
Hampir enam bulan Yura menetap di Amerika namun ia belum sekalipun mendapatkan kabar dari kekasihnya Evan. Sementara itu Evan yang merasa kalau Yura sudah bersatu lagi dengan suaminya, membuatnya enggan untuk mau tahu lagi tentang kabar Yura.
Kerinduan Yura yang kian menyiksa hatinya membuat gadis ini akhirnya jatuh sakit. Yura dilarikan ke rumah sakit saat ia jatuh pingsan di sekolah. Hal itu membuat siswanya sangat panik karena mereka sudah telanjur mencintai Yura yang banyak membawa perubahan dalam hidup mereka.
Setibanya di rumah sakit, kepala sekolah tuan Paul untuk sementara menjadi wali Yura. Anabelle yang masih memegang tas Yura berinisiatif mencari nomor ponsel yang mungkin memiliki keterkaitan dengan Yura dan mereka menemukannya.
Annabelle bicara dengan Sean kekasihnya untuk mencoba menghubungi dua nomor yang ada tulisan my love dan asisten Riky.
"Sepertinya dua orang ini sangat penting dalam hidup Miss Yura. Begini saja, kamu menghubungi nomor yang ini (milik Evan) dan aku yang ini ( milik asisten Riky)." Pinta Annabelle dan di sanggupi oleh Sean.
Evan yang saat itu baru saja selesai meeting melihat nomor panggilan masuk yang tidak di kenal. Merasa ada yang penting, ia pun segera menerima panggilan itu." Hallo...!" Sapa Evan sambil menanyakan keperluan orang yang menelponnya.
"Maaf Tuan...! Apakah anda mengenal nona Yura?" Tanya Sean.
Duarrr ..
"Yura...! Kamu siapanya Yura?" Tanya Evan sebelum menjawab pertanyaan Sean.
"Saya siswanya nona Yura." Ujar Sean.
"Bagaimana kamu mengetahui nomor teleponku?"
"Maaf tuan! Saya akan menjelaskan kepada anda nanti jika anda mau datang ke rumah sakit karena nona Yura sedang berada di ruang IGD saat ini." Jelas Sean agak meladeni pertanyaan Evan padanya yang terkesan berbelit-belit.
"Rumah sakit? Maksudmu rumah sakit di Indonesia?"
__ADS_1
"Bukan! Rumah di L.A." Sahut Sean membuat Evan makin terkejut.
"Baik. Tolong kirim alamat rumah sakitnya. Saya segera ke sana." Ucap Evan dengan jantung berdebar.
Mobil Evan sudah berada di jalanan menuju rumah sakit sesuai dengan alamat rumah sakit yang dikirimkan Sean padanya. Dalam beberapa menit kemudian, mobil mewah milik Evan sudah memasuki halaman parkir rumah sakit.
Langkah tegap dengan tubuh atletis melewati beberapa para suster yang membelalakkan mata mereka dengan mulut setengah terbuka menatap tak percaya melihat seorang Evan Miller mendatangi rumah sakit itu.
"Bukankah itu Evan Miller...? Astaga aslinya setampan itu." Wajah beberapa suster itu merona sendiri padahal Evan tidak sedikitpun melirik mereka.
Evan lagi sibuk menghubungi nomor Sean karena tidak menemukan Yura di kamar inap. Sean memberitahukan keberadaan mereka yang sudah berada di kamar inap VVIP milik Yura.
Pintu kamarnya dibuka secara perlahan dan Evan mencondongkan tubuhnya setengah melihat ke dalam kamar itu yang langsung di sambut Sean yang sangat kaget jika kekasih dari Miss Yura orang yang tidak asing baginya dan juga bagi tiga temannya yang saat ini sedang menunggu Yura yang belum sadar.
Evan hanya tersenyum pelit pada Sean dan teman-temannya. Matanya lebih fokus pada Yura yang terbaring lemah di atas brangkar dengan infus dan selang oksigen sudah melekat di tubuh gadis itu.
