
"Ada apa dengan Mba Niken?" tanya Tea yang telah hadir di tengah-tengah orang dewasa. Tatapannya ikut mengarah ke arah Niken lewat tadi.
"Dia diminta menyusul suaminya di Inggris, Sayang," beber Mita seraya membelai rambut panjang keponakannya.
Tea pun mengangguk. Namun, tidak ada kalimat yang keluar dari bibir ranumnya. Pikirannya sekarang bukan berfokus pada Niken, tetapi Nalendra yang ternyata sudah pergi begitu saja dan meninggalkan dompetnya yang sedang dipegangnya.
***
Di tempat terpisah, jauh dari hiruk-pikuk kota Surabaya. Ardi tengah dihadapkan dengan masalah sekarang. Tatapannya dan Melati saling bertemu karena hanya ada mereka saja di ruangan tersebut.
Dokter yang menangani Melati sebelumnya sudah kembali ke pekerjaannya. Suasana yang tercipta pun begitu canggung.
Ardi menggenggam ponselnya, sementara Melati menggosok-gosokkan tangannya merasa gugup, sekaligus kikuk. Bingung ingin mengatakan apa dan Ardi pun tidak kunjung mengajaknya berbicara.
"Bagaimana keadaanmu?" Keduanya sama-sama berbicara dalam kurun waktu yang hampir bersamaan. Sempat saling diam-diamman, tidak berselang lama keduanya sama-sama tertawa lepas.
"Bagaimana keadaanmu, apa masih sakit?" tanya Ardi untuk membuka pembicaraan mereka.
Melati mengerjapkan matanya yang disertai anggukan kepala pelan, "Alhamdulillah, rasa sakitnya sudah tidak seperti sebelumnya. Terima kasih Ardi. Kalau bukan karena kamu, entah apa yang terjadi pada ..."
Belum sempat Melati mengakhiri kalimatnya, Ardi sudah lebih dulu membungkam mulut Melati dengan sebelah tangannya.
"Hus, jangan ngomong kayak gitu. Engga baik ngomongin kematian," serganya beserta tatapan serius, yang tentu membuat Melati terkesiap. Bola mata Melati membulat sempurna, tatkala mulutnya bersentuhan dengan tangan Ardi.
Beberapa detik kemudian Ardi segera menarik diri, melepaskan tangannya dari bibir Melati. Dia mendehem pelan untuk menghilangkan rasa canggung sekaligus gugup, yang mengisi rongga dadanya.
Keduanya saling diam-diamman lagi, sampai akhirnya Ardi mengelah napas panjang. "Melati," sebutnya lirih. Melati pun meliriknya sejenak dan bergumam.
"Melati ... Maaf karena sudah membuatmu harus kehilangan anakmu. Aku tahu, saat ini masih awal-awal kehamilanmu dan masih sangat rentan. Namun, tetap saja aku merasa bersalah," akunya lirih tanpa sedikitpun memandang Melati. Ardi terlalu malu untuk mengangkat kepalanya.
__ADS_1
"Andai saat itu aku tidak mendorongmu dan aku tidak acuh terhadapmu, mungkin saja anakmu masih bisa terselamatkan. Sekali lagi aku mohon maaf, Melati."
Ardi duduk tersungkur di samping ranjang. "Eh, apa yang kamu lakukan, Ardi?" Melati begitu terkejut sampai ingin melompat dari tempat tidurnya.
"Berdirilah!" pintanya. Melati memang meninggalkan ranjangnya, tetapi bukan dengan cara melompat, melainkan turun secara perlahan-lahan dari sana.
"Bangunlah!" pintanya sekali lagi, sembari mengangkat tubuh besar Ardi agar tidak duduk di lantai.
Sekeras apa pun Melati mencoba, tenaganya tidak mampu membuat Ardi beranjak dari sana. Dia berdengus kesal ternyata Ardi begitu berat dan keras kepala.
"Aku tidak akan bangun, sebelum kamu mau memaafkan kesalahanku." Ardi mendongak. Pandangannya dan Melati berada dalam garis lurus dengan posisi tubuhnya yang hanya berjarak beberapa jengkal saja.
Cukup lama keduanya saling memandang, satu menit kemudian barulah sepasang insan yang pernah berniat menikah itu melepaskan pandangan masing-masing.
"Bangunlah. Aku sudah memaafkanmu. Lagi pula tidak ada yang perlu disalahkan dan disesalkan. Rentetan kejadian yang menimpaku, tentunya sudah diatur sedemikian rupa oleh Allah." Melati pun berdiri membelakangi Ardi.
Ardi pun terhuyung mendengarnya. Beban penyesalannya seolah terangkat kala mendengar kata-kata dari sang mantan kekasihnya itu. Biarpun Melati telah melukai hati serta harga dirinya. Akan tetapi, hatinya begitu baik dan juga berlapang dada. Mau menerima suratan takdir dengan ikhlas.
