Suami Kontrak Yang Kucinta

Suami Kontrak Yang Kucinta
35 Akhirnya Tahu Juga


__ADS_3

"Angkat telponku, Niken," gumamnya penuh harap, sembari mondar-mandir menunggu balasan dari sang istri.


"Nomor yang Anda tuju tidak menjawab. Mohon untuk menghubungi beberapa saat lagi."


Ardi pun melihat ponselnya, ternyata Niken tidak menjawab sambungan teleponnya. Pikirannya dibawa melalang buana kembali, setelah situasi darurat akan Melati telah selesai kini permasalahan terjadi pada Niken, yang tidak mau mengangkat panggilannya.


"Ayo Niken, angkat telponku." Ardi mencoba untuk menghubunginya Kembali. Langkahnya diseret ke sana kemari dengan panggilan yang masih menunggu jawaban.


Sementara itu, suasana yang ada di Surabaya. Niken sudah berkumpul kembali dengan yang lainnya. Guratan cemas tergambar jelas dari wajah ayunya. Niken tidak dapat menyembunyikan rasa khawatirnya akan keadaan Ardi yang sekarang berada di Bandung.


Pikirannya terus memikirkan situasi yang mungkin saja terjadi di antara suaminya dan Melati. Secara keduanya mantan kekasih. Niken pun tahu kalau Melati adalah wanita yang akan dinikahi Ardi beberapa waktu lalu, sebelum akhirnya menikah dengannya.


"Ada apa, Sayang?" Mita terus memerhatikan sang putri tercinta, yang menurutnya sedang banyak pikiran. Jemarinya mengelus-elus tangan Niken.


"Tidak apa-apa, Ma. Aku hanya sedang memikirkan Ardi saja. Sepertinya dia belum sampai di Inggris, sehingga panggilanku tidak dijawab olehnya," akunya berbohong.


Sebisa mungkin Niken menutupi kecemasannya akan Ardi yang sebenarnya saat ini sedang bersama mantan kekasihnya. Tidak mungkin dia mengatakan kalau Ardi saat ini masih berada di Bandung dan bukan di Inggris, seperti karangan yang telah dibuat sebelumnya.


Mita pun mengelus pucuk rambut Niken, sembari tersenyum lembut dan berkata, "Mama tahu, kecemasanmu saat ini, tapi kamu harus kuat, Sayang. Teruslah berdoa untuk keselamatan suamimu. Mintalah pada Allah, untuk menjaganya karena sesungguhnya, doa seorang istri akan cepat didengar oleh-Nya. Jadi berdoalah untuk Ardi. Aku mengerti maksud mama 'kan?"


Niken mengangguk sambil mengucap 'amin' lalu, mengusap wajahnya dengan kedua tangan. Mengaminkan doa yang diucapkan mamanya.


Fatma pun dari kejauhan terus memerhatikan dua wanita berbeda generasi itu. Tampaknya ada sesuatu yang terjadi pada Niken, sehingga dia terlihat begitu cemas dari sebelumnya. Mita sama khawatirnya dengan sang putri, yang akhirnya membuat Fatma bertanya-tanya.


Dia sudah membuka mulutnya dan siap untuk melontarkan pertanyaan. Namun, belum sempat tersampaikan Niken buru-buru meninggalkan ruangan karena harus menerima panggilan telpon yang entah dari siapa?


"Ada apa, Mba? Kenapa Niken sepertinya begitu terburu-buru dan cemas?" Fatma akhirnya dapat menyampaikan pertanyaan yang sedari tadi mengganggu pikirannya. Dari pertanyaan itu juga Bambang Adi Atmaja baru menyadari kalau Niken sudah tidak berada di sana.


"Ada apa dengan Niken? Apa sesuatu telah terjadi pada Ardi?"


Pertanyaan tidak jauh berbeda dengan yang Fatma keluarkan. Namun, kalimat terakhirnya mendapatkan tatapan tajam dari sang istri.


"Ayah! Jangan sembarangan ngomong deh. Pikirannya suka yang jelek-jelek ni tentang Ardi. Engga boleh gitu, Ayah. Kasihan Niken nanti," gerutu Mita, sesudah memukul paha suaminya. Lalu, menjatuhkan pandangannya pada Niken yang tampak sibuk mengobrol dari sambungan telepon.


Bambang ikut melihat sang putri yang berdiri di ujung pintu, "Lantas aku harus apa? Diriku hanya bertanya, apa yang sedang terjadi? Apakah itu panggilan dari Ardi? Salahkan diriku bertanya demikian?"

__ADS_1


Mita pun melirik sang suami sejenak, sebelum akhirnya menyelengos dan melihat ke arah Niken Kembali. Perasannya sekitar menjadi buruk, pikirannya tidak karuan saat memikirkan kemungkinan yang terjadi pada Ardi, jika dilihat dari ekspresi wajah Niken semakin memburuk.


Niken pun sedikit berteriak, "Apa? Coba ulangi perkataanmu?"


Dia sungguh tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya saat menerima kabar dari sang suami yang sedari tadi dinantinya.


"Maafkan aku, Niken karena kebodohanku masalah ini semakin melebar saja," lirih Ardi yang berada di ujung panggilan telepon itu.


Ardi sesungguhnya tidak tahu harus menjelaskan bagaimana pada Niken? Keadaan Melati sekarang disebabkan oleh keegoisannya. Andai dirinya lebih melunak sebelumnya, maka insiden keguguran Melati tidak akan pernah terjadi.


Niken pun mengusap wajahnya kasar. Dadanya terasa sesak sekarang. Firasat buruk yang sedari pagi dirasakannya, ternyata telah terjadi sekarang.


