
Yura menghamburkan tubuhnya ke dalam pelukan suaminya. Hatinya terus menjerit agar suaminya tidak dipanggil Tuhan saat ini. Evan mengerjapkan matanya saat merasakan beban di atas dadanya." Baby!" gumam Evan lirih.
Yura mengangkat wajahnya menatap wajah tampan suaminya yang terlihat sangat pucat." Apakah aku tidak boleh mengetahui keadaanmu sebenarnya? apakah kamu tidak menganggap aku istrimu lagi, hah?"
"Saat itu kamu sedang hamil lalu melahirkan. Aku tidak ingin membuatmu sedih saat bayi kembar kita sangat membutuhkan kasih sayang ibunya. Apa lagi kamu masih menyusui mereka."
"Jika kamu tidak tega padaku karena aku akan kepikiran, lantas kenapa kamu selalu menyinggung kematian padaku?"
"Untuk mempersiapkan mentalmu agar saat aku mati, hatimu tidak begitu merasakan kehilangan ku." Ucap Evan membuat Yura makin meraung.
"Maafkan aku Evan. Tolong jangan tinggalkan kami. Bayi kita membutuhkan kamu. Aku tidak bisa membesarkan mereka tanpa kamu di sisiku. Lawanlah penyakitmu. Apakah kamu tidak bisa berjuang untuk kami. Aku akan membencimu kalau kamu sampai menyerah." Ucap Yura.
"Aku sudah melakukan berbagai cara untuk bisa sembuh dengan pengobatan di negara manapun, tapi tetap saja tidak bisa, kecuali aku harus menjalani operasi. Aku mencoba mengulur waktu operasiku agar aku bisa menghabiskan waktuku dengan mu dan anak kembar kita. Aku sangat takut, jika aku buru-buru terima saran dokter untuk operasi justru aku akan mati di meja operasi sementara aku belum puas membahagiakan keluarga kecilku" ungkap Evan membuat Yura makin di kanda rasa bersalah. Ia begitu memikirkan egonya dengan angkuh hati sementara suaminya sangat mengharapkan dukungan darinya.
"Ya Tuhan. Ampuni aku karena aku belum bisa menjadi istri yang baik untuk suamiku." Batin Yura.
"Evan!"
"Iya sayang."
"Beri aku kesempatan untuk membahagiakanmu."
"Tentu saja, karena itu yang aku inginkan darimu."
"Apa yang kamu inginkan dariku Evan?"
__ADS_1
"Bercinta denganmu setiap waktu. Aku sangat merindukanmu Yura. Setidaknya, jika aku mati, aku membawa kebahagiaan di dadaku karena istriku selalu mencintai ku." Ucap Evan dengan air mata yang sudah mengalir di kedua sudut matanya."
"Evan."
"Hmm."
"Apakah saat kamu meninggalkan aku nanti, aku bisa tersenyum pada dunia?"
"Tetaplah tersenyum, sayang! Kamu pantas bahagia Yura. Masih banyak orang yang menyukaimu. Mereka bisa membahagiakan mu."
"Tidak. Jangan bicara seperti itu! Aku hanya menginginkan mu, Evan." Mata Yura kembali berair. Bahkan tenggorokannya rasanya tercekat untuk mengeluarkan suara.
Sejuta rasa kesedihan yang ia punya untuk suaminya karena pergi begitu saja dari hidup Evan tanpa ingin mengetahui bagaimana keadaan suaminya hanya karena sakit hatinya.
"Cintamu selalu sempurna Evan. Aku yang terlalu egois. Sok idealis. Aku menyesal Evan. Aku sangat takut....hiks...hiks ...! Kenapa kebahagiaan yang baru aku raih seakan tak pernah kuat bertahan untuk bisa ku naungi? kenapa Evan? Kesalahan ku di mana?" Protes Yura bertubi-tubi.
"Jangan pernah salahkan takdir, hanya karena kamu ingin kehidupanmu mengendap lama dengan kebahagiaan yang kamu inginkan. Cinta sejati yang kita miliki tidak pernah ada di dalam kebahagiaan itu. Justru cinta sejati itu datang saat setiap kali badai kehidupan yang menerpa mu setiap saat." Balas Evan.
