukup kencang meniup helai rambut pria tersebut, sehingga membuat ia tampak menawan.


"Mengapa kau melihatku seperti itu? Jangan bilang kau, terpesona dengan ketampananku?" celetuk pria tersebut, sembari menunjukkan senyuman terbaiknya.

__ADS_1


Tea buru-buru meraih kesadarannya. Dia akui pesona pria tersebut memang mampu mengalihkan dunianya, tetapi Tea segera tersadar dan langsung melepaskan tautannya pada pria itu.


"Turunkan aku!" rutuknya sambil memukul-mukul bidang dada pria tersebut.


Atas permintaannya, pria itu menjatuhkan tubuh Tea begitu saja tanpa adanya perasaan. Ekspresi wajahnya juga datar-datar saja. Tea menjerit kesakitan, tangannya mengelus-elus belakang tubuhnya yang sakit.


"Hei, pria tidak punya hati! Apa ini caramu memperlakukan wanita, ah?!" hardiknya dengan mata yang membulat, serta jari telunjuknya tegak lurus di depan hidung pria tersebut.


"Hei, kau, wanita jembatan! Sudah untung aku datang di waktu yang tepat, kalau tidak ... Aku tidak tahu apa yang akan terjadi. Kau melompat ke sana, apa tidak memikirkan perasaan orang tuamu? Pasti mereka akan sangat bersedih saat tahu, anak mereka terjun ke sungai. Is. Is. Is."


Pria itu mencemooh Tea akan tindakan jalan pintas yang coba diambilnya. Tea tertegun, meratapi setiap kata yang pria itu lontarkan. Semua perkataannya tidaklah salah. Tea sendiri sangat memikirkan perasaan ibunya setelah tahu dirinya telah tiada.


Ibunya akan hidup seorang diri. Ia akan menangis sejadi-jadinya saat tahu putri semata wayangnya sudah tidak bernyawa lagi.


Memikirkan semuanya, membuat Tea terkulai lemas. Kakinya tidak lagi bisa menopang tubuh mungilnya. Dia menangis, menyesali perbuatannya yang akan membuat sang ibu tercinta terpuruk.


Pria itu menatapnya iba. Ia duduk jongkok, lalu mengelus bahu Tea agar gadis ayu yang baru saja ditemuinya itu lebih tegar dan tenang.


Pria itu menatapnya. Kalau boleh ia ingin memberikan pelukan, bahkan tangannya sudah ingin memeluk gadis ayu tersebut. Hal ini ia lakukan semata-mata untuk memberikan kekutan baginya.


Tanpa malu Tea pun membuang ingusnya secara kasar, yang sontak membuat pria tersebut merasa jijik sekaligus senang. Ia sedikit tertawa saat Tea mengeluarkan ingusnya tanpa ragu-ragu.


"Jangan tertawa kau, Tuan! Aku sedang bersedih, apa kau tidak bisa melihatnya?" gerutunya yang semakin membuat pria itu merasa gemas akan tingkah Tea.


Ia mencoba untuk menahan tawanya, tetapi tetap dia bisa. Akhirnya ia menarik napas kuat-kuat, lalu segera menghapus sisa kristal bening yang tertinggal di pipi Tea.


"Gadis cantik sepertimu tidak pantas menangis," ungkapnya, sembari menyeka sisa kristal bening yang sontak membuat Tea tertegun. "Kalau aku boleh tahu, apa yang membuatmu ingin meloncat ke sungai sedangkan kamu tahu, bunuh diri itu tidak diperbolehkan oleh agama?" tanyanya, memberi tatapan menenangkan bagi lawan bicaranya.

__ADS_1


Tea menatap manik hazel pria itu. Kini pandangannya tidak dapat dialihkan. Pesonanya begitu luar biasa, sampai mampu menghipnotisnya, seolah dunianya teralihkan begitu saja. Pengkhianatan Galaxy, seperti menghilang tertelan bumi.


"Hei! Nona, jembatan!" sebutnya, yang lagi-lagi menyebut Tea sebagai wanita jembatan. Sebutan itu ia sematkan, dikarenakan tidak mengetahui nama wanita yang hendak bunuh diri itu.


Ia bertemu dengannya di jembatan, itu sebabnya pria tersebut memanggil Tea dengan sebutan 'Wanita Jembatan' memang terdengar konyol, tetapi seperti itulah faktanya.


Tea pun tersadar dari lamunannya, saat pria di hadapannya menjentikkan jemarinya. Dia buru-buru bangun dan membersihkan celananya yang kotor.


"Terima kasih, Tuan karena Anda sudah menyadarkan saya yang hampir saja bertindak bodoh," ucapnya seketika menjadi formal.


Pria itu menaikkan sebelah alisnya, merasa perubahan gadis ayu di depannya begitu aneh. "Ya, sama-sama, tapi kau belum menjawab pertanyaanku tadi."


"Pertanyaan apa, Ya? Aku merasa Tuan tidak bertanya apa-apa," elaknya berbohong.


Sesungguhnya dia mendengar dengan jelas pertanyaan tersebut. Hanya saja Tea enggan menjawabnya karena terlalu privasi.


Pria itu menganggukkan kepalanya, langsung memahami alasan di balik penolakan tersebut. "Ya, baiklah. Jika kau tidak ingin menjawab pertanyaanku tadi. Lagi pula, itu adalah privasimu, jadi tidak seharusnya aku ikut campur."


Ia segera bangkit dari duduk jongkoknya. "Kalau begitu, hati-hati di jalan, Nona. Semoga kita bisa bertemu kembali dilain kesempatan," ungkapnya, sembari mengulurkan tangan. Niatnya hanya untuk berjabat tangan dengan gadis yang telah ia selamatkan tersebut.


Tea pun memandang pria di hadapannya dari atas sampai bawah. Dia sedang menganalisa penampilan pria tersebut.


"Jika dilihat dari penampilannya, Tuan sepertinya bukan orang asli sini?" tebaknya ragu-ragu dengan kepala yang sedikit dimiringkan.


Pria tersebut terkekeh, "Kau benar. Aku memang bukan asli orang sini. Kebetulan saja tadi aku lewat daerah ini, saat melihatmu diriku langsung menghentikan mobilku. Itu, mobilku ada di sana!" tunjukkan ke belakang.


Tea melihat mobil mewah dengan merek ternama terparkir beberapa meter di sana. Jika dilihat-lihat kembali, sepertinya pria yang sudah menyelematkan nyawanya bukanlah orang sembarangan.

__ADS_1


Setidaknya ia memiliki jabatan seorang manager, atau bisa saja CEO, jika dilihat dari gaya pakaiannya dan mobil yang dikendarainya.


Namun, siapakah gerangan namanya, pria yang telah mampu membuatnya jatuh hati pada pandangan pertama?


__ADS_2