
Evan menghampiri Yura yang sangat kesal dengan ibu mertuanya yang asal bicara tanpa meminta izin kepadanya.
"Pergi kamu dari sini! Kenapa juga menemuiku? bukankah kamu sudah menikah dengan Angel?"
"Aku merindukanmu. Aku dan Angel sudah bercerai. Surat kontrak perjanjian kami sudah habis dan dia tidak bisa memberi aku anak." Ucap Evan.
"Jadi kamu menganggap perempuan itu hanya tempat produksi anak? Jika tidak bisa memberikan kamu keturunan, maka kamu akan mendepaknya?"
"Tapi itu tidak berlaku untukmu. Buktinya selama ini aku mencarimu dan aku baru bisa menemukanmu saat aku tahu kamu berada di Jakarta." Ucap Evan dengan intonasi suara selembut mungkin untuk meluluhkan hati Yura.
"Jangan mimpi aku kembali kepadamu lagi. Aku ingin hidup sendiri dengan anak kembar ku. Aku bisa hidupi mereka tanpa dirimu."
"Tapi mereka anak-anakku juga. Aku berhak membesarkan mereka."
"Kamu bisa lakukan itu jika perceraian kita akan terjadi. Kamu bisa menemui mereka kapan saja kamu mau." Ucap Yura.
"Tidak mau. Aku mau membesarkan mereka bersama denganmu. Impian ku untuk memiliki anak sudah tercapai. Walaupun aku baru melihat kandungan mu saat ini."
"Bukankah kamu tadi menuduh aku berselingkuh dengan Riandra, dan menuduh bayiku ini adalah anaknya Riandra?" Sindir Yura sinis.
"Maafkan aku sayang! Aku terlalu cemburu pada Riandra hingga otakku korslet dan bicaraku kacau."
"Tetap menjauhiku. Aku tidak ingin kamu menyentuhku."
"Tapi kita masih suami istri Yura. Tidak ada yang melarang kita untuk saling berdekatan."
"Itu adalah hukuman ku untukmu karena berani mengkhianati ku."
"Tapi aku bisa menyentuh perut kamu bukan? Aku ingin merasakan pergerakan calon bayi kembarku."
"Tidak usah sok manis di depanku. Temui lah mami kamu! bukankah selama ini kamu sangat merindukannya?"
"Aku akan menemui mami kalau kamu sudah memaafkan aku, sayang."
"Tidak penting mendapatkan maaf dariku. Kamu harus minta maaf pada Riandra dan juga mami! Setelah itu baru temui aku."
"Berarti aku bisa tidur bersama dengan kamu malam ini?"
"Tidak akan!" Jawab Yura sengit lalu membanting pintu itu dengan kencang."
"Astaga...! Galak amat istriku lagi hamil."
__ADS_1
Evan mengelus dadanya sambil melangkah menemui ibunya yang masih asyik ngobrol dengan Riandra di taman.
"Mami...! Apakah Riandra terlalu istimewa hingga mami tega mengabaikan aku?" Evan terlihat ngambek saat ini melihat kemesraan ibu dan saudara kembarnya Riandra.
"Sini sayang!" Pinta nyonya Kelly mengajak putranya duduk di sampingnya.
"Riandra pamit pulang dulu ya mami."
"Tunggu Riandra! Mami ingin bicara dengan kalian berdua."
"Mami sudah banyak bicara denganku. Sekarang waktunya mami bicara dengan Evan." Ucap Riandra yang agak malas duduk bersama dengan Evan.
"Mama tahu saat ini kalian sedang memperebutkan Yura seperti piala Oscar saja. Kenapa kamu terjebak dengan satu wanita, hah?"
"Maaf mami! Yura sebenarnya milikku. Hanya saja Evan datang merampas milikku hingga Yura meninggalkan aku demi dirinya. Tapi sayang setelah aku lepaskan dengan berat hati, si kunyuk itu malah mengkhianatinya." Sarkas Riandra.
"Bukankah kamu duluan yang telah mengkhianati dirinya?" Balas Evan tidak mau kalah.
"Wajar kalau aku mengkhianatinya karena aku tidak punya cinta untuknya saat itu. Bagaimana denganmu? Hanya gara-gara ketidakhadiran anak membuat hatimu berpaling darinya. Siapa yang paling berengsek diantara kita?"
Keduanya saling mengatai satu sama lain tentang kekurangan mereka saat bersama dengan Yura begitu juga saling memamerkan kelebihan mereka.
