
Fatma pun meninggalkan ruangan tamu menuju dapur untuk meminta pelayannya menghidangkan minuman dan makanan ringan. Sementara itu, Tea tampak berkeringat saat Mita, Bambang dan Niken menatapnya bersama-sama.
Tea bahkan sulit menelan ludahnya sendiri akibat terlalu takut. Tatapan mengintimidasi mereka yang telah membuat Tea kehabisan kata-kata. Belum juga pertanyaan dilontarkan, Tea sudah lebih dulu merasa gugup karena takut tidak bisa menjawab semua pertanyaan.
Fatma pun akhirnya datang dengan nampan berisi jus. Lalu, dua pelayannya ikut mengekor dengan nampan berisikan makanan ringan.
"Ayo! Diminum dulu. Kalian pasti haus karena menempuh perjalanan jauh." Fatma pun menghidangkan jus di depan masing-masing orang. "Ayo, makanannya juga dicicipin. Ini hasil kebun sendiri." Dia pun terkekeh, sembari duduk di dekat Tea.
Makanan yang dihidangkan berupa kripik singkong, bolu kukus dan jajanan lainnya. Fatma menjelaskan, kalau bahan-bahan untuk membuat jajanan tersebut diambil langsung dari kebun pribadi yang ada di belakang rumah, serta kebun milik keluarga yang letaknya tidak jauh dari sana.
Melihat ada kripik singkong, Niken pun jadi tertarik. Tangannya mencomot beberapa biji kripik singkong tersebut. "Hem ... Wah, Tante ini rasanya sungguh enak dan juga garing. Benar-benar enak deh," ungkapnya dengan mulut yang terisi kripik singkong.
Saking lezatnya Niken sampai menjilati jari-jarinya karena garam dari kripik singkongnya menempel di jarinya.
Melihat Niken begitu lahap memakan kripik singkong, membuat Mita dan Bambang jadi tergoda. Mereka sempat malu-malu, tetapi desakan Fatma membuat keduanya mulai mengambil kripik singkong dan mencicipi makanan lainnya.
"Bagaimana, Mba? Apa rasanya lezat?" tanya Fatma penasaran. Dari yang tertangkap oleh netranya, kayaknya Mita dan keluarga begitu menikmati hidangan yang disajikan.
Mita pun mengangguk, matanya merem melek saat sepotong bolu kukus masuk ke mulutnya. Lidahnya dibuat terus bergoyang. Perpaduan rasa ubi ungu dengan bahan-bahan lainnya begitu pas dan teksturnya yang empuk membuat setiap gigitannya membuat siapa pun yang memakannya tidak ingin berhenti.
"Ini rasanya sungguh lezat. Mba tidak tahu kalau kamu jago membuat kue. Sejak kapan kamu pandai memasak, bukannya dari dulu kamu tuh malas memasak? Jangankan memasak, masuk dapur pun kamu tidak mau," sindir Mita, dengan mulut yang terisi bolu.
Mendengar penuturan tersebut, membuat Niken membulatkan matanya. Tidak tahu sebelumnya, kalau Tantenya itu tidak pandai memasak. Fatma pun terkekeh, "Benar yang Mba katakan. Jangankan memasak, bahkan masuk dapur pun aku jarang. Hehehe, tapi sekarang aku mulai belajar memasak. Ya, seperti yang Mba dan lainnnya lihat. Semua ini adalah masakan yang aku buat sendiri. Ya, walaupun sedikit dibantu pelayan juga. Aku pastikan, semuanya murni dari hasil pemikiran aku sendiri."
Fatma pun menjatuhkan pandangannya pada sang putri tercinta, yang sejak tadi tampak gusar. Dia menggenggam tangan Tea, mengelus-elusnya pelan. Matanya berkedip satu kali, sebagai isyarat pada putrinya untuk tetap tenang.
Tea pun mengangguk perlahan. Tidak ada kalimat yang bisa diutarakannya sekarang, selain ucapan syukur pada Sang Maha Cipta karena masih memberinya kesempatan hidup untuk terus berbakti pada wanita yang telah melahirkannya itu.
"Ada pertanyaan buat kalian." Bambang pun membuka pembicaraan.
"Apa itu, Yah?"
__ADS_1
"Pertanyaan apa, Mas?" Fatma dan Niken menjadi antusias, begitu juga dengan Tea. Namun, tidak dengan Mita yang cemberut dan perasannya mulai tidak enak.
Bambang pun mengacung-acungkan kripik singkong di tangan kanannya. "Kripik apa yang suka berpetualang dan hobinya menjelajah hutan? Ayo, kripik apa itu?" lanjutnya demikian, sembari melahap kripik singkong yang ada di tangannya itu.
"Ayo! Siapa yang bisa jawab?" Bambang pun mengetuk-ngetuk pahanya dengan jari telunjuk, menunggu jawaban dari Fatma, Niken dan Tea. Bambang sengaja tidak melirik Mita karena tahu tabeat sifat sang istri, yang sangat tidak suka diajak bercanda.
