
Tinggalkan sejenak kebersamaan Niken dan Ardi, yang saat ini berada di Bandung.
Jauh dari hiruk-pikuk kota Bandung maupun Jakarta. Di sebuah rumah dan di salah satu kamar yang ada di sana.
"Aaa!"
Teriakan seorang gadis terdengar sangat jelas dari dalam kamar.
"Cepatlah sayang, aku sudah tidak tahan lagi. Kau membuatku sangat lama menunggu."
Pria itu berhenti sejenak. Lalu berpindah ke bawah dan duduk di antara kedua kaki gadis tersebut, "Sayang, jangan lakukan itu!"
Gadis tersebut sudah bisa merasakan sesuatu yang luar biasa setelah ini. Tubuhnya telah berkeringat dan sangat panas.
"Lebarkan kakimu, Sayangku agar aku mudah menikmati milikmu yang indah ini!"
"Sayang, aku tidak bisa terus melanjutkannya," desah gadis itu yang semakin menjadi-jadi.
Tubuhnya sudah tidak bisa dikontrol lagi. Semuanya telah menggebu-gebu. Sedangkan pria yang sedang bermain panas itu menghentikan aktivitasnya.
"Sekarang giliran adikku, yang kamu layani."
Bruk!
Langsung saja tanpa aba-aba dia menindih gadis yang sudah sangat terangsang tersebut.
"Aaaa!"
Terdengar kembali suara jeritannya saat sesuatu yang sangat besar merobek tubuhnya. Memaksa masuk dan menusuk sampai ke dinding rahimnya.
Dia merasakan ada hal yang menjadi kenikmatannya, sekaligus dunia baru bagi seorang gadis.
Kenikmatan kian terasa. Gadis tersebut menggeram seprai yang ada di kanan dan kirinya. Pria itu menambah kecepatan goyangannya.
"Sayang!" Gadis itu menarik kepala pria tersebut.
Hingga keduanya sama-sama mendesah hebat. Seisi ruangan menjadi ramai dengan suara yang mereka hasilkan bersama.
Gesekan demi gesekan membuat mereka kian terbawa nafsu. Hampir mencapai puncak, tetapi pria itu belum menemukan kepuasan dirinya.
Dia menambah kecepatannya. Kian cepat, semakin nikmat. Dia mendesah sangat keras, "Oh, Sayang!"
Hingga …
Bruk!
Pintu kamarnya terbuka. Seorang gadis lainnya telah datang dengan sejuta kemarahan.
Wajahnya sangat merah kelabu. Dia juga mengepal kedua tangannya bulat-bulan dan siap untuk meninju seseorang.
Langkah kakinya sangat keras, dan terhentak setiap langkahnya.
"Dasar penipu kamu! Pria tidak tahu diri!"
Gadis itu menghentikan semua aktivitas panas yang terjadi di atas tempat tidur itu. Mendorong pria tersebut dengan satu kali hentakan saja.
Hingga membuat pria itu jatuh ke atas lantai.
"Kamu jahat! Bagaimana bisa kamu melakukan ini di belakangku? Aku benci kalian!"
__ADS_1
Bukan hanya prianya saja yang didorong sampai jatuh, gadis yang sedari tadi bermain api itu ikut didorong sampai terjatuh dari atas tempat tidur.
Keduanya langsung tersadar saat itu juga.
"Sayang. Kamu ada disini? Sejak kapan sayang? Aku bisa menjelaskannya, Sayang."
Pria itu segera bangun dan bersamaan dia juga naik ke atas tempat tidur itu, dan dalam kata-katanya dia merayu gadisnya.
"Yang terjadi tidak seperti yang kamu lihat, Sayang. Dia yang sudah merayuku terlebih dahulu, dan aku …."
"Dan apa? Aku terbujuk dan terbawa suasana. Akhirnya kami melakukannya, Sayang. Itu bukan yang kamu ingin katakan! Sudah, aku benci kamu!"
Bruk!
Gadis itu mendorong pria itu kembali, untuk kedua kalinya lalu terjatuh dan terjungkal saat itu juga.