"Lalu, bagaimana kondisi Melati sekarang?" Niken akhirnya mendapatkan ketenangannya kembali. Akan tetapi, perasaan serta pikirannya masih kosong. Masih sulit menerima situasi saat sekarang.


"Keadaan Melati berangsur-angsur membaik. Dokter menjelaskan, Melati akan segera sadar dalam beberapa jam," bebernya, yang belum bisa menjelaskan banyak hal pada istrinya.


Melihat Melati yang belum sadarkan diri, membuat hatinya belum tenang seutuhnya. Niken belum mengatakan apa-apa lagi. Ardi bisa memahaminya. Istrinya itu masih memerlukan waktu untuk menelaah semuanya.


"Niken ... Bisakah kamu datang ke sini? Aku tidak tahu harus berbuat apa selanjutnya. Sungguh, aku tidak bisa berpikir sekarang," ungkap Ardi lirih. Tatapannya tidak mau lepas dari Melati yang masih memejamkan matanya itu, sekaligus merasa bersalah atas semua perbuatannya.


Ardi masih menunggu jawaban, sedangkan Niken tidak henti-hentinya mengucap istighfar yang dapat didengar Ardi, sebagai bentuk rasa kekecewaan sang istri sekaligus mengendalikan emosinya agar tidak meluap-luap.


"Baiklah. Aku akan segera datang ke sana. Tunggu aku di sana."


Setelah menata hati dan pikiran, akhirnya Niken berhasil mendapatkan ketenangannya kembali. Ucapannya seperti angin segar bagi Ardi.


"Ardi," lirih Melati yang dapat didengar oleh Niken.


Diketahui Melati mulai membuka matanya, Ardi pun mengucap syukur karena akhirnya Melati sadar juga.


Melihat Melati yang telah bangun, buru-buru Ardi mengakhiri sambungan teleponnya tanpa mengucapkan salam pada Niken, segera dia berlari keluar untuk memanggil Dokter.


"Ardi!" Niken pun berteriak, "Ardi! Ardi!" Dia tampak kelas, jelas terpampang dari wajah ayunya yang tertutup make up tipis-tipis itu.


Niken ingin sekali melempar ponselnya karena Ardi yang begitu saja mengakhiri sambungan teleponnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Jangankan kalimat yang panjang, salam pun ia lupa.

__ADS_1


"Astaga ... Apakah Melati sepenting itu, sehingga dia mengabaikan istrinya sendiri?" gerutunya tanpa menyembunyikan sedikit pun rasa kesalnya. "Kalau begitu aku tidak perlu membantunya. Biarkan saja dia yang mengurus masalahnya. Toh, semua ini bukan kesalahanku. Jadi untuk apa aku repot-repot membantu."


Biarpun berkata demikian, Niken tetap merasa kasihan dan iba pada suaminya. Ardi pasti sedang kebingungan sekarang.


"Ah, sudah. Biarkan saja dia. Siapa juga yang memutus sambungan telepon? Kalau begitu tandanya, dia tidak membutuhkan bantuanku," pikirnya, sekaligus menutupi rasa kesal akibat Ardi yang seenaknya mengakhiri sambungan telepon.


Namun, begitu dia tetap memikirkan kondisi Ardi sekarang. Niken mengatur napasnya terlebih dulu. Setelah mendapatkan ketenangannya kembali, dia berbalik badan berniat membawa langkahnya untuk masuk dan menemui keluarganya.


Belum juga melangkah, dia lebih dulu mendapatkan pesan singkat dari Ardi. Pesan tersebut berisi.


"Assalamualaikum, Niken. Maaf karena tidak mengucap salam tadi. Dokter mengatakan kondisi Melati sudah membaik. Hanya saja dia masih terlalu lemas untuk bergerak. Aku hanya ingin mengatakan itu saja. Sekali lagi aku minta maaf karena telah mengabaikanmu. Semoga kamu bisa memakluminya. Aku akan segera menghubungi kamu setelah urusan di sini selesai."


Niken pun membaca pesan tersebut dengan teliti. Tidak ada satu kata pun yang terlewat karena tak mau salah mengartikan nantinya.


Lengkungan tipis terpancar jelas di ujung bibirnya. Rasa kesalnya tidak sebesar sebelumnya. Setidaknya pesan tersebut mampu mengobati kekesalannya.


"Waalaikumsalam. Aku senang mendengarnya. Kamu hati-hati di sana. Jangan lupa untuk makan dan jaga kesehatanmu. Aku akan segera datang ke sana. Jadi tidak usah terlalu cemas."


Niken segera menekan tombol kirim untuk membalas pesan singkat tersebut. Terlihat centang dua, yang tidak lama kemudian langsung dilihat oleh Ardi.


Perasaan Niken semakin senang karena sang suami ternyata masih mengingatnya. Ardi pun membalas dengan mengirim emoji berbentuk hati, sebagai tanda maaf sekaligus untuk menyenangkan hati istrinya.


Niken terciduk sedang senyum-senyum sendiri di depan pintu. Mendapat balasan berupa emoji hati sudah membuatnya bahagia.


Kekesalannya seolah sirna berganti dengan hati yang seolah penuhi bunga-bunga. Setelah semuanya terkendali, Niken mulai memasuki ruangan kembali.


Dia tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya dari semua orang yang ada di sana. Mita bisa menebak kalau Niken baru saja mendapatkan kabar bahagia, terpancar jelas dari wajahnya yang berseri-seri.


"Bu, Ayah. Aku ..."


Niken ingin mengatakan sesuatu, tetapi mendadak terjeda, saat terdengar suara ketukan pintu beriringan dengan suara salam.


"Assalamualaikum."


Niken langsung berbalik badan karena merasa tidak asing dengan suara itu.

__ADS_1


__ADS_2