
Beberapa hari berikutnya. Melati sudah diperbolehkan pulang oleh Dokter. Niken pun menyewa travel, sebagai tumpangan kembali ke Jakarta.
Melati duduk di kursi depan, samping pengemudi. Sementara Niken dan Ardi saling merajut cinta di belakang.
Tak khayal Niken terus menunjukkan sisi manjanya pada sang suami. Ardi pun terlihat begitu bahagia karena Niken sudah tidak marah padanya.
Melati meremas ujung bajunya. Setiap ******* manja Niken yang sengaja dibuatnya, mampu memantik percikan api cemburu Melati.
Niken terus memperhatikan gerak gerik Melati. Netranya menangkap kalau saat ini wanita berstatus kekasih Ardi itu sedang kesal, mungkin sedang mengumpat berulang kali di dalam hatinya. Walaupun Niken tidak bisa membaca pikiran orang lain, setidaknya dia merasa demikian.
Seketika pandangan Niken menjadi kosong kala dirinya teringat kembali akan pertemuannya dengan Nalendra beberapa jam lalu. Sungguh bukan kebetulan biasa, dirinya kembali dipertemukan dengan sosok pria yang pernah mencintainya lima belas tahun lalu.
***
Kejadian beberapa jam lalu, tepat setelah Nalendra meninggalkan rumah Fatma dan saat itu Niken pun baru meningkatkan kediaman Fatma. Sebenarnya ini kejadian tanpa sengaja.
"Assalamualaikum." Nalendra mengucap salam lebih dulu sembari mengulurkan tangan, niat ingin berjabat tangan Niken. "Lama engga bertemu. Bagaimana kabar kamu?" Nalendra menunggu jawaban dari Niken. Namun, gadis berstatus istri sah Ardi itu tampak diam. Bahkan sengaja dia menyelengos demi menghindar dari kontak langsung dengan Nalendra.
"Kabarku alhamdulilah baik. Bagaimana kabar, Mas?" tanya Niken pelan.
Biarpun ekspresinya tampak kurang mengenakkan, bagi Nalendra itu sudah lebih dari cukup. Terlebih lagi Niken memanggilnya dengan sebutan 'Mas' tak ada hal yang lebih membahagiakan selain mendengar suara lembut Niken yang selama bertahun-tahun dirindukannya.
"Alhamdulillah kabarku baik." Nalendra tersenyum simpul, sembari menatap lekat manik wanita yang selama bertahun-tahun telah mengisi hatinya tersebut.
Walaupun ada sedikit sesak di rongga dadanya kala mengetahui bahwasanya Niken telah menikah. Kabar yang sungguhnya tidak ingin Nalendra dengar. Bahkan terucap dari bibir wanitanya tersebut.
"Apa benar kamu sudah menikah?" tanya Nalendra penasaran. Sebenarnya dia sudah tahu jawabannya, tetapi Nalendra ingin mendengarnya langsung dari Niken.
Segera Niken mengangguk, "Ya. Aku sudah menikah. Mas bisa lihat ini!" Niken menunjukkan cincin yang melingkar di jari manisnya. Cincin sebagai tanda bahwa dirinya telah sah milik seseorang.
Niken memang memperlihatkan cincinnya. Akan tetapi Nalendra hanya memandangnya sejenak, sebelum kembali menatap maniknya lekat-lekat.
Sudah lima belas tahun dirinya tak berjumpa Niken. Entah bagaimana kabarnya selama ini? Nalendra ingin sekali mengetahui apa saja yang telah wanita yang dicintainya lewati? Terlepas dari kabar pernikahannya, Nalendra tidak terlalu memedulikannya.
__ADS_1
"Kalau Mas tidak ada keperluan lagi. Apakah aku boleh pergi? Saat ini suamiku sedang membutuhkanku. Jadi aku tidak bisa berlama-lama di sini," beber Niken ketus dan memang sengaja memanas-manaskan suasan.
Dirinya tidak menutupi keinginannya yang ingin segera bertemu Ardi. Hal tersebut dilakukannya semata-mata untuk menghindari pertemuannya dengan Nalendra agar tidak terlalu lama.
"Baru saja bertemu, kenapa kamu sudah ingin pergi saja? Apa kamu engga kangen aku?" celetuknya bernada candaan.
Nalendra menggaruk-garuk kepala belakangnya yang tak gatal. Dia cengengesan menunjukkan deretan gigi putihnya. Diamnya Niken menciptakan kesan canggung di antara keduanya.
Nalendra sudah berubah untuk mencairkan suasana, tetapi Niken tetap saja dingin. Seakan-akan dirinya tidak pernah ada lagi.
"Maaf Mas, aku sudah sangat terlambat. Penerbanganku tiga puluh menit lagi. Jadi, aku sangat terburu-buru sekarang."
Niken tidak memiliki waktu banyak untuk meladeni celotehan Nalendra yang menurutnya sangat garing.
Tanpa menunggu jawaban dari Nalendra, Niken sudah lebih dulu melenggang meninggalkan pria yang pernah satu sekolah dengannya itu.