Evan memeluk kekasihnya. Ia juga menyesal telah membuat Yura menderita hanya karena ambisinya yang ingin memiliki keturunan sendiri tanpa ingin memberikan kesempatan pada Yura untuk menunjukkan eksistensinya sebagai istrinya.
...---------------- ...
Evan mencoba menjalani kemoterapi setiap 3 kali seminggu untuk bisa membuat dirinya bertahan hidup, walaupun ia tahu hasilnya pasti nihil. Berusaha itu lebih baik bukan? dan doa adalah hasil akhir sebagai jawabannya. Penyakit mematikan apapun semuanya datang dari Tuhan, jadi kekuatan doa adalah terapi yang sangat dibutuhkan dalam setiap ikhtiar kita lakukan. Itu yang ada di dalam pikiran Evan dan Yura saat ini.
Yura menghubungi ibu mertuanya yang ada di Indonesia. Ia menyampaikan tentang penyakit yang diderita Evan saat ini. Walaupun ia tahu, nyonya Kelly pasti sangat syok mendengar ini semua bahwa dia tetap akan kehilangan satu putranya.
__ADS_1
"Apa Yura? kenapa Evan tidak menceritakan kepada mami saat dia berada di Jakarta, Yura?"
"Ia tidak mau membuat kita sedih dengan penyakitnya dan ia juga tidak mau kita mencintainya karena rasa iba." Ucap Yura sambil terisak.
"Dasar anak kurangajar! Apakah dia tidak tahu apa, kalau aku sudah berjuang sekuat tenaga untuk membawanya ke dunia ini agar menemani aku sampai hari tuaku? kenapa sekarang dia mau pergi meninggalkan aku begitu saja sebelum aku yang akan meninggalkannya?" Ucap Nyonya Kelly yang saat ini juga merasa bersalah karena ia tega meninggalkan Evan sejak kecil hanya untuk menghabiskan waktunya mencari putranya hilang.
"Aku mendapatkan lagi satu putraku setelah sekian lama terpisah dariku. Tapi, aku harus kembali kehilangan satu putraku dan kali ini untuk selamanya. Apa salahku Tuhan?" Tangis nyonya Kelly pecah membuat Riandra yang baru pulang kerja sangat heran mendapati ibunya yang sedang menangis.
"Mami. Kenapa mami tiba-tiba menangis?" panik Riandra saat melihat ibunya menangis histeris.
"Evan, Riandra.... hiks...hiks .hiks."
"Emangnya ada apa dengan Evan, mami?"
"Hidup Evan tidak lama lagi karena saat ini Evan sedang menderita kanker otak stadium lanjut, Riandra." Ucap nyonya Kelly membuat jantung Riandra seakan berhenti sesaat.
Duarrrr ...
"Tidak. Itu tidak mungkin mami. Evan sedang mengerjai kita. Dia hanya mencari perhatian kepada kita. Aku tidak percaya mami." Bantah Riandra sambil menggelengkan kepalanya tegas.
"Bicaralah sendiri dengan Yura. Saat ini mereka sedang berada di rumah sakit." Ucap nyonya Kelly.
"Tidak. Aku tidak mau mendengarnya." Riandra berlari masuk ke kamarnya.
Ia tidak bisa memperlihatkan kesedihan di hadapan ibunya. Ia ingin menangis sendirian di kamarnya." Bro! Kita baru saja bertemu dan kita baru mengetahui bahwa kita adalah saudara kembar. Tapi mengapa kamu malah mau meninggalkan aku lagi, bro? padahal aku sudah senang aku punya saudara di dunia ini. Aku punya ibu. Aku punya keluarga. Apa lagi kamu memberikan aku keponakan yang lucu-lucu. Masa kamu harus pergi lagi dari hidupku, Evan?" Tangis Riandra terdengar lirih di dalam kamarnya.
__ADS_1