Suami Samaran

Suami Samaran
8. Berhasil Kabur


__ADS_3

Gugatan cerai yang diajukan oleh Yura akhirnya dikabulkan oleh pihak pengadilan agama. Pengacaranya Yura benar-benar memperjuangkan hak Yura yang ingin melepaskan dirinya dari pernikahan sandiwara itu. Apalagi pengkhianatan suaminya menjadi alasan kuat Yura menggugat cerai suaminya yang selama ini juga tidak memberikannya nafkah batin.


Riandra marah besar pada pengacaranya yang tidak bisa menghentikan kegilaan istrinya yang bersikeras untuk bercerai darinya.


"Alasan apa ini? Bagaimana aku mau memberinya nafkah batin kalau dia sendiri tidak mau memberiku kesempatan untuk berdamai dengan dirinya." Wajah Riandra terlihat kelam karena tidak bisa lagi bertemu dengan Yura.


Gadis itu sudah kabur entah ke mana setelah mengundurkan diri dari pekerjaannya sebagai guru. Ia menyerahkan semua harta kekayaannya yang diberikan oleh mertuanya atas namanya. Ia hanya membawa aset milik keluarganya sendiri sebagai bekal hidupnya.


Yang mengetahui kepergiannya hanya asisten suaminya, Riky. Hanya pria itu yang bisa ia percaya karena selama ini dia dan Riky yang telah mempekerjakan Evan di perusahaannya.


Yura menghubungi Riky saat lelaki itu sudah berada di apartemennya. Ia ingin tahu alamat tempat tinggal Evan dan ingin mengejar pria itu berada." Apakah kamu yakin tidak mengetahui sama sekali keberadaan Evan, Riky?" Tanya Yura penuh harap.


Itulah kesalahanku, nona. Aku tidak bisa menelusuri lebih jauh tentang siapa Evan sebenarnya. Tapi aku yakin dia bukan pria biasa yang kita kenal selama ini. Buktinya, ia tidak mau mengambil upahnya yang kita janjikan padanya untuk membayarnya jika pekerjaannya memuaskan kita." Ucap Riky panjang lebar membuat Yura makin terpuruk dalam kerinduannya pada pria itu.


"Baiklah. Jika suatu saat dia menghubungi mu tolong berikan alamatku padanya. Katakan kepadanya kalau aku sangat merindukannya." Jelas Yura.


"Aku yakin dia akan mencari nona Yura suatu saat nanti karena dia sangat mencintaimu, nona Yura."


"Terimakasih atas pengertianmu Riky. Aku harap aku bisa mengandalkanmu." Ucap Yura mengagumi sosok Riky yang begitu setia dan pengertian pada dirinya.

__ADS_1


"Tidak perlu sungkan seperti itu nona. Aku yakin anda akan menemukan kebahagiaan bersama dengan tuan Evan yang sangat baik hati itu." Imbuh Riky lalu mengakhiri pembicaraannya dengan Yura.


Yura yang saat ini sedang berada di Amerika, satu kota dengan Evan. Ia menyewa sebuah apartemen kecil untuk dirinya. Ia sudah mengirimkan civi nya melalui email ke sekolah yang sudah menerimanya dan hanya menunggu panggilan interview dengannya.


Sesuai dengan hari yang di janjikan oleh sekolah tersebut, Yura melakukan wawancara dengan kepala sekolah yang langsung mengetes kemampuan Yura dalam vokal menyanyi maupun beberapa alat musik yang dikuasai oleh gadis itu.


"Mulai besok anda sudah bisa mengajar siswa di sini. Aku harap anda bisa tahan banting dengan beberapa siswa yang terlalu mengandalkan nama besar kedua orangtua mereka. Rata-rata siswa di sini anak pengusaha dan juga artis terkenal." Ucap kepala sekolah mengingatkan Yura.


"Aku akan mencoba melakukan pendekatan dengan mereka secara persuasif. Jika mereka masih berulah di depanku, aku tahu cara memenangkan mereka dan membuat mereka bisa menjadi siswa penurut." Ucap Yura percaya diri.


"Baiklah. Aku suka dengan optimisme anda sebagai guru yang memiliki dedikasi tinggi. Aku akan mengangkat jempol ku jika anda bisa menaklukkan anak-anak nakal itu." Ujar kepala sekolah.


