Suami Samaran

Suami Samaran
18. Tolong Rahasiakan!


__ADS_3

Sean harus mengurus mantan guru vokalnya itu. Ia yang kini sudah kuliah memang masih menjalin hubungan baik dengan Yura karena sangat senang curhat dengan Yura daripada ibu kandungnya yang jarang ada di rumah karena selalu sibuk show nyanyi di berbagai negara.


Sean harus menghubungi dokter untuk memeriksakan keadaan Yura. Dokter pribadinya itu, memang memeriksa keadaan Yura sambil memperhatikan arlojinya seakan sedang menghitung detak nadi Yura dengan detik jam yang ada di arlojinya.


Usai memastikan apa yang sedang di alami oleh Yura, dokter itu menanyakan suami dari Yura." Sean..! Tolong hubungi suami dari gurumu ini!" Pinta dokter Robert.


"Suaminya sedang ke luar negeri, Dokter. Sampaikan saja padaku, apa yang terjadi!"


"Gadis ini sedang hamil. Mungkin sekitar dua Minggu usia kandungannya."


Sean begitu bahagia mendengar kabar baik itu. Iapun menyalami dokter dan segera mentransfer sejumlah uang ke rekening dokter. Dokter Robert sudah mengetahui hal semacam itu lalu pamit kepada Sean.


"Untuk lebih jelasnya bawa saja ke rumah sakit agar bisa di diagnosa dokter spesialis kandungan lebih lanjut." Ucap dokter Robert sebelum membuka pintu kamar hotel tersebut.


"Terimakasih dokter! Maaf menganggu anda di larut malam seperti ini."


"Tidak apa Sean! Sudah tugas saya sebagai dokter keluarga kalian, yang harus siap kapan saja jika dibutuhkan." Sahut dokter Robert lalu beranjak pergi dari kamar hotel itu.


Sean duduk di sofa sambil menunggu Yura siuman. Tidak berapa lama Yura menggeliat dan berusaha bangkit dari tempat tidurnya membuat Sean sigap menghampiri Yura.


"Apa yang anda rasakan Miss?"


"Kepala ku terasa pusing Sean. Apa yang terjadi padaku?"


"Tadi Miss pingsan membuat saya panik dan membawa lagi Miss ke hotel saya. Tapi dokter sudah memeriksakan keadaan Miss." Ucap Sean.


"Saya sakit apa Sean? Apa kata dokter?" Tanya Yura penasaran.


Sean duduk dekat Yura sambil memegang tangan Miss nya. Senyum Sean mengembang bahagia seakan ia yang akan menjadi seorang ayah saat ini." Miss Yura saat ini sedang hamil dua Minggu. Untuk lebih jelasnya, Miss Yura bisa menemui dokter kandungan di rumah sakit. Itu yang dikatakan oleh dokter keluarga ku tadi, Miss."


"Apa...! Aku hamil?" Senyum Yura mengembang namun seketika menghilang saat mengingat kejadian barusan yang ia alami barusan di mana ia menyaksikan adegan panas suaminya dengan wanita lain dengan mata kepalanya sendiri secara langsung.


"Tolong rahasiakan kehamilan ku ini Sean dari suamiku. Aku hanya ingin bercerai darinya. Kamu pasti tahu alasannya, bukan?" Pinta Yura pada Sean yang sangat mengerti perasaan gurunya ini.


"Tenang saja Miss Yura, rahasia mu aman padaku. Sekarang apa rencana nona Yura setelah mengetahui perselingkuhan tuan Evan?"

__ADS_1


"Aku ingin bercerai dan kembali ke Indonesia."


"Apakah nona Yura ingin mengajar lagi, di sekolah sebelumnya?"


"Entahlah, Sean. Aku ingin fokus menjalani kehamilanku tanpa beban."


"Kalau mau tenang, jangan kembali ke Indonesia karena tuan Evan tidak akan melepaskan anda begitu saja. Jika meminta perceraian, akan memicu keributan saat ini dan mungkin tuan Evan akan bersikap kasar padamu. Sebaiknya, nona Yura menghindari dirinya dengan bersembunyi di luar kota." Saran Sean.


Yura terdiam dan menimang saran Sean yang ada benarnya. Kehamilannya memang masih muda dan itu sangat rentan keguguran jika harus berurusan dengan Evan.


"Aku tidak tahu harus ke mana Sean?"