Sementara itu wanita penggoda tersebut tampak diam dan tak melakukan apa-apa. Tanpa bersalah, dia juga menatap wajah pria itu dengan perasaan yang masih bergairah.
"Kau sudah sangat keterlaluan, Leona!"
Tea turun dari atas tempat tidurnya. Ya, wanita yang sedang melabrak itu bernama Tea, sedangkan wanita yang tadi berhubungan intim bernama Leona. Sementara itu pria tersebut bernama Galaxy.
"Bagaimana bisa dirimu mengkhianati persahabatan kita? Kau sendiri tahu jika Galaxy adalah tunanganku, kenapa dirimu bisa bermain api dengannya?"
Tea mengamuk. Dia meluapkan semua rasa kesalnya pada sahabatnya sendiri. Mendorong sahabatnya sampai satu tamparan keras mendarat sempurna di pipi Leona.
"Galaxy sendiri yang datang padaku. Kau sendiri tidak pernah memperhatikan dirinya! Bahkan kau tidak benar-benar mencintainya, bukan? Jujur saja, Tea. Kau tidak mencintai dirinya bukan? Lalu untuk apa kau masih menerima pertunangannya?"
Leona mengajukan banyak pertanyaan pada Tea. Dari pertanyaan itu terungkap jika Tea tak benar-benar mencintai Galaxy.
Plak!
Tamparan keras kembali dilayangkan Tea. Sekarang kemarahannya telah memuncak.
Menjambak rambut Leona. Tea menarik seluruh surai Leona sampai wanita itu menjerit kesakitan.
"Kamu pembohong! Jika memang kamu yang mencintai Galaxy, mengapa tidak sejak awal dirimu mengatakannya?"
Tea berteriak, seraya terus menarik rambut Leona. Galaxy pun bertindak.
"Berhenti! Hentikan ini Tea. Leona tidak benar-benar bersalah. Aku yang sudah datang padanya. Maafkan aku, karena sudah membohongi dirimu."
Pengakuan Galaxy kian memantik kemarahan Tea. Wajahnya yang semula kelabu kini berubah menjadi menghitam. Sorot tajam dia lontarkan pada Galaxy. Pria yang dengan tega bermain api dengan wanita lain, dan itu pun dia lakukan bersama dengan sahabatnya sendiri.
Plak!
"Pergi kalian!"
Tamparan keras diterima Galaxy. Tea pula langsung mengangkat tangannya dan meminta Galaxy dan Leona pergi.
"Dengarkan penjelasanku dahulu. Saat ini kau sedang tidak terkendali. Aku bisa menjelaskan semuanya kepadamu, Tea!"
Dipasangnya wajah memelas. Memohon belas kasih terlebih dahulu pada Tea.
"Pergi! Aku tidak ingin mendengar semua penjelasan darimu. Aku sudah sangat muak dengan semua sandiwara yang sudah kalian ciptakan di belakangku tadi. Pergi!"
Tea menghardik Galaxy, tanpa mendengarkan lagi penjelasan dari pria tersebut.
Kini hatinya telah hancur. Cintanya yang semua memang tidak ada, sekarang sudah terbukti jika Galaxy memang bukanlah jodohnya.
__ADS_1
"Tea, aku mohon. Dengarkan dulu penjelasan dariku. Aku tidak ingin pernikahan kita batal karena salah paham ini."
"Apa katamu? Salah paham? Aku tidak merasa salah paham. Aku melihat semuanya. Telingaku mendengar bagaimana wanita penggoda itu! Merayuku. Dan aku juga melihat bagaimana dirimu yang sangat menikmatinya."
Mata, hati dan telinga sudah Tea tutup rapat-rapat. Dia tak akan mendengar penjelasan yang dibuat Galaxy, serta melihat wajah pria yang sudah mengkhianati dirinya itu.
"Pergi kalian! Dan mulai hari ini, kau bukan lagi pacarku. Kita putus! Serta tidak ada pernikahan di antara kita. Pernikahannya, batal! Cepat pergi dari kamarku, sekarang juga!"