"Seberapa nakalnya mereka sehingga anda sangat mencemaskan aku, tuan Paul? Ini bukan pertama kalinya aku berhadapan dengan siswa bandel karena di sekolah sebelumnya ada anak yang berusaha membakar sekolah dan aku bisa mengatasinya dengan mudah. Apakah tuan mau melihat kemampuanku?" Tanya Yura dengan angkuhnya.


"Terimakasih tuan Paul!"


Yura beranjak ke luar menuju tempat parkir sambil melirik beberapa siswa yang menatapnya dengan sinis.


Yura yang sudah dibekali ilmu bela diri yang diajarkan langsung oleh Evan membuatnya tidak gentar menerima tantangan yang diberikan oleh kepala sekolah. Dalam perjalanannya kembali ke apartemen, tanpa sengaja mobilnya dan mobil Evan berhenti di lampu merah membuat keduanya sama-sama harus menunggu beberapa detik lampu hijau menyala.

__ADS_1


Yura yang membuka setengah kaca jendelanya bersamaan dengan Evan yang juga membuka kaca jendela mobilnya.


Sayang, keduanya tidak saling melihat partner jalan mereka yang bersebelahan.


Hanya saja saat lampu hijau menyala, Evan yang lebih dulu melihat Yura sementara Yura tidak melihatnya." Yura....!" Lirih Evan namun mobil Yura sudah lebih dulu melaju dengan kecepatan tinggi membuat ia harus mengambil jalan menikung ke sana ke mari sambil melihat nomor kendaraan Yura yang tidak begitu jelas.


Baru saja ingin mendekati mobil Yura, namun lampu merah lagi-lagi menghalanginya hingga ia harus kehilangan wanita yang sudah membuatnya sangat rindu belakangan ini.


"Sial ....! Bagaimana caranya aku bisa mendapatkannya, tapi, tunggu ! apakah dia sedang berlibur ke L.A bersama suaminya? Atau dia sendirian datang ke sini untuk berlibur? Tapi ini bukan musim libur. Mana aku sudah tahu nomornya lagi gara-gara ponsel aku hilang." Umpat Evan kesal sendiri.


Yura termenung di dalam kamarnya sambil memikirkan perkataan kepala sekolah kepadanya. Ia harus banyak membaca buku untuk mengetahui cara menghadapi anak-anak nakal itu.


Jika di Indonesia, masih ada sifat jera anak-anak yang sulit di atur dengan memberikan mereka hukuman. Tapi di sekolah baru itu, apakah anak-anak itu patuh dengan hukuman yang akan diterima mereka nantinya, itu yang sedang menganggu pikirannya Yura.


Ketika malam tiba, Yura hanya bisa memesan makanannya ke salah satu restoran untuk di antarkan ke kamarnya. Ia menikmati makan malamnya sendirian sambil membayangi wajah sang kekasih.


"Evan....! Andai kau ada bersamaku saat ini, pasti banyak sekali solusi yang akan kamu berikan kepadaku. Aku merasa pikiranku buntu padahal aku belum bertemu dengan anak-anak itu." Lirih Yura.


Keesokkan paginya, Yura begitu semangat berangkat ke sekolah dengan mobil mewahnya. Ia tampil sangat cantik namun tidak terlihat menggoda. Riasannya yang lembut dengan setelan blazer warna pink membuat ia terlihat sangat anggun dan elegan saat memasuki kelas itu.

__ADS_1


Wajahnya yang memancarkan kharisma membuat kesan pertama yang di dapatkan para siswa itu adalah rasa segan. Berapa siswa yang terkenal bandel sudah siap dengan rencana jahat mereka harus diurungkan karena sikap Yura dengan wajah datar menatap lekat wajah mereka satu persatu sebelum memperkenalkan dirinya.


"Selamat pagi semuanya! Perkenalkan saya guru vokal kalian yang baru. Nama saya Yura Yunita. Saya berasal dari Indonesia dan sekarang menatap di L.A Sampai di sini ada pertanyaan?" Tanya Yura terdengar lugas dan tegas membuat anak-anak itu membisu.


__ADS_2