"Ke daerah pedesaan."


"Apakah kamu punya tempat yang cocok untukku menjalankan kehamilanku di tempat yang tenang?"


"Di perkebunan keluargaku." Ucap Sean. "


"Baiklah. Tapi jika aku tidak betah, aku akan kembali ke Jakarta."


Tidak lama kemudian mobil mewah milik Evan sudah berada di mansionnya. Ia mencari istrinya namun tidak di temukan. Ia menanyakan pelayannya yang hanya bisa menjawab kalau Yura belum tiba di sampai saat ini.


"Ke mana istriku pergi?" Panik Evan yang merasa sangat sial karena harus menginap di hotel temannya yang merupakan mantan siswa istrinya.


"Hanya Sean yang mengetahui ke mana istri pergi." Ucap Evan.


Ia kemudian menghubungi nomor telepon Sean, namun pemuda itu tidak mau mengangkat telepon darinya. Evan kembali lagi ke hotel itu untuk mencari istrinya yang mungkin saja menginap di hotel tersebut karena sudah larut malam.


Saat di tanyakan pada, resepsionis hotel itu, tidak ditemukan nama istrinya di buku tamu hotel tersebut. Iapun menanyakan Sean, namun petugas itu hanya menjawab Sean sudah kembali ke mansionnya. Evan akhirnya pulang lagi ke kediamannya dan berharap istrinya sudah pulang ke rumah mereka.


"Apa yang harus aku jelaskan kepada Yura nanti, sementara aku sudah melanggar perjanjian kami." Gumam Evan sedih.


Sementara Yura yang masih berada di hotel itu sudah tidur terlelap. Dan Sean kembali ke mansionnya untuk mempersiapkan dirinya mengantar Yura ke kebun keluarga mereka. Sean merebahkan tubuhnya dan berharap ia bisa melindungi Yura dari Evan yang sangat berengsek menurutnya.


Sean juga sudah menghubungi kekasihnya Anabelle untuk berlibur bersamanya menemani Yura selama berada di perkebunan nanti.

__ADS_1


Keesokan paginya, Yura kembali ke kediamannya untuk mengambil beberapa dokumen pribadinya sebagai syarat untuk berpergian ke manapun.


Evan langsung sigap saat melihat istrinya memasuki kamar mereka.


"Yura ..! Kamu dari mana saja, sayang ?" Tanya Evan berusaha tenang walaupun ia tahu dirinya salah.


"Bukan urusanmu." Ucap Yura sambil membuka mantelnya.


Entah mengapa hatinya kaya seakan beku menatap wajah tampan suaminya dengan rasa jijik.


"Yura...! Aku ingin bicara denganmu sebentar, boleh aku bicara sayang?"


Yura teringat akan kata-kata Sean agar tidak membuat keributan atau Yura akan kehilangan bayinya jika ia memicu keributan.


"Bicaralah! Apa yang ingin kamu bicarakan?"


"Tentang wanita yang semalam bercinta denganku. Aku dan dia sebenarnya sudah menikah baru-baru ini. Dan pernikahan kami hanya kontrak semata selama ia bisa mengandung anakku. Setelah ia melahirkan, aku akan mengambil anakku dan kami akan bercerai. Aku akan membayarnya untuk itu." Ucap Evan hati-hati.


Bagai di sambar petir, Yura rasanya ingin pingsan lagi saat ini, namun ia harus mampu mengendalikan dirinya agar ia bisa kabur dari suaminya yang lebih kejam dari Riandra suami pertamanya.


"Sayang ..! Apakah kamu mendengarkan perkataanku?" Tanya Evan.


"Apakah hanya itu yang ingin kamu katakan Evan?"


"Iya sayang?"


"Kamu ingin membawanya ke rumah kita?"


"Tidak! Aku akan membelikan apartemen untuknya."


"Apakah kamu yakin dia tidak akan tidur dengan lelaki lain selain denganmu?" Sinis Yura.


"Apa maksudmu Yura?"


"Jika dia berasal dari keluarga kaya sepertiku, mungkin dia akan melakukan apapun untuk bisa memberikanmu anak. Tapi jika dia hanya butuh uangmu, dia akan tidur dengan siapa saja agar bisa memberimu anak dan kamu akan membayarnya. Yang penting judulnya anak bukan dari benihmu." Sarkas Yura.

__ADS_1


Glekkkk...


__ADS_2