Suami Kontrak Yang Kucinta

Suami Kontrak Yang Kucinta
28. Mas Nalendra


__ADS_3

"Assalamualaikum ... Permisi." Seorang pria tanpa dikenal mengucap salam, sembari mengetuk pintu agar pemilik rumah mengetahui keberadaannya. Ia terlihat celingak-celinguk, lalu mulai tersenyum canggung saat kedua wanita di depan sana menatapnya.


"Siapa pria itu?" tanya Fatma pada sang putri tercinta. Terutama pria tersebut baru pertama kali dikenalnya.


Tea tersenyum tipis ke arah pria yang berdiri di ujung bibir pintu. Pria itu mengumbar senyuman dan tangannya menggaruk kepala. Ada perasaan canggung dari pria itu kala pertama kali memasuki rumah orang asing.


Bagi pemuda bernama lengkap Narendra Sakti Aditama, Tea adalah orang asing. Pertemuan yang tak terduga dengan gadis ayu itu membawanya untuk singgah sejenak di rumahnya, sekaligus melepas lelah akibat perjalanan jarak jauh yang ditempuhnya.


"Masuklah ..." Tea mempersilahkan Narendra masuk tanpa menunggu persetujuan dari Fatma.


Fatma ingin mengatakan sesuatu, yang Tea bisa tebak, ibunya itu ingin menolak mempersilahkan pria tak dikenalnya itu untuk masuk terutama ini sudah tengah malam. Tidak baik, membawa masuk pria yang bukan mahram ke rumah, apa lagi Fatma belum mengenal asal usul pria tersebut.


"Ibu tenang saja. Aku mengenal pria itu. Dia yang sudah menyelamatkan Tea, Bu. Andai tidak ada Pak Nalendra, mungkin saat ini ibu tidak akan bisa melihat aku ada di sini," ungkap Tea penuh kejujuran.


Mendengar pengakuan tersebut, buru-buru Fatma menutup mulut putri semata wayangnya itu. "Suuts ... Ibu tidak ingin mendengar hal bodoh seperti itu ..." Fatma lalu menggenggam erat tangan Tea dan tidak akan pernah melepaskannya kapan pun juga.


Tea pun tersenyum lembut, sekaligus merasakan kecemasan yang ibunya rasanya sekarang. Benar yang Nalendra katakan. Andai, dirinya benar-benar melompat ke sungai entah apa yang akan terjadi pada ibunya nanti?


Tea mengucap syukur dalam hatinya karena tidak mengambil tindakan bodoh hanya untuk menyelesaikan masalahnya. Nyatanya, jalan instan memang tidaklah baik. Seberat apa pun masalah, sebaiknya dihadapi dan bukannya lari.


Nalendra pun sudah berdiri beberapa meter dari Tea dan Fatma. "Assalamualaikum ... Maaf menganggu waktunya, Tante." Nalendra pun meraih tangan Fatma, yang dia lakukan adalah mencium punggung tangan wanita berstatus ibu satu orang anak tersebut.


Fatma pun merasa tersentuh, hatinya langsung luluh melihat betapa sopannya Nalendra terhadap dirinya. Tea pun tersenyum lembut. Bukan hanya ibunya saja yang sepertinya terpikat pada Nalendra, tetapi dirinya pun sejak awal sudah mengagumi sosok Nalendra. Terlebih lagi, pria yang telah dari mana datangnya itu, telah membuka pikirannya sehingga dirinya mengurungkan niat untuk melompat ke sungai.


"Dia ganteng juga." Fatma menyikutkan tangannya di pinggang Tea, sontak membuat gadis ayu itu tersadar dari lamunannya.


"Ibu ... Jangan malu-maluin deh, 'kan aku jadi malu dilihatin Mas Nalendra," ungkapnya malu-malu dan terdengar manja.


Nalendra yang mendengarnya pun dibuat salah tingkah. Tidak biasanya dia merasa malu saat seorang wanita memuji dirinya. Apa mungkin karena Tea memanggilnya dengan sebutan 'Mas' soalnya ini kali pertama dirinya dipanggil 'Mas' oleh wanita yang baru dikenalnya.


