Suami Samaran

Suami Samaran
7. Keputusan Yang Tepat


__ADS_3

Riandra makin getol memberikan perhatian pada istrinya Yura dengan menjemput gadis itu di sekolahnya. Mengetahui kedatangan suaminya, Yura sedikitpun tidak respek pada Riandra dan memilih membawa mobilnya sendiri membuat Riandra harus ekstra sabar mengikuti mobil istrinya hingga tiba di mansion milik mereka.


Yura juga tidak ingin sekamar dengan Riandra dan memilih tidur terpisah di kamar tamu membuat Riandra sulit untuk mendapatkan tubuh Yura yang sudah diincarnya beberapa hari ini.


"Sial...! Bagaimana caranya aku mendapatkan Yura, kalau gadis itu terus menerus menghindari aku." Umpat Riandra sambil menunggu Yura keluar dari kamarnya.


Sementara itu Yura sendiri meminta pelayannya untuk mengantarkan makan malamnya ke kamarnya. Saat dua orang pelayan membawa baki berisi makan malam milik Yura, Riandra mencegah pelayannya itu.


"Apakah makan malam itu untuk Istriku?" Tanya Riandra dengan wajah datarnya.


"A...iya Tuan! Nona Yura ingin makan di kamarnya." Sahut Pelayan Nining.


"Biar aku yang mengantarkan ke kamar Istriku." Pinta Riandra yang sudah merebut baki itu dari tangan pelayan Nining.


"Tapi Tuan, nanti nona Yura akan marah pada kami." Tolak Nining.


"Apakah aku memintamu memberi alasan?"


"Tidak ..! Maaf Tuan! Nining terpaksa melepaskan baki itu dengan berat hati karena tatapan Riandra seakan ingin menerkam tubuhnya.


Riandra dengan percaya dirinya memasuki kamar istrinya yang ternyata tidak di kunci. Sementara itu Yura yang sedang membersihkan tubuhnya di kamar mandi, tidak mengetahui kalau suaminya sudah berada di dalam kamarnya.


Yura keluar dari kamar mandi dengan jubah mandinya dengan handuk yang melilit kepalanya karena baru saja mandi keramas. Yura tersentak melihat Rindra yang sudah berbaring di tempat tidurnya membuat wajah gadis itu terlihat kelam.


Wangi tubuh Yura makin meningkatkan syahwat Riandra yang ingin sekali menyentuh istrinya. Yura terlihat sinis dan masuk ke kamar ganti lalu menguncinya dari dalam. Melihat wajah Riandra yang penuh naf$u melihatnya, membuatnya enggan untuk keluar kamar. Ia buru-buru memakai baju tidurnya dan duduk di ruang ganti itu sambil menahan lapar.

__ADS_1


"Dulu aku sangat menginginkan dirimu untuk menyentuh tubuhku. Namun setelah melihat dirimu mengkhianati aku, rasanya perasaanku mati melihatmu kini." Batin Yura.


Tidak lama terdengar ketukan dari luar membuat Yura terperanjat." Yura ...! Apakah kamu tidak ingin makan malam?" Tanya Riandra.


"Keluarlah dari kamarku! Aku tidak ingin makan kalau kamu masih ada di dalam kamarku." Sahut Yura dari ruang ganti.


"Apa yang kamu takutkan? Bukankah aku adalah suamimu? Aku masih berhak atas dirimu. Keluarlah atau aku akan menjebol pintu ini kalau kamu masih berdiam diri di dalam kamar sana." Riandra menendang itu dengan kasar membuat Yura tidak berani lagi untuk melawan suaminya.


Ia akhirnya keluar dari kamar ganti namun terlihat berjalan dengan tenang tanpa memperlihatkan kelemahannya di depan Riandra. Sumpah demi apapun ia sangat takut dengan keadaan ini. Tampang Riandra kembali lagi ke mode pabrik yang arogan tapi kini lebih terlihat seperti iblis yang sedang kelaparan akan tubuhnya.


"Makan...! Atau kau ingin aku yang menyuapi mu?" Tawar Riandra dengan penuh intimidasi.


Yura tetap tenang lalu mulai makan dengan ritme biasa walaupun ia tidak dapat menikmati makan malamnya dengan tenang. Beberapa kali ia harus tersedak karena melawan rasa gugupnya. Riandra dengan sabar menunggu istrinya menyelesaikan makan malamnya.


