
Kondisi jalanan yang mulai macet, terlebih lagi ini sudah pukul 17:00, sehingga jalanan agak sedikit tersendat.
Niken tampak tertidur pulas dengan kepala yang bersandar pada jendela. Kepalanya sesekali terbentuk karena supir sering kali mengerem, sehingga membuat Niken terbangun dan kaget.
Ardi yang melihatnya pun menjadi tidak tega. Posisi duduknya digeser agar lebih dekat dengan Niken. Tangannya meraih badan Niken, memaksa istrinya tersebut untuk bersandar di bahunya.
Terdengar suara Niken yang mengigau, membuat Ardi tersenyum tipis sambil mengelus kepala istrinya. Tidak lupa Ardi menyeka rambut ke belakang telinga, agar wajah Niken lebih terlihat lagi.
Niken begitu pulas sampai-sampai tidak tahu kalau dia sedang berada dalam dekapan hangat Ardi. Sementara itu, Melati pun mulai merasa ngantuk akibat menempuh perjalanan jauh, ditambah kondisi jalanan sekarang agak macet.
Melati terkantuk-kantuk, "Aduh!" Dia menjerit karena kepalanya terantuk jendela. Melati mengusap-usap keningnya yang agak sakit akibat terbentur tadi.
Melati pun menengok ke belakang. Matanya melebar saat melihat Ardi dan Niken tertidur pulas. Posisi keduanya begitu dekat, sehingga menimbulkan kecemburuan.
Melati memposisikan duduknya ke semula. Tangannya melipat di dada dan wajah ayunya tertutup rasa sebal yang mengungkung tinggi di rongga dadanya.
"Awas kamu Niken! Aku engga akan diam aja. Ardi boleh aja perhatian ke kamu sekarang, tetapi tidak nanti. Lihat aja tanggal mainnya!" Melati pun ngedumel di hatinya.
Kecemburuannya begitu besar terhadap Niken yang berhasil mendapatkan perhatian Ardi. Belum pernah dia melihat Ardi begitu sweet seperti sekarang ini.
Setahu yang dirinya ingat. Selama menjalin pacaran tiga tahun, belum sekali pun Ardi memperlakukan dirinya layaknya seorang Ratu. Tidak seperti yang ditunjukkan pada Niken.
Ardi begitu berbeda dari yang dulu. Apa karena Niken sudah sah menjadi istrinya, sehingga Ardi memperlakukan Niken begitu spesial? Pikir Melati demikian.
"Maaf Pak. Kalau boleh tahu kapan ya kita sampai?" tanya Melati pada supir.
"Seharusnya kita sudah sampai, tetapi karena macet. Ada kemungkinan kita akan sampai sekitar tiga puluh menit sampai satu jam lagi," balas supir itu datar.
"Oh, jadi masih lama ya kalau begitu?" Melati pun membuka mulutnya sehingga tercipta huruf O besar.
Supir itu mengangguk saja. Tidak ada balas lanjutan darinya, sehingga Melati hanya bisa mengangguk pelan saja.
Demi menghilangkan rasa bosannya, Melati mulai mengajak bicara pria yang duduk di sampingnya. Walaupun yang diharapkan bukan Ardi, tetapi setidaknya ia bisa bicara bahasa manusia.
Namun, yang terjadi tidak sesuai ekspektasinya. Pria tersebut sama sekali tidak tertarik padanya. Bahkan untuk menjawab pertanyaannya saja ia seperti ogah-ogahan.
__ADS_1
Melati pun kian merasa bosan, terlebih lagi perjalanan masih memakan waktu tiga puluh menit sampai satu jam lagi.
Perasannya semakin sebal saat melihat Ardi tidak kunjung bangun. Andai saja ada sesuatu yang dapat mengganggu keduanya, mungkin Melati sudah melayangkan aksinya.
****
Satu jam berikutnya. Setelah menunaikan sholat Maghrib. Mereka segera melanjutkan perjalanan kembali. Lokasi rumah Niken sudah tidak jauh. Kira-kira satu kilometer lagi dari posisi mereka sekarang.
Niken terlihat lebih segar dari sebelumnya dan begitu juga dengan Ardi. Namun, tidak dengan Melati yang tampak begitu pucat walaupun sudah mencuci muka.
Lima belas menit berikutnya. "Di depan sana berhenti ya, Pak!" pinta Niken sambil mengarahkan jalan pada supir.
Supir pun segera menepikan mobilnya di sisi kanan, lalu berhenti tepat di rumah mewah berlantai tiga.
"Di sini Nyonya?" tanya ia setelah mobil berhenti.
"Ya, di sini, Pak." Niken segera menyelempangkan tasnya di bahu. "Ayo, turun! Kita udah sampai," ajak sembari menggenggam pergelangan tangan suaminya.
Ardi terlihat mengolok kala menyaksikan kemewahan rumah yang digadang-gadang milik Niken tersebut, "Apa ini rumah milikmu?" tanyanya dengan menelan ludahnya berat-berat.