Fatma, Tea dan Niken pun dibuat berpikir keras untuk mencari jawaban untuk pertanyaan tersebut. "Kripik yang suka berpetualang dan hobi menjelajah hutan? Kira-kira apa ya?" Niken pun mengulang pertanyaan tersebut. Matanya memutar ke atas, mencoba memecahkan teka-teki tersebut.
Fatama dan Tea pun melakukan hal serupa. Sementara itu, Bambang tampak senang saat melihat ekspresi-ekspresi kebingungan adik ipar, keponakan serta putrinya.
Maka berbeda dengan Mita yang memasang wajah kurang mengenakkan, membuat Bambang Adi Atmaja malas untuk melihatnya.
"Bagaimana, apa ada yang tahu jawabannya?" tanya Bambang terkekeh geli, menutup mulutnya dengan sebelah tangan. Menahan tawa karena belum ada satu pun yang bisa menjawab teka-tekinya.
"Sudah ah, aku menyerah!" seru Niken sambil mengangkat tangannya.
"Aku juga." Tea pun ikut mengangkat tangannya dan menyerah. "Cepat, Uwa kasih tahu apa jawabnya," ungkapnya tidak sabaran.
Fatma melirik putri serta keponakannya yang sudah lebih dulu menyerah. "Ya, aku juga menyerah. Kalau begitu, apa dong jawabannya?"
Bambang tersenyum penuh kemenangan karena pertanyaannya membuat para wanita angkat tangan dan menyerah.
"Singkong apa yang suka berpetualang dan hobi menjelajah hutan, jawabannya ... Ialah ..."
Mendadak suasana menjadi tegang. Bambang pun menciptakan suara seperti dram yang dipukul, membuat ketegangan tersebut kian terasa. Semuanya telah menanti jawabannya.
"Jawabannya ialah, KRIPIK SI GUNDUL ... Hahaha."
Bambang tertawa paling keras diantara yang lain. Lalu, disusul Niken yang ikut tertawa walaupun dia merasa jawabannya sungguh tidak nyambung.
Selanjutnya Fatma yang juga tertawa. Dia sempat menelaah sejenak jawaban tersebut, tapi pada akhirnya dia tertawa juga. Malah tertawa paling keras.
__ADS_1
Sedangkan Tea, dia cukup bahagia dengan lelucon tersebut. Entah mengapa pikirannya seperti berada di tempat lain.
Suasana ruangan menjadi ramai saat Bambang mengeluarkan candaan garingnya, yang tentu memantik gelak tawa di sana. Biarpun usianya sudah tidak lagi muda, tetapi Bambang masih sangat suka bercanda gurau. Dia kerap kali mengeluarkan lelucon yang kalau Mifa katakan adalah, lelucon garing.
Bagi Mita, lawakan Bambang sungguh tidak lucu, tetapi menurut yang lain begitu mengundang tawa. Mita bahkan sampai aneh sendiri dan bertanya-tanya, di mana letak lucunya?
Di tengah-tengah kebahagiaan keluarga, Niken pun mengecek ponselnya. Belum ada panggilan ataupun kabar dari Ardi.
"Maaf, Niken mau telpon Ardi dulu. Mau tanya kabar dia." Dia pun beringsut dari tempat duduknya. "Niken ke belakang dulu, Ya." Tanpa menunggu persetujuan Bambang atupun Mita, dia langsung pergi begitu saja.
Mita segera memahami kegelisahan sang putri. Melihat Niken gelisah, membuat Fatma tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya.
"Ada apa? Siapa Ardi? Apakah dia suaminya Niken?"
Pertanyaan tersebut mendapat anggukan kepala dari Mita. "Ya, Ardi adalah suaminya Niken. Sebenarnya dia juga ingin datang ke sini, tetapi pagi ini Ardi mendapat kabar dari ayahnya yang ada di Inggris, mengatakan kalau ibunya sedang sakit. Akhirnya, Ardi langsung melakukan penerbangan ke Inggris pagi ini juga."
Mulut Fatma pun membulat, "Oh ... Semoga ibunya baik-baik saja ya, Mba."
"Amin ... Mohon doanya ya. Semoga besan aku tuh diberikan kesehatan dan bisa segera datang ke Indonesia karena saat pernikahan mereka tidak bisa hadir," tutur Mita mengaminkan, sekaligus menjelaskan kalau dia dan Bambang belum pernah bertemu dengan orang tua Ardi.
"Kalau begitu aku jadi penasaran dengan menantimu itu, Mba. Semoga aku bisa cepat-cepat bertemu dia," ungkap Fatma melihat ke luar, tepat di mana Niken sedang berdiri dengan ponselnya yang sudah berada di telinganya.
Fatma menebak, saat ini Niken sedang menunggu suaminya itu menjawab panggilan teleponnya.
Memang benar. Niken sedang menunggu Ardi mengangkat teleponnya. Dia sangat cemas karena Ardi tidak kunjung menjawab.
"Kemana dia, kenapa panggilanku tidak diangkatnya?"
Niken terus bertanya-tanya akan keberadaan serta kabar dari sang suami. Entah apa yang sedang Ardi lakukan di sana? Apa yang diperbuat Melati sehingga Ardi begitu sibuk, bahkan sampai sulit untuk dihubungi?
"Angkat teleponku, Ardi!"
__ADS_1