Sean mengajak teman-temannya pulang agar Evan bisa berduaan dengan guru idola mereka itu.
"Tuan Evan! Anda sudah di sini kalau begitu kami pamit pulang." Ucap Sean sambil menyodorkan tangannya bersalaman dengan Evan.
"Terimakasih atas usaha kalian menghubungi aku. Jika kalian tidak menghubungiku aku bahkan tidak tahu keberadaan Yura yang kehilangan kontak denganku." Ucap Evan membuat mereka mengerti seperti apa hubungan pasangan ini yang mungkin terjadi kesalahpahaman diantara mereka.
"Kami mengerti tuan Evan! Maaf...! Kami tadi harus membuka ponselnya nona Yura untuk mencari orang dekatnya nona Yura dan di nomor itu tulisannya bukan nama anda melainkan my love." Jelas Anabelle.
"Usaha yang bagus. Pasti kalian sangat menyayangi kekasihku hingga kalian mau melakukan apa saja untuk bisa menghubungi orang yang dekat dengan nona Yura. Beruntunglah kalian menghubungi aku dan bukan bajingan itu." Ucap Evan membuat siswa Yura tercengang.
__ADS_1
"Bajingan siapa tuan Evan?" Tanya Sean.
"Ah... lupakan saja! Aku hanya ngelantur. Terimakasih atas bantuannya membawa kekasihku ke rumah sakit ini. Pasti Yura sangat bangga memiliki siswa seperti kalian." Ucap Evan.
"Justru kami lah yang sangat bangga memiliki guru sehebat nona Yura. Ia adalah inspirasi kami. Ia tahu bagaimana menempatkan dirinya sesuai yang kami butuhkan. Ia bisa jadi kakak dan guru yang menyenangkan.
Ia mengajari kami bagaimana menghargai hidup. Bahwa setiap kesenangan yang kami dapatkan dari kedua orangtua kami pasti ada ujian di dalamnya. Karena orang hidup tidak dituntut untuk merasakan kebahagiaan sepanjang hidupnya. Orang hidup harus berjuang keras untuk bisa bertahan dalam hal apapun walaupun itu tidak nyaman baginya tapi justru akan terasa mudah jika bisa menerima ujian itu sebagai bentuk proses kehidupan. Itulah bentuk kebahagiaan.
Itulah nasehat yang sangat berharga yang diberikan nona Yura pada kami. Sejak saat itu kami tidak pernah lagi bersikap manja dan banyak menuntut karena masih banyak orang yang tidak beruntung di luar sana ingin merasakan bagaimana cara kami mendapatkan kenikmatan hidup tanpa perlu bersusah payah mencari rejeki dengan cara yang sangat menyakitkan." Jelas Marco membuat Evan begitu takjub cara Yura mendidik murid-muridnya.
"Hebat kamu Yura bisa menghadapi para siswa berengsek di sekolah mewah dan terkenal itu menjadi sosok berhati malaikat." Batin Evan.
Anak-anak itu akhirnya pamit setelah menyampaikan apresiasi mereka pada Yura yang sangat berkesan untuk mereka walaupun Yura baru masuk di sekolah itu sebagai guru vokal.
Evan segera menghubungi dokter yang ada di rumah sakit itu untuk mengetahui keadaan Yura sebenarnya. Suster yang datang terlebih dahulu di ruangan itu baru di ikuti dokter yang mengira Yura kembali Anfal.
Saat melihat Yura baik-baik saja membuat dokter bingung dengan sikap Evan. Tapi mereka baru menyadari keberadaan pria tampan itu dan langsung merubah sikap mereka.
"Astaga....! Maaf Tuan Evan ! Kami tidak mengetahui kalau anda di sini. Apakah anda mengenal nona Yura?" Tanya dokter Carlos.
"Yura adalah kekasihku. Saya mau tahu kekasihku sakit apa dokter?"
Dokter Carlos menarik nafas sesaat lalu menyampaikan penyakit yang di derita oleh Yura." Saat ini nona Yura mengalami penyakit thalasemia.
Duarrr...
__ADS_1