
Tiga bulan Yura berada di Indonesia dan menetap di rumah orangtuanya. Sementara putra kembarnya sudah masuk sekolah Paud agar si kembar bisa bersosialisasi dengan anak-anak seusianya.
Saat anak-anak berangkat sekolah, Riandra datang mendekati mantan istrinya itu untuk menyampaikan perasaannya. Yura yang belum mau membuka hati untuk Riandra membuat pria 33 tahun ini tidak menyerah.
"Apakah kamu tidak ingin memberikan putra kembarmu ayah untuk mereka?" tanya Riandra.
"Kamu bisa memberikan kasih sayang itu pada mereka tanpa harus menikahiku, Riandra," sungut Yura.
"Tapi aku mencintaimu Yura. Mana mungkin aku memberikan kasih sayangku itu hanya untuk si kembar. Aku ingin memberikan cintaku untukmu juga. Kalian bertiga satu paket yang harus aku miliki. Apa yang kamu takutkan dariku, Yura? apakah kamu tidak percaya aku sudah berubah?" tanya Riandra.
"Aku tidak ingin disakiti lagi, Riandra. Aku ingin fokus membesarkan anak kembarku sendiri dan aku rasa mereka tidak begitu membutuhkan seorang ayah," ucap Yura begitu kekeh mempertahankan prinsipnya.
"Aku akan terus mendatangimu Yura hingga hatimu luluh dan mau menerimaku," ucap Riandra lalu kembali ke perusahaannya.
Riandra yang cukup cerdik tidak mau berjuang sendiri. Ia mendatangi sekolah si kembar dan menjemput si kembar sebelum waktunya pulang sekolah. Gurunya si kembar yang sudah mengenal Riandra, memberitahukan si kembar tentang kedatangan paman mereka.
"Neil, Noah, paman kalian datang menjemput kalian," ucap ibu Renata.
"Berarti kamu boleh pulang Miss?" tanya Neil begitu semangat pada gurunya.
"Boleh," ujar Miss Renata.
Neil dan Noah saling menatap lalu tersenyum penuh makna pada missnya.
"Sepertinya paman kita butuh kita untuk mempererat hubungannya dengan mami kita. Ayo kita bantu paman sebelum pria lain datang menggoda mami kita," ujar Noah semangat.
Keduanya saling berangkulan menuju mobil paman mereka yang sudah menunggu." Selamat pagi paman!" sapa si kembar kompak.
"Pagi! jagoan paman!" Riandra melakukan tos pada keponakannya yang sangat jenius itu.
"Paman. Apakah paman belum bisa menaklukkan hati mami kami?" tanya Neil.
__ADS_1
"Begitulah. Mami kalian keras kepala kerena terlalu mencintai ayah kalian. Apakah kalian punya solusi agar paman bisa menikahi mami kalian secepatnya?" tanya Riandra.
"Kami mau menjawabnya tapi, kami mau paman membeli kami es krim dulu," pinta Neil penuh intrik.
"Kalian ini sangat perhitungan sekali pada paman," sungut Rindra.
"Harga es krim tidak sebanding dengan cinta mami yang akan paman dapatkan," balas Noah.
"Baiklah. Kita bicara di kedai es krim saja. Sekalian kalian makan siang di sana," ujar Riandra.
"Wah! tahu saja nih, keponakannya paman lapar. Tapi paman tidak sedang nyogok kamikan?" tanya Neil.
"Sudah kewajiban paman untuk menyenangkan kalian, ngapain juga pakai acara sogok. Memalukan!" gerutu Riandra.
"Kenapa paman kita jadi baper begini?" ledek Noah.
"Biasa Noah, kalau cinta ditolak biasanya dunia ikut runtuh," timpal Neil sambil ketawa cekikikan.
"Tentunya paman, sabar! kalau mau jadi ayah kami harus kudu sabar. Inilah efek tumbuh tanpa ayah, jadinya suka jail sama siapa aja. Termasuk paman sendiri," ucap Noah lalu menghembuskan nafasnya yang terasa berat.
