Suami Samaran

Suami Samaran
11. Mengajak Menikah


__ADS_3

Kondisi Yura yang menderita penyakit thalasemia, membuat Yura harus dirawat intensif karena harus mendapatkan transfusi darah. Yura yang baru mengerjapkan matanya melihat wajah tampan seorang yang selama ini sangat ia rindukan.


Seperti sedang berhalusinasi saat ini, membuat Yura merasa kehadiran Evan tidak nyata baginya. Evan menatap wajah cantik Yura yang terlihat pucat membuat hatinya nelangsa.


"Apakah aku sedang halusinasi?" Tanya Yura lirih sambil menatap Evan yang tidak mau bicara padanya.


Evan mengecup pipi Yura agak lama dan menanyakan gadis itu." Apakah ciuman ini juga halusinasi, hmm?"


Yura tersenyum menatap lagi wajah Evan." Benar. Ini nyata bagiku. Kamu adalah Evan ku. Aku sangat merindukanmu Evan. Bagaimana kamu tahu aku ada di sini? Apakah Riky menghubungi kamu?"


"Yang menghubungi aku adalah siswa mu, Sean. Aku justru mengetahui kamu sakit darinya." Sahut Evan lalu menceritakan kronologi bagaimana ia bisa sampai di rumah sakit itu.


"Di mana Sean, sekarang?" Tanya Yura sambil memindai pandangannya ke setiap sudut kamar inapnya.


"Mereka baru saja pulang karena aku sudah ada di sini untuk menemanimu. Cepatlah sembuh sayang! Setelah itu kita menikah." Ucap Evan sambil membelai kepala Yura.


"Aku sudah bercerai dengan Riandra, Evan. Aku tidak tahu ke mana aku harus mencari mu. Aku hanya ingin menjauh dari kehidupan Riandra agar tidak menganggu hidupku lagi." Ucap Yura.


"Apakah kamu kabur darinya?"


"Tidak..! Aku wanita bebas sekarang. Aku berhak pergi ke manapun yang aku mau. Apakah kamu tinggal di negara ini atau kamu sengaja merantau ke sini, Evan?"


"Aku lahir dan besar di sini, Yura. Aku ke Indonesia karena sedang mencari ibuku yang sudah menghilang selama belasan tahun. Aku sangat merindukannya. Ibuku asli Indonesia. Ayahku orang Amerika." Jelas Evan.


"Apakah kamu sudah bertemu dengan ibumu, Evan?"


"Belum."

__ADS_1


"Mungkin saja ibumu masih ada di negara ini dan tidak ingin menemui kalian. Mungkin ibumu sakit hati dengan ayahmu namun tidak ingin jauh darimu."


"Aku tidak tahu Yura. Urusan orangtuaku terlalu rumit dan aku belum tahu penyebab pastinya." Kilah Evan.


"Mungkin belum saatnya kalian dipertemukan Tuhan, Evan. Aku yakin, ibumu akan datang sendiri menemuimu, bukan kamu yang mencarinya." Ujar Yura.


Evan hanya bisa mencium pipi kekasihnya karena Yura tidak bisa berciuman saat ini karena masih mengenakan cup oksigen.


Malam itu Evan dengan setia menemani sang kekasih. Ia meminta asistennya untuk membawa beberapa baju untuk dirinya dan juga kebutuhan untuk Evelin. Evan tidur satu tempat tidur dengan Evelin walaupun ada tempat tidur kecil untuk keluarga pasien. Rasa rindunya pada Yura yang ingin selalu dekat dengan jandanya Riandra ini.


"Akhirnya kita bisa tidur bersama seperti dulu." Ucap Yura.


"Dulu aku tidak bisa melakukan apapun mengingat kamu masih istri orang lain. Tapi sekarang aku mau kamu menjadi milikku sekarang ini." Ucap Evan.


"Tapi kamu tidak mungkin mengajak aku bercinta bukan?" Canda Yura.


"Tidurlah sayang. Cepatlah sembuh! Kita akan bercinta kalau kita sudah menikah." Ucap Evan serius.


Perkataan Evan mampu menenangkan Yura. Ia sangat sayang pada kekasihnya ini karena Evan sangat menghargai dirinya. Tidak memanfaatkan keadaan. Namun Yura tidak mengetahui siapa sebenarnya Evan. Keduanya melewati malam itu dengan tidur sambil berpelukan mesra..