Ardi beringsut, terlihat dia menyekat air matanya yang sempat ingin keluar, tapi mampu dirinya tahan. Sebagai pria sehat tidak seharusnya dia menangis, apa lagi di depan wanita. Sekalipunnya harus menangis, tidak semestinya ditunjukkan di muka umum.
"Terima kasih Melati karena kamu mau memaafkan kesalahanku yang sangat besar itu. Jujur, aku sungguh tersentuh dengan kalimatmu tadi. Sepertinya kamu mulai bersikap dewasa sekarang," ungkapnya yang dilandasi pujian untuk sang mantan kekasih. Biarpun begitu, tidak ada embel-embel perasaan lebih, selain teman.
Niken mengangkat bibirnya, membuat lengkungan sempurna dan memancarkan pesona kecantikan yang begitu alami.
Melihat senyuman tersebut, membuat Ardi langsung teringat akan sang istri yang kini berada di Surabaya. Ardi berpikir, entah jadi atau tidak Niken ke Bandung untuk menemuinya dan Melati?
Ardi mengeluarkan ponselnya dari saku celana. Saat menyalakan layar ponselnya, didapati pesan singkat dari Niken. Buru-buru Ardi membuka pesan yang dikirim dari via aplikasi pesan online.
"Aku sudah berada di bandara. Kurang lebih dua jam aku akan sampai di Bandung. Jaga dirimu baik-baik di sana. Jangan lupa makan," tulis Niken dan diakhiri dengan emoji berbentuk hati yang dapat bergerak.
__ADS_1
Ardi pun senyum-senyum sendiri dibuatnya. Biarpun hanya sebatas emoji, tetapi dia merasa bahagia.
"Ya, aku akan makan dan menjaga kesehatanku. Kamu juga jangan lupa makan dan hati-hati di jalan," tulis Ardi. Tidak lama kemudian menekan fitur kirim.
Tak lupa Ardi juga mengirimkan emoji berbentuk hati serupa dengan yang Niken kirimkan. Terpantau centang satu dan sang istri pun aktif kira-kira satu jam yang lalu. Ada kemungkinan Niken sudah berada di pesawat, sehingga ponselnya tidak aktif.
Melihat Ardi tengah senyum-senyum sendiri, Melati bisa menebak kalau Ardi sedang berbalas pesan dengan Niken. Akan tetapi, dirinya tidak tahu pesan apa yang dikirimkan Niken dan apa balasan apa yang Ardi tuliskan.
Hal tersebut mematik rasa kesal, sekaligus cemburu dan iri karena Niken telah mampu mengalihkan perhatian Ardi, yang semula hanya untuknya.
"Memang apa hebatnya wanita itu, sampai Ardi begitu senang saat menerima pesan darinya?" Melati pun membatin, sembari *******-***** ujung bajunya.
Ardi cukup lama fokus pada layar ponselnya. Melati pun mendehem begitu keras, sampai Ardi akhirnya sadar akan keberadaannya di sana.
"Astaga, maaf Melati. Aku terlalu sibuk membalas pesan dari Niken." Ardi tidak ragu-ragu mengatakan kalau pesan tersebut dikirim oleh Niken.
Tidak lupa Ardi juga mengatakan, kira-kira dua jam dari sekarang Niken akan sampai di Bandung. Kedatangan Niken semata-mata untuk mengurus semua administrasi rumah sakit, termasuk biaya opersi dan lain-lainnya.
Ketidakmampuan Ardi dalam hal finansial, membuat pria dua puluh tujuh tahun itu tidak bisa membayar biaya rumah sakit.
Mendapat pengakuan tersebut bukannya merasa senang karena Niken mau membantu, malah menimbulkan rasa cemburu dari Melati. Dia begitu kesal saat Ardi terus fokus pada layar ponselnya dan juga senyum-senyum sendiri. Kalau saja bisa, dia ingin merebut ponsel Ardi dan membantingnya ke lantai, sehingga mantan kekasihnya itu tidak lagi bisa saling berbalas pesan, terutama dengan Niken.
"Tenang, Melati. Tenanglah ... Jangan tunjukkan kekesalanmu untuk sekarang. Biarkan Ardi bersenang-senang dengan istrinya lebih dulu. Dirimu pasti akan memiliki kesempatan untuk merebut dan mendapatkan Ardi kembali. Jadi, kendalikan dirimu saat ini, atau semua rencanamu akan gagal."
Tentu Melati mengatakannya hanya sebatas di hati. Ardi pun akhirnya selesai dengan ponselnya. Dia memasukkan kembali ke saku celana. Selanjutnya, berjalan perlahan mendekati Melati.
Terlihat Melati menggigiti bibir bagian bawahnya. Bola matanya berputar cepat. Dia juga terciduk sedang menelan ludahnya berat-berat kala netranya, tidak bisa lepas dari lehen jenjang Ardi. Tidak sampai di situ saja, netranya pun berpindah melihat ke bagian bawah yang agak menonjol. Sesuatu yang keras, panjang dan basah terbungkus rapi oleh balutan celana bahan yang sedikit agak ketat.
Apa yang dilihat Melati?
__ADS_1