"Cepat pergi kalian!"
Tea sudah diluar kendalinya. Galaxy tentunya tidak bisa berkata apa-apa lagi. Sementara itu, Leona datang pada Galaxy dan berkata.
"Sudahlah. Jika dia memang menolak dirimu, maka sebaiknya kita pergi saja. Percuma berbicara pada sebongkah batu yang tidak bisa diajak bicara," hardik Leona, beserta tatapan sinis untuk Tea.
Galaxy masih yakin dia bisa menjelaskannya pada Tea, namun gadis itu sudah membuang pandangannya dan berbalik badan. Hanya tinggal menunggu Galaxy dan Leona pergi saja.
Setelah memaksa. Akhirnya Galaxy mau juga terbujuk kata-kata Leona. Mereka pergi meninggalkan kamar milik Tea.
Pakaian yang tercecer dimana-mana, mereka ambil satu persatu dan memakainya kembali.
Galaxy sangat berat meninggalkan kamar ini. Dia terus melihat Tea, dengan harapan Tea akan berbalik badan dan mengubah keputusannya itu.
Namun, itu sia-sia. Tidak ada respon apa-apa dari Tea. Sedangkan Leona terus menarik tangannya sampai keduanya benar-benar melenggang pergi melewati pintu itu.
Kekasihnya telah pergi, begitu pula dengan sahabatnya. Kini hanya tinggal Tea seorang diri yang terkurung di dalam kamarnya sendiri.
Tea memandang tempat tidurnya. Ranjang yang semua akan ditempati bersama Galaxy kini telah ternoda oleh wanita lain.
"Aaaa!"
Teriakan keluar dari mulut Tea. Dia melenggang menuju tempat tidurnya. Ditarik sprei yang penuh dengan bercak darah dari Leona tersebut.
Menariknya dengan kasar, disertai kemarahan. Tangisnya pun pecah tatkala ketika dia terduduk di tepi tempat tidurnya.
Kakinya lemas dan dia tersungkur di sana. Kedua kakinya ditekuk lalu didekapnya dengan erat.
Wajahnya disembunyikan lalu, butiran-butiran itu terus keluar tanpa adanya kata berhenti.
"Mengapa ini terjadi padaku? Kenapa kalian dengan tega berbuat seperti ini kepadaku? Apa salahku pada kalian, sehingga kalian bermain api di belakangku? Sungguh menjijikkan."
Tea meratapi nasibnya. Ada hal yang indah akan terjadi di dalam kehidupannya. Tanggal pernikahan dirinya dan Galaxy telah ditetapkan, dan itu akan terjadi di pekan depan.
Namun, apa yang terjadi sekarang? Semuanya runtuh, sirna dan angan-angan mahligai rumah tangga yang akan dibina pun hancur dalam hitungan menit.
***
Malam kian larut. Di rumah memang sedang tidak ada siapa-siapa. Tea pergi dengan mobilnya menuju tempat yang dia ingin datangi.
Tepi jembatan layang. Mobilnya di terparkir di sana. Sementara itu Tea telah berdiri tegak di atas besi pembatas jembatan tersebut.
Kedua matanya terpejam. Tak lupa kedua tangan pula dibentangkan.
"Lebih baik aku mati, daripada aku harus hidup dengan rasa malu ini."
Dengan menggoyangkan tubuhnya, Tea siap menerjunkan dirinya ke bawah. Jembatan ini tingginya hampir 100 meter, dengan di bawahnya sungai yang terhubung langsung dengan laut.
"Ibu, maafkan diriku yang sudah mengecewakan dirimu. Sejak awal seharusnya aku jujur kepada Ibu, jika aku tidak mencintai Galaxy. Maafkan aku Ibu."
Tea telah condong ke depan. Hanya tinggal menjatuhkan diri saja ke bawah. Dengan menghitung mundur.
__ADS_1
Satu … Dua … Tiga ….
"Hei! Berhenti wanita jembatan!"