"Ayo! Sudah mulai panggil 'Mas ... Mas-an' Jangan katakan dia adalah calon mantu baru ibu ..." goda Fatma penuh selidik.

__ADS_1


Kini Tea yang dibuat salah tingkah. Sedangkan Nalendra gelang-gelang kepala sembari menutup mulutnya dengan sebelah tangan, merasa yang diucapkan Fatma begitu lucu.


"Apaan si, Bu. Aku dan Mas Nalendra baru bertemu. Kami baru berkenalan tadi," gerutunya sembari menggembungkan pipinya. "Ibu jangan terus-terusan menggodaku. Lihat tuh, Mas Nalendra sampai ketawa." Tea pun kian merasa malu, pipinya bahkan sampai merona karena digoda demikian.


Fatma pun menatap lekat putri semata wayangnya tersebut, mengacak pucuk rambutnya dan berkata. "Ibu senang karena kamu bisa melupakan pria biadab itu. Tidak ada hal yang lebih membahagiakan bagi ibu, selain melihat dirimu terus tersenyum, Sayang. Jangan pernah pergi-pergi lagi dari rumah, apa lagi sampai tidak memberi kabar pada ibu atau yang lainnya. Apa kamu ingin, melihat ibu menangis karena kehilanganmu? Ibu tidak bisa membayangkan, bagaimana hidup ini nanti tanpa ada kamu? Mungkin ibu akan menyusul ayah dan juga kamu."


Tanpa mendengar lebih jauh lagi, Tea langsung memeluk wanita yang selama ini telah berjuang merawat dan membesarkannya.


"Tea tidak akan pergi-pergi lagi dari rumah, Bu. Janji. Maaf karena sikap tidak dewasa Tea sudah membuat ibu cemas. Tidak seharusnya Tea mengambil keputusan kekanak-kanakan seperti ini. Tea tidak akan mengulanginya lagi, Bu. Seberat apa pun masalahnya, Tea akan menghadapinya dan tidak akan lari dari kenyataan."


Melihat Tea yang berderai air mata saat memeluk sang ibu, membuat Nalendra tanpa terasa ikut menitihkan air mata. Dia menyeka sisa kristal bening yang lolos dari tempatnya.


Fatma melirik Nalendra, lalu melonggarkan pelukannya pada sang putri tercinta. "Sudah, jangan ada nangis-nangis lagi. Malu tuh dilihatin, Mas kamu tuh," celetuknya menggoda sang putri agar tersenyum kembali.


Tea pun merengek pad Fatma. "Ibu ... Jangan terus-terusan menggodaku seperti itu. Aku engga suka digoda, Bu."


Fatma tertawa kecil, matanya segera melirik Nalendra yang tertangkap sedang menahan diri untuk tidak tertawa.


Biarpun belum mengakuinya, tetapi Fatma yakin kalau Nalendra adalah jodoh terbaik bagi putrinya. Tuhan telah mempertemukan keduanya dan sepertinya Tea telah jatuh hati dengan Nalendra. Setidaknya itu yang Fatma tangkap dari sikap Tea yang sedari tadi malu-malu saat digoda.


"Astaghfirullah ... Sampai lupa. Terlalu asyik mengobrol, aku sampai lupa menyuruh Nak Nalendra untuk duduk." Fatma buru-buru mengajak Nalendra untuk duduk.


"Ayo duduk, Nak!" ajaknya agak sedikit canggung karena kondisi rumahnya cukup acak-acakan.


"Terima kasih, Tante." Nalendra pun tersenyum canggung, sembari membungkukkan bada dan segera duduk di tempat yang sudah disediakan.


"Mau minum apa, teh, kopi atau jus?" tawarnya demikian.


Nalendra pun tersenyum canggung, "Tidak usah repot-repot, Tante."