Diusia mereka yang lagi butuh kasih sayang seorang ayah menjadikan pikiran mereka lebih dewasa karena melihat sang ibu yang tidak mau membuka hati pada pria manapun. Satu-satunya harapan mereka adalah paman Riandra yang mereka yakin akan membahagiakan ibu mereka.
Setibanya di kedai es krim, Riandra memesan empat cup besar es krim dengan varian rasa untuk masing-masing bocah ini.
Sambil memakan es krim mereka, Noah lebih dulu bicara untuk menyumbangkan ide mereka.
"Begini paman. Untuk membuat mami mencintai paman sebaiknya kita harus ambil resiko agak berat untuk membuat mami memutuskan menerima menikah dengan paman secepatnya," ucap Noah.
"Resiko apa Noah?'' tanya Riandra.
"Neil, lebih baik kamu yang jelaskan kepada paman karena itu adalah murni ide kamu semalam," ucap Noah.
__ADS_1
"Apa salahnya kalau kamu yang jelasin ke paman, kenapa harus aku sih?" omel Neil.
"Udah Cepatan! kasihanilah paman kita yang sudah cinta mati sama mami!" titah Noah..
"Begini paman. Paman harus bicara dengan dokter yang mengusai penyakit dalam agar paman pura-pura di vonis penyakit yang menyakitkan yang buat paman didiagnosa menderita kanker stadium lanjut. Dengan begitu, mami akan ketakutan dan dia akan menikahi paman sebagai permintaan terakhir paman," ucap Neil.
"Bagaimana kalau pada akhirnya, ketahuan oleh mami kalian, bukankah itu akan makin runyam?" tanya Riandra bingung.
"Mami sangat trauma dengan kehilangan. Jika satu-satunya yang mengobati rindunya mami dengan Daddy Evan hanyalah paman. Kalau resiko, ya semua usaha itu butuh resiko daripada tidak dapat sama sekali lebih baik ambil jalan pintas seperti itu paman. Kalau paman takut, yah kami menyerah," ucap Neil.
"Baiklah. Paman akan pertimbangkan ide gila kalian itu.. Terimakasih atas saran ekstrimnya. Semoga saja kita berhasil," ucap Riandra.
"Kalau gila karena cinta itu biasa paman. Kalau orang yang cinta nggak gila berarti cintanya hanya setengah hati. Bukankah cinta itu butuh sebuah pengorbanan?" tanya Noah.
"Iya sih. Terimakasih anak-anak. Paman bangga memiliki kalian. Paman sudah tidak sabar menjadi ayah kalian," imbuh Riandra.
"Ayah kami atau jadi suaminya mami kami?" ledek Noah membuat ketiganya terkekeh.
"Kalian ini bisa saja ya. Pintar banget godain orangtua," ucap Riandra gemas pada keponakannya itu.
"Semua saran yang baik ada imbalannya. Tidak ada gratis di dunia ini paman kecuali udara yang kita hirup setiap saat dan kasih sayang orangtua kepada anaknya tanpa syarat," ucap Neil mengulangi kata-kata ibunya.
"Kenapa kalian bisa mengatakan perkataan seperti itu?" tanya Riandra yang tidak percaya begitu saja pada balita yang berusia tiga setengah tahun ini.
"Itu murni bukan ucapan aku paman, tapi mami yang yang selalu menjelaskan bahwa setiap aia yang kita lakukan di dunia ini ada imbal baliknya. Tidak ada yang gratis di dunia ini kecuali udara dan kasih sayang orangtua," timpal Neil membuat Riandra hanya bisa menarik nafas panjang.
"Apakah kalian ingin mendapatkan kasih sayang yang utuh dari kedua orangtua?" tanya Riandra yang diangguki oleh si kembar.
"Apakah sangat sulit bagi mami untuk membuat kami mendapatkan kasih sayang dari paman juga sebagai pengganti ayah kami?" tanya Noah yang terlihat sendu.
"Tidak sayang. Paman akan berjuang untuk mendapatkan perhatian mami kalian sesuai apa yang barusan kalian sarankan kepada paman," ucap Riandra menyetujui ide cemerlang si kembar walaupun ia sangat takut akan mendapatkan murkanya Yura.
__ADS_1