"Apakah kalian mengira, kalian ini masih kecil?" Bentak nyonya Kelly membuat putra kembarnya itu terdiam tapi mata mereka saling beradu.
"Tapi mami, Evan yang duluan."
"Kalian tetap kalah karena tidak bisa merebut hati Yura. Dan mulai sekarang jangan coba-coba menganggu Yura sekalipun kamu adalah suaminya Evan."
"Tapi mami, bagaimana kalau Yura sakit perut dan ia mau....-" Ucapan Evan menggantung saat pelayan Yura datang tergopoh-gopoh memanggil mereka.
"Maaf mengganggu, Tuan, nyonya. Nona Yura berteriak kesakitan. Sepertinya dia mau melahirkan." Ucap pelayan itu panik.
"Apa...?" Ketiganya tersentak kaget.
Evan langsung melesat menemui istrinya. Riandra mencebik bibirnya sambil menyindir saudara kembarnya itu." Dasar camuk..!"
"Camuk bagaimana? Yura itu kan isterinya. Kamu hanya mantan terindahnya. Terimalah kekalahan kamu." Ucap nyonya Kelly dengan senyum meremehkan putranya.
"Ko mami malah ngatain aku?"
"Karena kamu jadi putraku terlalu bodoh."
__ADS_1
"Terus, Evan bukannya sama saja denganku?"
"Setidaknya dia mempertahankan miliknya dan tidak terhasut dengan amarahnya Yura."
"Sialan si kunyuk. Jadi aku deh yang kena semprot mami."
Tidak lama kemudian, Evan sudah berada di rumah sakit menemani Yura yang mau melakukan persalinan secara normal. Wajah cantik Yura terlihat pucat sambil menahan sakit diperutnya yang terus kontraksi.
"Baby..! Ko cepat banget lahirannya? Padahal aku belum mengunjungi bayi kembarku." Ucap Evan ditengah-tengah Yura sedang menantikan pembukaan yang belum mencapai sepuluh.
"Kenapa kamu masih saja egois saat aku sedang kesakitan seperti ini, hah..? Auhhghtt..!" Yura kembali meringis kesakitan.
Evan mengusap perut istrinya sambil meniup perut Yura." Kamu kira perutku makanan panas pakai ditiup segala?" Protes Yura antara kesal juga geli.
"Yah, sedikit mengurangi sakit kamu baby?"
"Uhhh...! Kenapa saat kamu punya anak otakmu malah jadi eror begini sih, Evan?" Gerutu Yura makin keki oleh ulah suaminya.
"Apa kamu mau di cium, beb?" Tanya Evan dengan sikap konyolnya.
"Hilang konsentrasi ku kalau kamu terus menganggu ku. Kalau nggak ada gunanya di sini, mending kamu keluar deh!" Usir Yura yang terlihat gregetan dengan sikap suaminya.
"Tidak mau sayang. Aku mau menemani kamu di sini."
"Bayimu nggak bakalan jadi keluar kalau kamu masih di sini."
"Berarti kita bisa bercinta lagi deh sayang supaya persalinan kamu lancar." Sahut Evan makin membuat Yura mengamuk.
"Evannnnnn....! Diammmm....!" huh..huh..!" Yura terlihat kelelahan menghadapi suaminya yang seperti kemasukkan jin.
"Kenapa suamiku jadi aneh seperti itu sejak menikahi si Angel. Apa jangan-jangan Angel telah mengguna-guna suamiku?" Gumam Yura bergidik sendiri.
Tidak lama kemudian kontraksi kembali terjadi. Yura merasa ketubannya sudah pecah. Dokter segera melihat jalur lahir Yura dan langsung mempersiapkan diri untuk membantu Yura melahirkan.
"Nona Yura. Ikuti instruksi dari saya dalam hitungan ketiga, anda harus mengejan."
"Iya dokter. Cepatlah dokter! pinggangku rasanya mau terlepas."
Evan menatap Yura dan dokter secara bergantian. Ia juga ikut mengejan saat Yura dipinta mengejan oleh dokter.
Tidak lama kemudian, kedua bayi kembar Yura lahir dengan perbedaan waktu lima menit. Tangis bayi kembar laki-laki itu membuat Evan menitikkan air mata haru.
__ADS_1
"Berarti kalian mau lahir tunggu Daddy datang, ya sayang?" Tanya Evan sambil mengelus kepala putra kembarnya yang sedang asyik menyusu pada Yura.