
Nalendra pun sudah masuk ke mobilnya dan menyalakan mesinnya saat itu juga. Dia membiarkan jendela bagian kanan terbuka, lalu melambaikan tangan pada Tea dan Fatma yang masih setia berdiri di sana.
Kedua wanita berbeda generasi tersebut, sama-sama melambaikan tangan kepada Nalendra. Masing-masing memiliki harapan sendiri, terkhusus Tea yang mengharapkan Nalendra untuk bisa kembali ke rumahnya. Hal tersebut dapat terbaca dari senyuman yang merekah sempurna.
Mobil Nalendra pun mulai meninggalkan pekarangan rumah, sedangkan Tea masih melambaikan tangan pada mobil pria yang telah menyelamatkan hidupnya tersebut. Ketika mobil Nalendra keluar dari gerbang, di waktu bersamaan mobil yang ditumpangi Niken dan keluarga memasuki pekarangan.
Fatma pun cukup terkejut dengan kedatangan mobil yang tidak dikenalinya. "Kira-kira siapa, Ya?" Dia jadi penasaran dengan pemilik mobil tersebut.
Tea mengangkat bahunya. "Aku juga tidak tahu, Bu. Apa mungkin seseorang yang kita kenal?" Dia sedikit menebak-nebak dan perkiraannya tersebut ternyata benar.
Niken pun keluar dari mobil, lalu di susul Mita dan Bambang Adi Atmaja. "Terima kasih, Pak," ucap Niken sembari memberi uang sebagai bayaran atas tumpangan tersebut.
Fatma langsung berseri-seri saat mengetahui bahwa kakak perempuannya yang datang. "Mba Mita!" panggilannya, segera berlari pada Mita dan memeluknya saat itu juga. Melepaskan kerinduan yang telah lama terbelenggu di dalam dada.
Mita sedikit terkesiap, tetapi dia langsung merespon pelukan tersebut. Lengkungan sempurna membentuk bulan sabit di ujung bibirnya, begitu manis saat dia dapat memeluk adiknya kembali.
"Bagaimana kabarmu?" Mita melonggarkan pelukannya. Sedikit mengikis jarak antara keduanya agar lebih leluasa berbicara.
Pandangan dua wanita yang usianya terpaut tiga tahun tersebut, akhirnya bertemu setelah sekian lama tidak bersua. Entah berapa lama Mita dan Fatma tidak saling berpandangan seperti ini?
"Kabarku, alhamdulilah baik, Mba. Lalu bagaimana dengan kabar Mba dan keluarga?" Fatma langsung menjatuhkan pandangannya pada kakak iparnya dan keponakan tersayangnya.
"Aku, alhamdulilah sehat dan Mas Bambang juga sehat. Keponakanmu juga sehat." Mita mengarahkan pandangannya pada Niken yang berdiri agak di belakangnya. "Lihatlah, keponakanmu ini. Sekarang dia bukan lagi gadis dari keluarga Atmaja, tetapi Nyonya Ardi Bagaskara."
Mita manik tangan Niken agar posisi berdirinya lebih mendekat. Kabar pernikahan Niken membuat Fatma terkejut.
__ADS_1
"Jadi, Niken sudah menikah Mba. Kapan?" tanyanya dengan mata membulat sempurna. "Lah, kok engga berikabar si ke sini 'kan aku juga pengen lihat Niken duduk di pelaminan."
Niken pun tersenyum canggung sembari memegang tangan sang mama tercinta. Dia ingin menjawab pertanyaan tersebut, tetapi sebaiknya biarkan para orang dewasa yang menyelesaikannya.
Belum sempat Mita berkata lebih jauh, Tea lebih dulu berseru. "Sampai kapan kalian akan berdiri di sana?! Bu, kenapa Uwa dan lainnya engga diajak masuk aja, 'kan lebih enak ngobrol di dalam?"
Fatma pun menepuk keningnya, baru teringat akan suatu hal. "Astaghfirullah ... Maaf Mba, aku lupa. Saking antusiasnya lihat Mba, aku sampai lupa mempersilahkan untuk masuk. Ayo, Mba. Mas!" ajaknya sambil tersenyum ramah. "Ayo, Niken. Kita ngobrolnya di dalam aja. Kalian juga pasti lelah setelah menempuh perjalanan lama. Ayo!"
Niken pun tersenyum lembut, kepalanya mengangguk. Fatma pun mengajak semuanya untuk memasuki rumahnya. Mobil yang ditumpangi Niken sudah sejak tadi meningkatkan kediaman Fatma.
Bambang pun menarik kedua koper besar tersebut. Fatma yang melihat hal tersebut buru-buru memanggil ajudannya. "Tarjo, kemari!"
Seorang pria setengah baya dengan penampilan sederhana dan memakai blangkon itu segera datang. Namanya Tarjo. Dia berlari kecil, dari arah halaman belakang.