...---------------- ...


Tiga hari dirawat di rumah sakit membuat Yura sudah merasa lebih baik. Evan membawa pulang kekasihnya tidak ke unit apartemen milik Yura melainkan ke mansion miliknya.


Sepanjang perjalanan, Yura yang merupakan gadis konglomerat itu merasa aneh dengan mobil yang mereka tumpangi adalah brand terkenal. Tapi ia masih berpikir kalau Evan adalah sopir pribadi salah satu bos kaya di kota itu. Walaupun saat itu dari penampilan Evan, harusnya Yura bisa mengetahui siapa Evan. Dari jam tangan yang dikenakan Evan sudah bisa ditebak harganya yang miliaran.


Hanya saja Yura tidak begitu memperhatikan semua itu. Mungkin Yura terlalu menganggap Evan hanya seorang pria yang cerdas yang mampu mengelola perusahaan orang lain tempat ia bekerja selain perusahaan milik Riandra.

__ADS_1


Tiba di mansion utama, Yura di kejutkan dengan pintu gerbang di mana penjaga mansion itu membuka pintu gerbangnya." Evan.... kau!" Sentak Yura tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


"Kenapa sayang?"


"Apakah ini semua milikmu?" Tanya Yura sambil melihat area sekitarnya saat mobil itu berhenti di depan mansion.


Yura turun dari mobil mewah Evan yang langsung menggendong tubuh Yura yang masih terlihat lemah. Mereka sudah di sambut oleh para pelayan yang berdiri dengan kepala tertunduk.


Yura melingkarkan tangannya ke leher kokoh milik sang kekasih. Yura sangat malu dengan Evan yang ternyata sangat kaya." Dasar bodoh kamu Yura! Kamu dulu menawarkan dengan sejumlah uang untuknya agar bisa menerima tawaranmu menjadi suami samarannya, ternyata dia lebih kaya darimu." Yura merutuki dirinya sendiri karena sangat malu pada Evan.


Setiba di kamar Yura, lagi-lagi Yura di suguhkan dengan pemandangan yang sangat mengagumkan melihat tempat tidur Evan. Ruangan itu begitu rapi dan di rubah sedikit gaya interiornya dengan nuansa soft karena Yura akan menempati kamar itu juga.


Saat ia di baringkan, di kasur empuk itu, Yura tidak banyak bicara. Evan mengerti rasa keterkejutan Yura atas dirinya yang memiliki segalanya.


"Maafkan aku sayang! Aku tidak ingin kamu mengetahui siapa diriku. Aku hanya ingin dicintai seperti pria biasa bukan kekayaanku walaupun aku tahu siapa keluargamu dan betapa hebatnya dirimu." Ungkap Evan sambil mencium punggung tangan Yura yang masih ada plester bekas cabutan infus.


"Aku harus banyak belajar darimu untuk menutup mulut agar tidak mengumbar apa yang kita miliki. Tidak perlu menjelaskan tentang siapa kita pada orang lain karena orang akan tahu siapa kita sebenarnya suatu saat nanti." Jelas Yura.


"Tidak perlu segan seperti itu Yura. Jadilah dirimu sendiri sejauh itu yang membuatmu merasa nyaman. Tidak perlu mengikuti hal yang membuat mu merasa malu seperti saat ini kamu melihat keadaanmu sebenarnya." Ujar Evan memberikan pengertian pada Yura.


Tidak lama kemudian, pelayan mengantarkan makan siang untuk keduanya ke kamar mereka. Di saat itu juga, Evan mengambil sesuatu dari laci nakas. Dan ternyata itu adalah cincin untuk melamar Yura.


"Yura Yunita! Apakah kamu bersedia menikah denganku untuk mendampingi hidupku dan melahirkan anak-anak untukku?" Tanya Evan sambil memperlihatkan sebentuk cincin berlian pada Yura.


"Aku akan menerima kamu sebagai suamiku, mencintaimu seumur hidupku dan melayani mu sebagai suamiku hingga maut memisahkan kita." Jawab Yura.


Evan menyematkan cincin berlian itu pada jari manis Yura. Keduanya saling berciuman.

__ADS_1


__ADS_2