Suami Kontrak Yang Kucinta

Suami Kontrak Yang Kucinta
43 Malam Yang Gagal


__ADS_3

Ardi pun tak langsung memakai baju setelah mandi, segera dia berjalan menuju Niken yang tengah menatap cermin. Dari yang tertangkap oleh netranya, Ardi menebak ada sesuatu yang mengganggu pikiran istrinya itu.


Tanpa menunggu lama lagi, Ardi mendekati Niken. Semula tidak terbesit di benaknya ingin melakukan hubungan suami-istri. Namun, entah kenapa hasratnya itu timbul begitu saja.


Ardi sudah bersusah payah menahan syahwatnya agar tidak terjadi hal diluar kendalinya. Akan tetapi, sekeras apa pun dirinya berusaha nyatanya nafsu itu terus menggoda imannya. Terlebih lagi dorongan Setan lebih besar.


Ardi melayangkan ciuman penuh nafsu pada istrinya. Semula Niken pun ingin menolak, tetapi tugasnya sebagai istri tidak dapat dia kesampingkan.


Benar yang Ardi katakan, 'Semula pernikahan ini hanya berlandaskan perjanjian di atas kertas, tetapi setelah ikrar pernikahan diucapkan, maka perjanjian tersebut luntur' jadi, mau tidak mau. Siap tidak siap, dirinya harus siap untuk memberikan hak pada Ardi untuk bisa memiliki dirinya seutuhnya.


Ardi merebahkan tubuh Niken di ranjang. Jemarinya mulai membuka satu persatu kancing baju Niken.


Hal yang pertama Niken rasakan adalah, aliran darahnya bergejolak sekarang. Napasnya begitu menggebu-gebu sampai sulit untuk dikendalikan. Pikirannya pula mulai berfantasi, membayangkan hal yang akan terjadi setelah ini.


Ardi pun telah melakukan tugasnya setengah perjalanan. Tubuhnya atas Niken sudah terbuka semuanya. Ardi sempat menelan ludah berat-berat, tetapi segera dia mengendalikan pikirannya.


Lekuk tubuh Niken dengan kulit putih susunya membuat Ardi semakin bernafsu. Berusaha dia kendalikan syahwatnya agar tidak seperti hewan buas yang senang saat melihat mangsanya.


Ardi mulai mengecup pipi Niken, lalu bergerak pada tekuk jenjang istrinya. Napas Niken kian tidak karuan saat sentuhan demi sentuhan Ardi mengenai kulitnya.


"Aaaagh ..." Niken tidak dapat menahan desahannya karena ini adalah pengalaman pertama dalam kehidupannya, sehingga dia tidak tahu harus melakukan apa.


Dia melingkarkan tangannya pada pundak Ardi yang sudah tak memakai baju itu. Ardi begitu bersemangat saat Niken merespon setiap tindakannya.


Niken tidak dapat menahan desahannya. Ardi pun membiarkan Niken mengeluarkannya karena hal tersebut semakin membuat Ardi ingin memberikan nikmat dunia pada istrinya.


Mata Niken terpejam, pikirannya semakin sulit untuk dikendalikan. Serangan demi serangan Ardi tak dapat dilawannya. Ardi pun meninggalkan jejak cintanya di leher Niken, sebagai tanda bahwa wanita tiga puluh tahun itu sudah sah menjadi miliknya.


Tanpa dipungkiri, baik Niken maupun Ardi sama-sama belum pernah melakukan hal tersebut, sehingga keduanya sama-sama belajar untuk mencapai puncak kenikmatan dunia bersama-sama.

__ADS_1


Ardi kian bergerak ke bahwa. Niken tak dapat mengendalikan pikirannya. Tubuhnya bergetar hebat yang disertai keringat bercucuran deras. Entah itu keringatnya atau milik Ardi. Pokoknya dua anak manusia yang sedang mencari nikmat dunia tersebut sudah bermandikan keringat.


Setelah puas bermain di tengah, Ardi pun menduduki tubuh Niken. Netranya menatap manik hazel milik sang istri. Senyuman tersungging indah di wajah tampannya.


Niken tak bisa mengungkapkan apa-apa. Setiap huruf sepertinya hilang dari pikirannya, sehingga dia sulit menyusun kalimat yang sesuai dengan perasannya sekarang.


Setelah memberi kesempatan Niken untuk bernapas, Ardi kembali menyerang istrinya dengan ciuman penuh kenikmatan. Kali ini Niken membiarkan suaminya itu menjelajah rongga mulutnya. Lidahnya dan milik Ardi pun saling bergelut di dalam sana.


Setelah puas bermain di atas, Ardi tidak bisa menunggu lama lagi. Segera di bergerak ke bawah untuk melepas celana yang masih melekat pada tubuh Niken.