"Ya, Nyonya. Ada yang bisa saya bantu?" Tarjo pun bertanya, lalu melempar senyuman pada Niken dan keluarganya. Keluar Atmaja pun membalas senyuman tersebut dengan anggukan kepala.
Tarjo pun melirik ke arah pria yang usianya lebih tua darinya. Dilihatnya juga kedua koper yang dipegang pria tersebut. "Baik, Nyonya." Tarjo buru-buru menghampiri Bambang Adi Atmaja. "Sini Tuan, biar saya yang bawakan," pintanya begitu sopan.
Bambang pun tersenyum lembut pada pelayan yang telah lama bekerja di kediaman keluarga Fatma. "Terima kasih." Dia tidak ragu-ragu menyerahkan kedua kopernya itu karena sudah tidak sanggup untuk menariknya lagi.
Kedua koper besar itu telah berada di tangan Tarjo. Fatma pun segera mengajak Mita dan lainnya untuk masuk ke rumahnya.
Sebelum Mita dan lainnya masuk, Tea lebih dulu menyalmi mereka. Dia meraih tangan Bambang dan Mita, lalu mencium punggung tangan keduanya secara bergantian. Menunjukkan tanda baktinya pada orang yang lebih dewasa, terutama Mita dan Bambang adalah kerabatnya.
"Loh, itu Tea. Katanya dia pergi dari rumah?" Mita tidak bisa menahan dirinya untuk tidak bertanya. Lantas saja pertanyaan tersebut bukan hanya mengejutkan Fatma, tetapi Tea yang sudah berjalan lebih dulu pun dibuat bungkam.
__ADS_1
"Mari kita bicarakan di dalam, Mba. Aku akan ceritakan semuanya pada Mba dan lainnnya." Fatma lebih dulu meminta Mita dan Bambang untuk masuk karena tidak baik mengobrol di depan pintu.
Mita pun mengangguk dan mengikuti arahan sang adik untuk memasuki kediamannya. Sementara itu, Niken mengekor di belakangnya. Sejak tadi dia bungkam seribu bahasa. Raganya memang ada di sini, tetapi pikirannya sedang berada di tempat lain. Siapa lagi kalau bukan Ardi, suaminya yang saat ini entah sedang apa di sana bersama Melati?
Niken pun melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti itu. Setelah semuanya jelas, barulah dia akan menghubungi Ardi nanti.
"Mari duduk! Maaf tempatnya tidak sebesar rumah kalian," ujar Fatma bergurau. Hitung-hitung basa-basi agar suasana yang tercipta tidak terlalu tegang.
Mita pun menyenggol tangan Fatma, "Apaan si? Jangan ngomong kayak gitu ah. Mau kecil ataupun besar, yang penting rumahnya nyaman dan engga bocor. Sama aja kalau rumah besar, tetapi suasananya kayak di rumah hantu 'kan seram."
"Benar yang Mbamu bilang. Rumah kalau bocor, tetap aja engga bisa ditinggali 'kan? Enggapapa kecil yang penting nyaman dan hidup. Rumah besar, tapi engga ada penghuninya ya sama sajalah, akan terbengkalai." Bambang pun ikut menimpali, sembari menggeser tubuhnya diantara sofa dan meja. Setelah, mendapatkan posisi yang pas, barulah Bambang Adi Atmaja duduk.
Begitu juga dengan Mita, Niken dan Tea yang sudah menempati posisi duduk masing-masing. "Begitu, ya." Fatma pun tersenyum tipis, menanggapi kalimat Mita dan suaminya.
Memang benar yang dikatakan keduanya. Suatu rumah, tidak akan dikatakan sebagai tempat tinggal andai di dalamnya tidak ada yang menghidupkan. Rumah besar, tapi engga ada penghuninya, sama saja seperti kuburan.
"Kalian mau minum apa?" Fatma beringsut dari tempat duduknya.
"Tidak usah repot-repot," balas Mita sembari menarik lengan kanan sang adik tercinta.
"Ya benar, adik ipar. Tidak usah repot-repot. Sejak tadi kami sudah minum terus. Jadi, tidak perlu repot menyiapkan ini dan itu. Kayak sama siapa aja." Bambang pun ikut menyahut dan menimpali kalimat sang istri.
Biarpun begitu, Fatma sebagai tuan rumah tetap harus memperlakukan tamu sebagai Raja karena sudah kodratnya seperti itu.
"Kalau begitu, aku akan ambil minum lebih dulu. Hanya minuman sederhana." Fatma pun memaksa dan Mita beserta yang lainnya hanya bisa pasrah. "Sebentar, aku akan segera kembali."
__ADS_1
Fatma melenggang meninggalkan ruangan, membiarkan Mita mengobrol lebih dulu dengan Tea. Walaupun begitu, ada perasaan was-was mengisi sanubarinya, perihal masalah Tea yang sempat meninggalkan rumah dan membuat panik semuanya.