
Perubahan sikap Evan yang terlihat konyol karena suatu sebab hingga ia melakukan itu. Ayah dari si kembar ini sebenarnya sedang mengidap kanker otak yang membuat hidupnya tidak lama lagi. Karena tidak ingin membuat Yura kepikiran, ia harus bersandiwara dan merubah sifat tegasnya menjadi seorang lelaki yang konyol.
Pagi itu, Yura dan ibu mertuanya sedang menjemur baby kembar yang diberi nama Noah dan Neill. Evan menghampiri kedua wanitanya yang sangat ia sayangi.
"Evan ..! Apakah kamu tidak kembali kembali ke L.A?"
"Kalau Evan kembali, harus dengan keluarga kecil Evan mami. Evan tidak mau pulang dengan tangan kosong." Ucap Evan.
"Apakah Yura mau diajak pulang oleh kamu?" sindir nyonya Kelly.
"Maaf Evan! Aku sebenarnya tidak ingin bersama denganmu lagi. Apakah kamu tidak paham juga?" Geram Yura.
"Apakah kamu tetap menolakku jika ini adalah permintaan terakhirku Yura?"
"Emang kamu mau mati? Tidak usah drama Evan!"
"Ya sudahlah. Terserah apa pendapatmu. Setidaknya aku ingin menghabiskan di sisa waktuku dengan bayi-bayi tampanku ini." Imbuh Evan ditanggapi dingin oleh Yura.
"Cih. Ada apa dengannya? hanya buat modus supaya aku empati padanya. Sorry, aku bukan gadis bodoh yang bisa kau tipu-tipu sebelumnya," batin Yura.
"Sepertinya sedikit lagi mendung, mami. Sebaiknya kita masuk." Yura mendorong stroller Babynya tapi sambil oleh Evan.
"Kamu belum pulih sepenuhnya, jangan bawa yang berat-berat!" cegah Evan.
"Baguslah kalau kamu tahu diri. Jangan hanya bisa buat anak tapi tidak tahu diri," sungut Yura.
"Jadi, masih dendam nih karena aku selingkuh!"
"Kalau ia kenapa?"
"Tidak apa. Tapi, jangan simpan kelamaan dendamnya, nanti kalau aku sudah nggak ada, kamu nyesel loh." goda Evan.
__ADS_1
"Nggak usah ngibul sama aku. Nanti kalau mati benaran tahu rasa loh. Emang mati itu enak?" umpat Yura.
"Yah pasti enak lha. Buktinya nggak ada yang balik lagi setelah mati, walaupun ada sedikit yang seperti itu tapi itu hanya mendapatkan keajaiban dari Tuhan saja," timpal Yura.
"Capek juga ya kalau berdebat sama orang yang nggak waras seperti kamu," ucap Yura.
"Itulah kamu Yura. Kamu melihat segalanya berdasarkan sudut pandang kamu yang terlihat saja dihadapan kamu. Jika suatu saat nanti kamu mendapati kebenarannya, jangan pernah menyesal akan hal itu. Karena di saat itu kamu tidak pernah punya kesempatan lagi karena hanya tersisa penyesalan." Jelas Evan.
"Lama kelamaan ngaco juga omonganmu." Yura menidurkan bayi kembarnya dan menyiapkan makan siang bersama ibu mertuanya.
Sementara itu, Evan menahan kesedihanku karena tidak bisa memeluk Yura untuk memberikan kesan terakhir pada istrinya itu.
Saat malam hari, Evan mengajak Yura berbicara. Ia menatap bintang di langit saat berada di balkon kamarnya Yura.
"Sayang. Apakah kamu masih mencintai Riandra?" Tanya Evan tiba-tiba.
"Nggak usah pancing--pancing!" omel Yura.
"Kamu ini kenapa sih Evan? hari ini kamu aneh sekali Evan. Seharian kamu bahas kematian, emang kamu mau mati benaran?"
"Tidak mau. Hanya saja tidak bisa memilih karena mati itu suatu hal pasti terjadi," ucap Evan kali ini dengan mimik serius.
"Sudah ah. Aku malas dengar kamu cerita kematian terus. Ayo kita tidur!" ajak Yura.