"Ardi, aaaagh," desahnya yang sudah tidak bisa mengendalikan diri lagi.


Niken sudah hampir mencapai puncaknya. Dia merasa suatu keluar dari sistem reproduksinya. Ardi mengangguk, segera dia melepas penghalang tersebut. Setelah semuanya terbuka, dalam hatinya dia berdecak kagum sekaligus mengucap syukur karena diberi kesempatan untuk bisa merasakan nikmatnya dunia bersama wanita yang telah menjadi kekasih halalnya itu.


Ardi melepas handuk yang membalut tubuh bagian bawahnya. Niken meliriknya sekilas. Namun, segera membuang pandangannya karena tidak sanggup untuk menatapnya lama-lama. Begitu juga dengan Ardi.


Niken mengangguk dengan mata yang merem melek. Ardi tersenyum kecil melihat tingkah istrinya yang begitu malu-malu. Demi menciptakan suasana yang tidak tegang, Ardi menyerang Niken dengan kecupan manis di lehernya lagi. Tubuh Niken menggeliat seperti cacing kepanasan dan anehnya Ardi begitu menyukainya.


"Kamu siap, Sayang?" bisiknya menggoda. Niken memejamkan matanya, lalu mengangguk penuh keyakinan sembari mengucap bismillah dan berdoa pada Allah agar diberikan keturunan yang Sholeh dan Sholehah nantinya.


Dia melakukan itu karena sering mendengar ceramah agama di tv, yang mengharuskan suami istri membaca bismillah dan berdoa saat hendak melakukan penyatuan.


Ardi segera mengambil posisi yang pas untuk penyatuan cintanya. Tubuhnya sudah mengangkat dan siap untuk masuk.


Thek ...


"Ardi!"


Belum sempat masuk, baru menerobos tepinya saja, mendadak pintu digedor-gedor yang disertai teriakan keras dari seseorang.

__ADS_1


Ardi segera menarik dirinya, melepaskan semua gairah yang telah ditampungnya tersebut. Niken menatap suaminya lekat-lekat.


Entah mengapa bulir bening menghias di pelupuk matanya, "Ardi!' Niken mengambil posisi duduk. Tak peduli dengan tubuhnya yang tak berpakaian. Ada perasaan aneh mengisi rongga dadanya, yang seolah menginginkan hal tersulit untuk diselesaikan.


"Maafkan aku, Niken." Hanya kalimat tersebut yang mampu Ardi ucapkan.


Niken tak mengharapkan kalimat tersebut, yang dirinya mau adalah suaminya. Dia ingin Ardi menyelesaikan semua yang telah dimulainya. Namun, entah kenapa kata-kata itu sulit terucap dari mulutnya.


Ardi pun segera memakai bajunya, setelah rapi langkahnya dia bawa menuju pintu. Walaupun berat, tetapi Ardi harus tetap membukakan pintunya.


Hal yang Ardi lihat pertama kali adalah Melati, wanita berstatus mantan kekasih dan tunangannya itu.


"Ardi. Aku sangat takut!" Melati melompat ke pelukan Ardi. Mendekapnya sembari berderai air mata dan bermandikan keringat.


"Ada apa Melati?" Ardi pun kurang bersemangat. Pikirannya masih terbayang-bayang adegan yang dia ciptakan bersama Niken tadi.


Melati merenggangkan pelukannya, "Ardi, aku sangat takut. Aku tidak ingin tidur sendirian. Temani aku, Ardi!" pintanya lirih, yang disertai dengan wajah memelas dan berderai air mata.


Ardi sudah siap dengan kata-katanya, "Ardi, suamiku. Dia tidak bisa tidur satu kamar dengan wanita yang bukan istrinya!" seru Niken di waktu yang pas.


Segera dia keluar kamar, lalu berdiri di depan Ardi seakan-akan menjadi tameng bagi suaminya tersebut. Ardi pun tersenyum tipis, sambil mengelah napas lega.


Wajah Melati berubah kesal saat itu juga. Dia tidak bisa menyembunyikan rasa kesalnya dari netra Niken.


"Kamu bisa Maid untuk menemanimu. Apa harus aku yang memanggilnya?" tawar Niken dengan bibir tersungging.


Skakmat, Melati pun tidak dapat berkutik. "Bi Luna!" teriak Niken. Terpancar senyuman penuh sinis pada Melati. Lirikannya pula begitu tajam sehingga, Melati tak dapat membalasnya yang bisa dirinya lakukan hanya mengumpat dalam hati.


"Ya, Nyonya. Ada apa?" Bi Luna pun datang beberapa menit kemudian dengan tergesa-gesa.

__ADS_1


__ADS_2