Nalendra hendak meraih tangan Niken dan mengajaknya untuk satu mobil. Akan tetapi, wanita yang sudah memiliki suami itu langsung saja berlari. Ternyata Niken telah memesan ojek online sebelumnya, sehingga sudah ada yang menantinya di depan gerbang.
Niken mengiyakan dengan segera. Tak berlama-lama lagi, dia meraih helm yang diberikan kang ojek tersebut.
Sebelum naik, Niken lebih dulu melihat ke belakang. Menatap Nalendra yang berdiri di bibir gerbang. Tatapannya begitu sayu menyiratkan hal akan kerinduan yang telah lama dipendamnya.
Niken menggelengkan kepalanya, menepis anggapan tersebut dan buru-buru menjernihkan pikirannya kembali. Tak ingin terbawa arus perasaan lebih jauh, Niken segera naik ke motor dan meminta agar Kang Ojek segera berangkat.
Atas perintahnya tersebut, pria yang bekerja sebagai ojel tersebut segera melajukan motornya. Niken masih menatap Nalendra. Namun, dia segera membuang pandangannya ke arah lain.
***
Hingga sekarang Niken tidak tahu apa yang dipikirkan Nalendra saat itu. Tatapannya memang mengisyaratkan tentang kerinduan. Akan tetapi, Niken memilih membuang anggapan tersebut demi menjaga hati dan perasaan Ardi.
Setelah menempuh hampir lebih dari tiga jam, akhirnya mereka sampai di Jakarta juga. Ardi membuka sebagian jendela batinnya, lalu menghirup udara Jakarta yang sungguh ditundukkan dalam beberapa hari terakhir. Sekaligus membuatnya harus berpikir keras untuk mengahadapi masalah yang sudah menantinya di depan mata.
"Kita akan kemana?" tanya supir itu, sembari melihat ke belakang dari kaca spion di atas kepalanya.
__ADS_1
Ardi segera menarik pandangannya, maniknya menoleh ke arah yang seharusnya. Yaitu Niken. Namun, istrinya itu tampak murung. Tatapannya pula begitu kosong.
Ardi memberanikan diri untuk menyentuh tangan Niken, alhasil membuat istrinya itu terkesiap. "Kamu baik-baik aja 'kan?" tanya begitu lembut.
Niken mengedipkan matanya pelan, yang disertai anggukan kecil. "Ya, aku baik-baik saja." Setidaknya kalimat tersebut yang keluar dari mulut Niken.
Ardi tersenyum lembut sambil mengelus kepala istrinya, "Kamu pasti lelah. Maafkan aku ya karena sudah bikin kamu repot."
Niken tak membalas ungkapan tersebut, hanya lengkungan tipis yang terjungkir di bibirnya. Ardi bisa memahami kondisi istrinya tersebut. Tidak mengapa Niken tak menjawabnya. Setidaknya senyuman kecil itu membuat dia merasa lega.
"Pak, antarkan kami ke BSD ya!" seru Niken demikian pada supir.
"BSD? Ngapain kita ke sana?" tanya Ardi penasaran. "Kenapa kita engga ke rumah orang tuamu?"
Niken memposisikan tubuhnya agar sejajar dengan Ardi. Pandangnya pula tegak lurus dengan netra suaminya.
"Dengan keberadaan Melati bersama kita, engga mungkin aku dan kamu tinggal bareng mama dan ayah. Aku engga mau menimbulkan pertanyaan besar yang membuat aku tidak bisa menjawab semua pertanyaan itu. Kamu pahamkan maksud aku?"
"Ya, aku sangat paham. Kamu tenang saja. Di mana pun kita tinggal, aku akan merasa nyaman selama kamu ada bersama diriku," celetuk Ardi belak-belakan.
Kalimat Ardi ternyata mampu membuat Niken tersenyum kecil. Walaupun dia tampak menyembunyikannya, tetapi tidak bisa luput dari tanggapan netra Ardi.
"Antarkan kami ke BSD ya, Pak," pinta Niken kembali.
"Baik, Nyonya." Supir itu membalas. Segera ia berbelok tepat di simpang tiga, mengambil jalur yang mengarah ke BSD.
Niken kembali mengarahkan pandangannya pada Ardi. "Kenapa kamu melihatku seperti itu? Apa ada yang aneh dariku?" ketusnya. Bukannya garang, sebaliknya membuat Niken terlihat lucu di mata Ardi.
"Siapa juga yang lagi lihat-lihat kamu? percaya diri kamu terlalu tinggi. Aku engga lihatin kamu, cuma lihat ke jalan aja kok," elaknya sembari mengambil posisi duduk seperti semula yaitu menghadap ke jendela.
Niken mengumpat dalam hatinya. Tangannya mengepal merasa gemas ingin mencubit ginjal suaminya. Akan tetapi niatnya tidak terlaksana, dia segera mengendalikan emosinya. Menunjukkan deretan giginya yang putih, dan berakhir dengan melihat jalanan.
Ardi tekekeh melihat tingkah istrinya yang begitu menggemaskan sampai mampu menggelitik hatinya. Rona pipi Niken yang memerah, menimbulkan rasa ingin menggodanya lagi.
__ADS_1