Keduanya masuk ke kamar mereka dan Evan memeluk tubuh istrinya itu. Walaupun saat ini Yura masih masa nifas, Evan tetap sabar menunggu istrinya menjalankan proses alami itu.
...----------------...
Enam bulan kemudian, Evan membawa pulang keluarga kecilnya ke Amerika. Sementara nyonya Kelly masih mau tinggal bersama Riandra. Keluarga itu berpamitan menuju bandara.
Riandra memeluk dua keponakannya yang terlihat gemoy. Ia sangat sayang pada keduanya. Evan merasakan ketulusan Riandra menyayangi buah cintanya itu. Riandra menyampaikan nasehat pada keduanya walaupun keponakannya itu belum mengerti.
__ADS_1
"Jaga mommy kamu dari ayah kalian yang nakal itu! Jika dia berani membuat ibu kalian menangis langsung telepon uncle," ucap Riandra.
"Terimakasih Riandra! kami pulang dulu. Tolong jaga mami!" Evan memeluk Riandra sedikit agak lama membuat Riandra merasa pelukan Evan menjadi pelukannya yang terakhir untuknya.
"Aku senang saat aku mengetahui aku masih punya saudara kandung. Apa lagi kita adalah kembar. Harusnya aku sadar dan perlu menyelidiki jika kita benar-benar adalah saudara kembar. Tapi sudahlah, waktu yang telah membuktikan sendiri kalau kita kembar dan bonusnya aku bertemu dengan mami. Tolong jaga Yura! Jangan sakiti dia lagi, kalau kamu tidak mau aku merebutnya dia lagi darimu." Ancam Rindra diselingi candaan.
"Kamu tenang saja saudaraku. Suatu saat nanti Yura akan kembali kepadamu lagi. Aku akan mengembalikan apa yang pernah aku ambil." Ucap Evan membuat Riandra mengernyitkan dahinya masih bingung dengan ucapan Evan.
"Loe sakit jiwa ya Evan."
"Anggap saja begitu. Kalau gue waras, gue nggak akan ngomong begitu sama loe." Ucap Evan.
Mobil itu meluncur ke jalanan ibu kota menuju bandara di mana jet pribadi milik Evan sudah menunggu. Evan mengendong baby Noah dan Yura menggendong baby Neil. Setelah memastikan keadaan keluarga kecil itu aman, pesawat jet pribadi itu sudah melesak dengan cepat usai meninggalkan landasan pacu.
Beberapa bulan ini Evan membahagiakan keluarga kecilnya dengan mengajak anak istrinya berlibur ke manapun. Hingga pada akhirnya, Evan menyerah saat ia tiba-tiba pingsan. Yura begitu kaget melihat keadaan suaminya yang terlihat sangat pucat.
"Evannnn...!" Teriak Yura lalu memangku kepala suaminya sambil menangis." Yura. Waktunya sudah tiba sayang." Ucap Evan dengan terbata-bata.
"Kamu bicara apa Evan? Ada apa denganmu?" Air mata Yura makin tak terbendung.
Evan segera di bawa ke rumah sakit. Di sana sudah ada dokter yang selama ini memantau perkembangan kesehatan Evan. Walaupun pengobatan yang dijalankan Evan sudah tidak bisa menyelamatkan pria tampan ini lagi, namun mereka masih tetap berusaha.
"Dokter. Sebenarnya suami saya sakit apa dokter?" tanya Yura masih terisak.
"Apakah anda istrinya?"
"Iya dokter."
Dokter Robert menarik nafas panjang lalu menjelaskan apa yang saat diderita oleh Evan." Sebenarnya tuan Evan mengidap penyakit kanker otak stadium lanjut. Keadaannya sudah parah dan ia menolak untuk operasi.
Kata tuan Evan." Daripada mati di meja operasi, lebih baik menghabiskan sisa waktunya bersama dengan keluarganya terutama istriku. Aku sangat mencintai istriku Yura." Itu yang dikatakan tuan Evan dipertemuan kami yang terakhir beberapa bulan yang lalu." Ucap dokter Robert.
__ADS_1
Yura membekap mulutnya seakan tidak percaya dengan ucapan dokter. Ia baru membenarkan setiap ucapan suaminya yang selalu membahas kematian dengannya." Inikah yang sebenarnya Evan?"