"Apakah kamu sudah kenyang?"


"Sekarang, tanggalkan bajumu!" Titah Riandra tanpa basa basi.


"Tidak...! Aku tidak mau tidur denganmu." Tolak Yura sambil menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Baik. Kalau begitu aku yang akan membukanya." Riandra menghampiri Yura yang sudah ketakutan setengah mati dengan tubuh gemetar lagi pucat seakan sedang berhadapan dengan pemerkosa.


"Jangan...! Aku mohon Riandra! Ambil apapun yang kamu inginkan, asal jangan menyentuhku...! Pinta Yura sambil mengatupkan kedua tangannya.


Tangisan Yura dengan permintaannya itu tidak menyurutkan gairah Riandra yang tidak lagi di tunda. Sekali tarikan baju tidur Yura hingga terlepas kancing baju tidurnya itu yang stelan atas bawahan celana panjang.

__ADS_1


Dalam sekejap tubuh Yura hanya mengenakan bera dan C.D yang menutupi bagian keramatnya. Yura segera masuk ke dalam selimut. Ia terus saja menangis dan memohon untuk tidak disentuh oleh Riandra.


"Bukankah dari dulu kamu menginginkan diriku? Kenapa sekarang kamu malah ketakutan seperti itu? Aku biasa menjadi suami yang baik untukmu Yura. Ayo sayang, mari kita bercinta. Aku belum merasakan malam pengantin denganmu.


"Saat ini aku sedang menstruasi. Tolong jauhi aku." Pinta Yura yang baru merasakan ada cairan kental yang keluar dari bagian intinya.


Riandra tidak percaya begitu saja ia tetap memaksa Yura menarik kain penutup yang tersisa di badan istri. Akhirnya Riandra bisa menatap bukit kembar milik Yura yang begitu padat, besar dan sangat indah menantang dirinya untuk menyentuh.


Tapi saat ia mendekati istrinya, darah menstruasi seketika makin deras mengalir membuat Yura panik dan segera masuk ke kamar mandi.


Riandra harus menahan kekecewaannya karena tidak bisa menyentuh istrinya. Ia segera meninggalkan kamar Yura dengan perasaan frustasi.


Sang junior yang sudah membengkak di bawah sana harus ia tenangkan sendiri dengan tangannya untuk bisa melepaskan syahwatnya yang sudah membuncah sejak tadi. Hingga akhirnya, cairan kental itu terbuang sia-sia namun mampu membuat tubuhnya terasa lega.


Riandra segera menyiram tubuhnya dengan air dingin dibawah shower. Bayangan tubuh indah istrinya yang sangat menggiurkannya menghantui dirinya kini.


Rasa menyesal tidak mampu ia bendung karena selama ini sudah mengabaikan istrinya yang sangat berharga itu demi keangkuhan hatinya.


Saat ia menginginkan segalanya, justru Yura tidak lagi menginginkan dirinya. " Apakah Yura memiliki cinta lain dalam hidupnya? Siapakah pria itu yang sanggup mengurung hati Yura hingga bisa membuat istriku berpaling dariku?"


Rasa penasaran Riandra yang belum mengetahui jika ada seseorang yang mirip dengannya telah menggantikan tempatnya bukan hanya di perusahaan saja tapi juga sudah mengusai hati Yura walaupun Yura dan Evan belum pernah melakukan hubungan terlarang karena Yura masih menjaga kesucian pernikahannya.


Sementara di dalam kamar Yura gadis ini menangis sesenggukan dan ingin kabur dari rumahnya karena tidak sanggup tinggal bersama suaminya yang kekeh tidak ingin menceraikan dirinya. Di tambah lagi, nomor ponsel Evan yang sudah tidak bisa lagi ia hubungi melengkapi penderitaannya kini.


Walaupun begitu Yura masih mencintai lelaki yang pernah membuat ia jatuh cinta sesungguhnya. Ia tetap berharap suatu hari nanti Evan akan membawanya pergi dan menikahi dirinya. Yura sudah memakai pembalut wanita dengan mengganti baju tidurnya yang baru. Ia berusaha memejamkan matanya sambil membayangkan wajah Evan dalam benaknya.

__ADS_1


"Datanglah ke dalam mimpiku, Evan! Aku sangat merindukan dirimu." Lirih Yura dengan sisa air mata di pelupuk matanya.


__ADS_2