"Bukan ... Bukan itu maksudku. Ah, sulit menjelaskannya," serka Ardi kehabisan kata-kata.
Niken mengerutkan keningnya, "Yasudah kalau begitu, ayo kita turun! Lihat supir sudah mengeluarkan barang-barang kita dan sepertinya Melati juga harus perlu istirahat," timpalnya sambil melirik Melati yang sudah keluar dari mobil lebih dalu.
Dengan demikian Ardi pun setuju, segera dia keluar dari mobil bersama Niken. Netranya menatap takjub rumah mewah di depannya. Ardi sulit menggambarkan perasaannya sekarang. Tidak cukup diutarakan dengan kalimat saja karena rumah milik Niken begitu sempurna, untuk ukuran wanita pekerja.
Niken pun telah selesai membayar biaya taksi online yang disewanya. Tidak Niken beberkan harganya karena tidak ingin membebani Ardi, apa lagi Melati.
"Ayo masuk!" pinta Niken, sembari membawa barang belanjaan yang dibutuhkan Ardi dan Melati.
Dikarenakan rumahnya tidak pernah ditempati, sehingga Niken berinisiatif lebih dulu untuk membelikan beberapa pasang baju untuk Ardi dan Melati. Sebab rencana ini terbilang mendadak, sehingga tidak ada persiapan apa-apa sebelumnya.
"Sini aku yang bawakan." Ardi selaku suami sekaligus pria satu-satunya, tidak sepatutnya dia berdiam diri dan membiarkan Niken membawa semua barang belanjaan seorang diri saja.
Niken memberikan beberapa kantong belanjaannya pada Ardi, sehingga beban yang dibawanya agak berkurang.
__ADS_1
Melati yang berjalan di belakang pun tampak cemberut, melihat pasangan yang beda usia tersebut.
Dalam khayalannya, Melati membayangkan kalau Niken adalah dirinya. Betapa bahagianya dia saat Ardi begitu perhatian padanya. Mau membawakan barang belanjaan, serta memperlakukan dirinya layaknya seorang Ratu.
Tinggal di rumah mewah. Lalu, memiliki dua orang anak yang cantik dan ganteng. Kehidupannya sungguh sempurna, kala membangun keluarga kecil yang harmonis dan romantis.
Namun, semua itu hanya bayangannya saja. Angan-angan yang entah kapan bisa terwujud.
"Melati, ayo!" Ardi pun memanggil. Melati mengangguk cepat dan segera mempercepat langkahnya. Senyuman tersungging di bibir tebalnya. Itu pun Melati lakukan agar Ardi senang.
Niken segera membawa Ardi dan Melati masuk ke rumahnya. Namun, belum sempat Ardi mendorong pintu untuk membukanya, pintu tersebut sudah lebih dulu terbuka.
"Selamat datang Nona Niken," sapa para maid yang ternyata sudah berbaris di belakang pintu.
Salah satu maid, yang selama satu tahun bekerja di sana segera mendekat pada Niken, "Selamat datang Nona, Tua," sapanya pada Niken dan Ardi.
Tutur sapanya begitu lembut, gerak tubuhnya pun sangat gemulai. Niken tersenyum bahagia atas sambutan yang pada maid berikan.
"Terima kasih atas sambutan kalian." Niken menyapa satu persatu maid di sana, walaupun tidak menyebut nama mereka secara personal.
Ardi tersenyum canggung. Dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan disertai pula gestur tubuh kaku. Niat hati ingin menyapa, tetapi tidak tahu harus berbuat apa.
Niken segera menyerahkan barang bawaannya kepada para maid. Selanjutnya, Niken melenggang memasuki ruangan. Ardi sangat canggung sehingga kakinya sulit untuk digerakkan.
"Ayo! Jangan takut, aku engga galak kok. Engga usah khawatir kayak gitulah. Anggap aja rumah sendiri. Kalau engga, anggap aja kayak di rumah mama dan ayah," celoteh Niken mengarahkan Ardi untuk bisa tenang.
Sesungguhnya Ardi tidak henti-hentinya berdecak kagum dengan kemewahan rumah milik Niken. Interior serta desain rumahnya sebening sama persis, seperti rumah yang Ardi impikan.
Jadi dalam artian, Ardi merasa mimpinya untuk memiliki rumah mewah dan megah seolah terwujud hari ini.
"Apa kau suka dengan rumahnya?" tanya Niken, sambil mengajak Ardi untuk duduk di ruang tamu.
"Aku sangat suka. Malah sangat, sangat, sangat suka sekali. Sungguh, aku sampai kehabisan kata-kata untuk mengungkapkan perasaanku ini. Aku seolah mendapatkan rumah yang selama ini aku impi-impikan."
Ardi tidak ragu untuk mengungkapkannya. Alhasil membuat Niken merasa bahagia karena sesungguhnya reaksi inilah yang diharapkan Niken.
__ADS_1