"Tidak repot kok. Kalau begitu Tante akan buatkan teh hangat untuk kalian. Kalau begitu kalian mengobrol saja dulu. Tante akan segera kembali." Fatma pun memaksa, lalu melenggang pergi dari hadapan Nalendra. "Ajaklah dia mengobrol," bisiknya pada Tea. Baru setelahnya dia melangkah menuju dapur.

__ADS_1


Sebagai Tuan Rumah yang baik, sudah sepatutnya dia melayani tamunya. Nalendra adalah tamu dan tamu diibaratkan sebagai seorang Raja.


Pipi Tea semakin memerah. Hidungnya kembang kempis, sedangkan napasnya memburu tidak karuan. Dia merasa begitu malu karena ibunya terus saja menggodanya.


Nalendra sendiri merasa canggung, saat menangkap perubahan aneh dari sikap Tea terhadap dirinya. Namun, dia memilih untuk diam saja, bersiul-siul, menganggap yang tertangkap oleh netranya tidak pernah ada.


Tea memutuskan untuk duduk, posisinya bersebrangan dengan Nalendra. Dengan begitu dia bisa puas mengagumi makhluk Tuhan yang paling sempurna itu, dari posisi strategis. Matanya melirik malu-malu pada lawan jenisnya. Sedangkan Nalendra, bersikap biasa saja seperti tidak ada dorongan untuk tertarik pada wanita.


"Bagaimana perasaanmu, apa sudah lebih baik?" tanyanya untuk membuka pembicaraan. Nalendra sejak tadi sudah mendapatkan ketenangannya, sehingga dia memutuskan untuk mengajak bicara Tea.


Gadis ayu bermata hazel itu sedikit terperanjat. Sungguh sejak tadi dia melamun sehingga tidak fokus dengan sekitarnya.


Buru-buru Tea menata perasaan serta pikirannya yang mulai melalang buana itu. "Hem ... Ya, perasaanku sudah lebih tenang dari sebelumnya."


Nalendra mengangguk saat mendengar pengakuan tersebut, sekaligus mengucap syukur karena Tea sudah bisa mengendalikan emosi.


"Sebelumnya, terima kasih karena Tuan Nalendra sudah mau menolong saya. Andai tidak ada Tuan saat itu, mungkin saya sudah membuat ibu bersedih sekarang," akunya penuh sesal.


"Terima kasih kembali. Aku hanya melakukan sesuatu yang kuanggap benar karena hakekatnya bunuh diri atau mengambil jalan pintas seperti itu, tidaklah dibenarkan. Seburuk apa pun suatu masalah, kita seharusnya menghadapinya dan bukan lari dari masalah tersebut."


Ucapan Nalendra semakin membuat Tea tersadar, bahwa yang dilakukannya beberapa saat lalu akan membawanya terjerumus dalam dosa besar yang tidak akan mudah dihapus.


"Aku hanya berharap, kejadian ini tidak terulang di kemudian hari karena saat itu terjadi aku tidak akan bisa menolongmu seperti tadi."


Kalimat terakhirnya mendapat anggukan cepat dari Tea. "Aku berjanji, tidak akan mengulangi hal bodoh seperti tadi. Tuan bisa pegang janjiku ini."


Nalendra pun tersenyum lembut dan memilih untuk tidak menanggapinya lebih lanjut. Sebaliknya, dia mengajak bicara Tea tentang hal-hal kecil. Seperti kesehariannya seperti apa dan lain-lainnya.


Dari sanalah tercipta suasana yang semula canggung, perlahan-lahan mulai mencair. Fatma pun datang, lalu membaur, menyesuaikan pembicaraan yang sedang dibahas kedua insan tersebut.


Sedikitnya Tea menceritakan tentang masa lalunya. Begitu juga dengan Nalendra. Dia pula tidak lupa mengatakan tujuannya datang ke kota tersebut. Dari sanalah baru diketahui Nalendra lahir dan dibesarkan di Bandung. Namun, setelah lulus SMA, dia melanjutkan pendidikannya di Inggris dan menetap di sana. Baru sekarang dia pulang ke Indonesia lagi.

__ADS_1


__ADS_2